Bangkitmedia.com, YOGYA – Menjelang akhir Ramadhan, Aliansi Santri Peduli Indonesia (ASPI) Yogyakarta berbagi takjil dan sholawat, di titik Nol Km Yogyakarta, Selasa 25 Maret 2025 sore. Pada kesempatan ini sebanyak 500 bungkus takjilan dibagikan kepada para pengguna jalan. Pembagian dilakukan oleh 35 orang santri.
“Sebanyak 500 bungkus takjilan dibagikan sambil bersholawat tanpa orasi. 15 menit langsung habis,” tutur KH Beni Susanto, pengurus Syuriah PWNU DIY yang menyertai kegiatan ini.
Dodik Agung Setiyo (Koordinator ASPI Yogyakarta) menjelaskan, kegiatan ini dimaksudkan untuk terus menumbuhkan spirit optimisme, perjuangan dan cinta tanah air (hubbul wathon).
Dodik berpendapat, Pilihan diksi Indonesia Gelap (dzulmatun) yang digagas elemen mahasiswa dan diteruskan dengan aksi massa di beberapa kota besar seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan Surabaya tidaklah tepat dan berpotensi merusak (mafsadat) secara spiritual. Secara hakikat menutupi (kufr), mengabaikan limpahan berkah, rahmat Tuhan Yang Maha Esa untuk seluruh bangsa dan negara Indonesia. Pada aspek keamanan sosial, diksi Indonesia Gelap lebih cenderung bermotif provokatif dan membuka pintu bagi aksi agitatif-destruktif.
Karena itu Aliansi Santri Peduli Indonesia (ASPI) Yogyakarta menyarankan agar menghindari diksi tersebut dan lebih menawarkan pilihan diksi positif (maslahah). Ucapan dan perkataan bisa menjadi doa dan pengharapan bagi insan beriman. Sesungguhnya sejumlah persoalan, pelanggaran hukum, kejahatan dan korupsi, akan di atasi sesuai dengan proporsinya sehingga Indonesia Terus Terang Benderang (mudhiatun/munawwarotun). Kritik dan aksi massa damai yang kreatif, edukatif tidaklah dilarang pada era Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakamubing Raka. Bahkan aksi Indonesia Gelap pun tidak pernah dilarang, tetapi bisa berdampak buruk jika berlangsung terus menerus, dibiarkan dan mendapatkan dukungan.
Siapapun yang bersalah akan disingkirkan, “Sopo sing salah bakal seleh, sopo sing nandur kabecikan bakal ngunduh wohing pakerti”. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan tanah yang diberkati Allah SWT, mendapatkan limpahan rahmat sehingga yang berlaku jahat, dzolim dan merusak akan segera diselesaikan melalui berbagai mekanisme yang tersedia, hukum, politik dan sosial serta spiritual. (Lutfi)








