Corona Virus

Apakah Lock Down Sudah Diperlukan untuk Menghentikan Covid-19?

Posted on

APAKAH LOCK DOWN SUDAH DIPERLUKAN UNTUK MENHENTIKAN WABAH COVID-19?

Ass wr wb. Hari ini saya diwawancari oleh seorang wartawan media cetak tentang perlu tidaknya lock down untuk menghentikan covid-19. Berikut saya share pandangan saya tentang perlu atau tidaknya lock down.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Sudah atau belum diperlukannya lock down atau karantina wilayah mengacu pada undang-undang no 6 tahun 2018, sangat tergantung bagaimana pengambil keputusan/ presiden melihat dan memaknai ukuran-ukuran yang berkembang sangat dinamis terkait laju kejadian covid-19 dan implikasinya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Tentunya hanya Bpk presiden yang tahu.

Pasti tidak mudah memang untuk mengambil keputusan tersebut.
Yang jelas lock down itu belum perlu dilakukan jika:
1. Jumlah kasus baru itu stabil dan ada kecenderungan terus menurun.
2. Semua orang yang terinfeksi covid-19 bisa terdeteksi dan segera bisa diisolasi sèhingga tidak terus menularkan kepada orang lain yg masih sehat
3. Orang-orang yang terkontaminasi dengan penderita dan berpotensi menjadi sumber penularan (source of transmission) itu bisa terus dipantau pergerakannya secara efektif melalui contact tracing, dan bersedia melakukan karantina mandiri (self quarantine).

Tetapi hari ini kondisinya berbeda dengan 3 hal/ ukuran diatas. Kasus covid-19 terus naik sangat tajam dan kenaikannya dalam 3 hari terakhir sudah mulai eksponensial, dan beberapa kota seperti Jabodetabek, Surabaya, dan Semarang sudah menjadi episentrum baru bagi COVID-19.

System surveillan kita sekarang ini belum bisa melakukan deteksi dini lebih masif terhadap orang-orang yg sebenarnya mungkin sudah terinfeksi bahkan sudah ada tanda-tanda ataupun gejala (symptom) covid-19. Karena sistem surveillan kita hari ini masih cenderung pasif (menunggu yang datang atau dirujuk ke rumah sakit) dan juga karena keterbatasan fasilitas laboratorium untuk memastikan positif atau negatif covid-19, maka ada kemungkinan bahwa jumlah kasus positif COVID-19 yang sesungguhnya jauh lebih besar dari yang sekarang sudah dilaporkan. Jadi seperti halnya gambaran puncak gunung es, yang terlihat hanya sedikit di puncak, tetapi yg tidak tampak sesungguhnya lebih banyak lagi. Apakah kita yakin bahwa semua orang yang punya riwayat kontak dengan penderita dan semua orang yang punya risiko tinggi terjangkit covid-19 misalnya karena punya riwayat perjalanan keluar negeri ke negara-negara dg positif covid-19, atau riwayat perjalanan dari kota-kota episentrum Covid-19 di Indonesia dengan kesadaran sendiri datang memeriksakan diri (volunterely) ke rumah sakit atau ke laboratorium? Sepertinya hal ini masih sulit diyakini.

Baca Juga >  Idul Fitri, Momentum Saling Membahagiakan dan Mempererat Persaudaraan

Maknanya pemerintah dan bangsa Indonesia perlu hati-hati sekali dan harus sangat waspada melihat fenomena ini, jangan kaget jika kasus baru covid-19 terus meningkat ekponensial. Tidak boleh lengah dan sekaligus menuntut semua pihak dan seluruh komponen masyarakat lebih waspada dan terus mengantisipasi kemungkinan keadaan yang lebih buruk termasuk diantaranya jika mengharuskan memilih jalan lock down.

Jika kasus baru terus meningkat secara eksponensial, sedangkan system surveilan yang ada dan aksi-aksi normatif yang sudah kita laksanakan selama ini tidak mampu lagi menghentikan penyebaran covid-19 yang terus bertambah masif, mungkin lock down harus menjadi alternatif yang harus segera diambil meski jumlah kasus belum mencapai ribuan. Jangan menunggu kasusnya ribuan dan jumlah korban terus berjatuhan. Karena keterlambatan pengambilan keputusan dapat menimbulkan kerugian negara yang jauh lebih besar, tragedi kemanusiaan, dan dapat menimbulkan penderitaan rakyat yang sangat serius dan tidak bisa tergantikan. Keputusan ini seperti yang diambil oleh pemerintah Philipina dan Malaysia. Lockdown terbukti efektif menurunkan laju COVID-19 di Wuhan, sebelum hari ke 14 diberlakukan lock down jumlah kasus baru COVID-19 per-hari mulai turun signifikan.

Philipina memutuskan lock down pada tg 12 Maret 2020 ketika jumlah kasus Covid-19 mencapai 142 orang, dan 12 korban meninggal. Malaysia sudah mengumumkan mengambil langkah lock down pada 18 Maret 2020 ketika jumlah kasus mencapai 553 orang (belum mencapai ribuan). Data terakhir di Indonesia menunjukkan 227 orang positif COVID-19, dan 19 orang diantaranya meninggal dunia.

Untuk Indonesia, dengan pertimbangan geografis yang luas dan berkepulauan serta satu sama lain kondisinya berbeda, lock down atau karantina wilayah mungkin tidak harus diberlakukan di seluruh propinsi di Indonesia, tetapi bisa dibatasi pada kota atau propinsi yang benar-benar sudah menjadi episentrum COVID-19.

Masyarakat juga harus diedukasi dari sekarang agar lebih siap jika memang lock down itu harus diambil. Lock down harus dipahami masyarakat sebagai salah satu instrument yang jika kondisinya menghendaki maka pemerintah harus cepat mengambilnya.

Saya terkesan dengan Presiden Perancis yang tegar pada waktu mengambil keputusan lock down lalu berkata “untuk kesehatan rakyatku dan demi negara Perancis yang kita cintai saya tidak punya rasa sungkan dan canggung untuk mengambil keputusan ini (lock down)”.

Mudah-mudahan bermanfaat. Aamien

Penulis: Prof Hamam Hadi, Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta.