Doa Penangkal Virus Corona Ijazah dari Gus Mus.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga kita semua dilindungi oleh Allah, selamat, sehat wal afiat lahir dan batin.
Waba’du; menghadapi Covid-19, ikhtiar lahir sudah dilakukan secara massal (dan bahkan mirip ‘kepanikan umum’). Tapi, sebagai hamba-hamba beriman, kita tidak boleh melupakan ikhtiar batin, mendekat serta memohon kepada Tuhan kita dan Tuhannya segala virus.
Kita –yang beragama Islam– bisa misalnya:
1. Menyempurnakan wudhu kita,
2. Membaca بسم الله لا يضر مع اسمه شئ في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم، _BismiLlãhi lã yadhurru ma’asmiHi syai-un fil ardhi walã fissamã-i waHua s-Samii’ul ‘Aliim_, setiap habis Subuh dan Maghrib; juga jika mau keluar rumah.
3. Wiridkan asma Allah *يا سلام*، _yã Salãm_; *يا حفيظ*، _yã Hafiizh_, dan *يا مانع يا ضآر*، _yã Mãni’u yã Dhãrru_. Masing-masing minimal 20x setiap habis salat.
4. Baca shalawat Nabi SAW yang kita sukai/hafal setiap mulut nganggur; dan
5. Berdoa: اللهم إنا نسألك العفو والعافية والمعافاة الدائمة في الدين والدنيا والآخرة، _Allahumma innã nas’aluKa al-‘afwa wal-‘ãfiata wal mu’ãfata fiddiini waddunyã wal ãkhirah._
Demikian Doa Penangkal Virus Corona Ijazah dari Gus Mus
Wawallãhu Musta’ãn.
Senin, 16 Maret 2020.
KH Ahmad Mustofa Bisri, Pengasuh Pesantren Raudlut Thalibin, Leteh Rembang dan juga Mustasyar PBNU.
Sebagai tambahan kami sertakan pula
Doa Li Khomsatun dan Titik Ba’ Karya Sayyidina Ali
لي خمسة اطفي بها حر الوباء الحاطمة
المصطفى و المرتضى و ابناهما و فاطمة
Hasan dan Husain (ابناهما) adalah anak biologis ‘Ali bin Abi Tholib karramallahu wajhahu. Titik Ba’ adalah “anak ideologis” al-Murtadho, menantu dan murid utama al-Mushthofa.
Kebetulan, malam ini saya menemukan “li khomsatun”, doa tawassul yang diijazahkan oleh Hadhratusy-syaikh Hasyim Asy’ari kepada Kyai Romli Rejoso, Kyai A Wahab Chasbullah Tambakberas dan Kyai Bisri Denanyar. Itu doa untuk menghadapi masa pandemik (pageblug).
Masa kecil saya bangkit. Ya, sayup-sayup terdengar suara masa lalu. Saya tidak dapat memastikan, tapi rasanya kalimat itu tidak asing.
Sahabat,
Salah satu hal yang berat untuk menyampaikan Titik Ba adalah bagaimana sedapat mungkin mengurangi prasangka dan tanggapan buruk dari masyarakat. Harus saya akui, bahwa banyak ucapan dari “al-murtadho” ‘Ali bin Abi Tholib yang turut membentuk pemahaman saya tentang Titik Ba.
Namun, sebagian muslim sunni cenderung bereaksi negatif hanya karena sebuah kalimat diucapkan oleh peletak dasar ilmu nahwu tersebut. Abu al-Aswad ad-Duali merumuskan ilmu nahwu adalah atas bimbingan beliau.
Apa salahnya saya mengutip ‘Ali bin Abi Tholib, padahal begitu sering saya mengutip Albert Einstein dan Yuval Noah Harari? Saya sempat berdebat di sebuah WA Group, karena salah satu anggota tidak sepakat kutipan ‘Ali bin Abu Tholib: “انا النقطة التي تحت الباء في اول البسملة”
Kebetulan, tepat pada kajian Titik Ba nanti malam (live di Facebook) saya berencana membahas kutipan ‘Ali bin Abi Tholib. Saya sempat maju-mundur, sampai kebetulan baru saja menemukan “Li Khomsatun”.
Tema di luar “keagamaan” relatif lebih damai. Berbincang tentang sejarah, filsafat, logika, matematika, fisika dan sebagainya relatif lebih mudah. Maksud saya, jika salah ucap terkait urusan non-agama, tidak ada lontaran cap kafir. Beda dengan bicara agama, darah cepat menggelak. Urat leher menegang. “Ini tentang kebenaran!”
Titik Ba: segalanya satu, utuh tak terbagi dan sejatinya tidak ada.
2 April 2020
Penulis: Ahmad Thoha Faz, Tegal.
Baca juga berbagai doa sehari hari lainnya. Baca di sini








