gus mus

Amplop Simbah Kakung

Posted on

Simbah Kakung Ahmad Mustofa Bisri, saya sampai brebes mili (terharu) membacanya. Ingin sekali saya memiliki hati yang luas seperti panjenengan.

Dulu, ketika pertama kali saya mendapat undangan mantu dari panjenenengan, kondisi ekonomi saya sedang di titik yang parah. Saya dan istri memaksakan berangkat dengan hanya bekal satu kali perjalanan (hanya cukup untuk ongkos bis umum sampai Rembang). Tidak ada uang lagi untuk ongkos kembali, dan kami hanya berdoa, semoga di Rembang nanti ada rombongan dari Yogya, sehingga kami bisa ikut numpang pulang. Kami berangkat jam 9 pagi, dengan berganti-ganti bis, akhirnya sampai Rembang selepas maghrib. Alhamdulillah, di sana kami bertemu dengan rombongan dari Solo, dan diperbolehkan ikut menumpang sampai Solo.

Usai acara, saya dan istri pamit pulang. Saat sudah di mobil bersama rombongan dari Solo itulah, seseorang berlari mengejar mobil yang saya tumpangi. Seseorang itu, mencari saya, dan menyerahkan amplop, “ini titipan dari Abah,” katanya. Ya Allah. Saya menerimanya dengan takjub. Sebuah amplop cukup tebal, yang ketika saya buka di Stasiun Solo Balapan (saya diturunkan di stasiun kereta Solo, untuk melanjutkan perjalanan ke Yogya), sempat membuat kami menangis.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Saya bisa membeli tiket kereta. Saya bisa membeli sarapan soto. Saya bisa membeli oleh-oleh khas Solo. Dan sisanya, dua juta lebih, bisa untuk hidup di Yogya selama dua bulan.

Baca Juga >  Menikmati Tawaran Menarik Gus Miek kepada Gus Dur

Saya tidak membawa apa-apa ketika datang ke Rembang. Saya tidak membawa amplop sebagaimana lazimnya ketika seseorang menghadiri pernikahan (meskipun di sana ternyata panjenengan tidak memperbolehkan para undangan untuk memberi amplop). Saya hanya datang membawa badan, serta kebahagiaan bisa hadir memenuhi undangan. Sama sekali tidak terbayangkan sedikit pun, bahwa ketika pulang justru sayalah yang diberi amplop.

Penulis: Joni Ariadinata.