khilma anis suhita

Ini Rahasia Hebatnya Novelis Khilma Anis “Suhita” dari Jember

Posted on

Setidaknya ada lima hal yang bisa saya garisbawahi sebagai hasil dari mengikuti kegiatan Mantai (Mengaji Santai) hari Ahad, 19 Mei 2019 kemarin bersama Penulis Novel Best Seller “Hati Suhita” Ning Khilma Anis di Masjid Baitul Amien Jember, dengan tema “Muslimah Menginspirasi Indonesia; Mendunia Bermodal Pena”.

Pertama, sebelum jadi penulis, jadilah pembaca yang baik, agar tulisan yang dihasilkan bisa berbobot.

Kebetulan Ning Khilma ini merupakan seorang pembaca berat. Untuk menghasilkan sebuah novel, ia harus “bertapa” terlebih dahulu sekian lama untuk melahap buku-buku yang akan digunakan sebagai bahan dalam novelnya, termasuk Hati Suhita. Karena beliau bukan tipe penulis yang asal nulis saja.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“Sejak menulis tahun 2005 sampai sekarang, saya baru punya 3 novel. Karna memang saya tidak bisa asal nulis begitu saja. Kalau mau, saya sudah meneruskan Hati Suhita ini menjadi sequel yang berjilid-jilid karena mumpung sedang tenar kan ya. Apalagi sudah banyak permintaan dari pembaca untuk meneruskan. Tapi saya tidak bisa seperti itu. Saya senang menulisnya hanya sekali, tapi bukunya tercetak beberapa kali,” ceritanya dengan penuh semangat di hadapan hadirin.

Nah, saat membaca itulah beliau akan mencatat garis besar yang sekiranya akan dijadikan bahan dalam menulis. “Kalau pas menulis, mungkin masih bisa lah saya diganggu. Tapi ketika saya membaca, saya harus benar-benar ‘ndekem’ di kamar dan tidak bisa diganggu,” tegas beliau.

Kedua, libatkan pembaca dalam setiap tulisan.

Kenapa Novel Hati Suhita bisa menjadi sangat-sangat dirindukan dalam setiap episodenya? Karena memang penulis sudah berhasil merebut hati pembaca. Penulis benar-benar telah menyatu dengan pembaca. Penulis menulis atas permintaan pembaca. Maka tak heran jika banyak yang berasumsi ‘oh cerita ini mirip denganku’, karena memang seperti nyata adanya setiap karakter dan alur yang diceritakan oleh Ning Khilma.

“Saya ini selalu melibatkan pembaca dalam setiap tulisan. Dulu, saat saya masih di pondok, sering itu teman-teman meminta saya menuliskan cerita untuk mereka. Kalau sekarang itu ya semacam cerbung lah kalau di status Fesbuk. Kalau dulu ya nulis tangan. Jadi ya saya nulisnya atas permintaan mereka,” kenang Ning Khilma.

Ketiga, harus ada dukungan baik moril maupun materiil dari orang-orang terdekat.

Ini yang sangat penting, karna tidak mungkin Ning Khilma bisa fokus menulis novelnya tanpa dukungan dari orang-orang terdekat beliau, seperti suami, orangtua, dan anak-anak. “Suami saya sering mengatakan, bunda itu terlihat lebih bersinar saat menulis daripada saat memasak,” beliau mencontohkan ‘gombalan’ yang diberikan suaminya untuk memberikan semangat dalam menulis.

“Kok ndilalah, anak-anak saya itu juga ndak pernah mengganggu saya atau rewel jika saya sudah di depan laptop. Mungkin sudah paham bahwa bundanya ini kerjanya ya di depan laptop,” lanjut Ning Khilma.

Ning Khilma juga tak segan-segan untuk mendatangi Perpustakaan yang mengoleksi buku-buku kuno yang sangat langka dan tidak diperjualbelikan. Kebetulan pernah saat beliau sedang mencari referensi kuno dan itu hanya ada di perpustakaan UNY dan tidak boleh dipinjam. Hanya boleh dibaca di tempat dan difotocopy disana dengan harga Rp. 2.000 per lembar. “Bisa dibayangkan untuk mendapat 1 buku saya harus mengeluarkan uang sampai 2 juta. Untungnya saat itu abah selalu mendukung anaknya,” kenang Ning Khilma.

Baca Juga >  Punya 10 Anak, Perempuan HTI Ini Minta Gugat Cerai Suami

Ning Khilma juga menambahkan cerita, bahkan saat masih menjadi pengurus majalah pondok, bu nyai sangat sangat mendukung dan siap mengeluarkan biaya berapapun untuk melahirkan majalah. Menurutnya, hal itulah yang sangat penting demi keberlangsungan proses.

Keempat, untuk mendidik anak kita agar gemar membaca, harus disediakan lingkungan yang mendukung dan kita (orangtua) harus menjadi contoh.

Ini yang harus dipahami oleh para orangtua. Artinya, tidak bisa orangtua hanya menuntut ini itu pada anak tanpa memberi contoh yang nyata. Yang benar, hadirkanlah contoh yang nyata, maka secara tidak langsung anak akan merekamnya dalam memori dan kelak akan mencontohnya. Misalnya, bisa dengan menghadirkan semacam perpustakaan mini di rumah yang menyediakan berbagai macam buku bacaan sesuai umur anak kita. Kita sebagai orangtua juga harus siap memberi contoh. Jangan sampai itu kita menuntut anak kita untuk rajin membaca buku, sedangkan kita (ortu) hanya sibuk membaca status fesbuk dan WA, misalnya sepeti itu. Urai Ning Khilma panjang lebar.

Kelima, jika mengalami kebuntuan saat menulis, berhentilah sejenak, baru lanjutkan kembali setelah mendapat penyegaran.

Menurut Ning Khilma, sangat wajar jika penulis mengalami kebuntuan saat proses menulis. Termasuk saat menulis Hati Suhita, beliau juga sempat mengalami kebuntuan ide. Lalu apa yang harus dilakukan saat itu terjadi? Ya silahkan berhenti sejenak, lakukan apa yang bisa membuat senang dan segar kembali. Misalnya, makan, nonton film, jalan-jalan, dan diskusi untuk mendapatkan masukan-masukan dan penyegaran ide dari teman-teman sejawat. Setelah merasa segar kembali, baru silahkan dilanjutkan menulisnya.

khilma anis

“Justru terkadang, setelah mengalami kebuntuan, lalu segar kembali, itu adalah masa keemasan untuk mendapatkan ide. Jadi jangan sampai memaksakan diri untuk melanjutkan menulis jika sedang mengalami kebuntuan, karna itu akan berimbas pada tulisan. Lebih baik istirahat sejenak lalu mendapatkan masa keemasan daripada memaksa, akan tetapi hasil tidak bisa maksimal,” ujar Ning Khilma.

Demikian sekelumit catatan hasil dari belajar secara singkat tentang proses menulis dari Ning Khilma tadi pagi. Nuwunsewu nggeh Ning, sengaja saya tulis di wall FB ini untuk berbagi dengan teman-teman dan juga pengingat bagi saya pribadi. Mohon koreksinya jika memang ada yang kurang tepat, karna tadi nyimaknya sambil gendong bayi. Hehehe 😅🙏

Jember, 20 Mei 2019

Penulis: Dwi Khoirotun Nisa, Bojonegoro.