Lelaki mana yang tak tergoda bidadari? Makhluk surga yang senantiasa gadis; berparas rupawan; kulitnya pualam, matanya rembulan, jejak langkahnya menebarkan semerbak wewangian.
Sambil saling bergandengan tangan, mereka bernyanyi dengan suara yang tak pernah seorang pun mendengar kemerduannya. Dan lirik lagu yang mereka dendangkan adalah, seperti dikutip Imam Al-Qurthubi dari Sayyidina Ali, “Kamilah makhluk yang tak pernah berbuat buruk. Kamilah penyuguh nikmat yang tak pernah merasa bosan. Kamilah abdi terpilih bagi para suami. Dan, tentu saja, kami abadi.”
Perempuan mana yang tak dengki pada bidadari?
Sementara makhluk kahyangan itu tak bisa mati, mereka (para perempuan dunia itu) sebentar juga membusuk. Seberapapun parfum yang mereka pakai untuk menyembunyikan bau keringat, setebal apapun bedak yang mereka pakai untuk menyamarkan jerawat, kecemerlangan bidadari masih akan tak tertandingi.
Begitulah…
Semua itu akan tetapi disanggah oleh Sayyidah Aisyah. Seperti hendak mewakili teriakan para perempuan di seluruh penjuru dunia, dari ujung timur sampai barat sana, beliau berkata, “Kita shalat, mereka tidak! Kita puasa, mereka tidak! Kita bersuci, mereka tidak! Kita bersedekah, mereka tidak! Itulah sebab kenapa derajat kita (para perempuan dunia) mengungguli bidadari.”
Memang, terdapat ikhtilaf di tengah para ulama, tentang siapakah perempuan penghuni surga yang “lebih cantik dan lebih seksi” (jamal wa husn); apakah perempuan bidadari ataukah perempuan manusia?
Sirajuddin al-Dimasqi, dalam al-Lubab fi ‘Ulum al-Kitab, menyebutkan setidaknya dua pendapat. Pertama, bidadari jelas lebih unggul ketimbang manusia.
Ini karena sifat-sifat bidadari dengan tegas tercantum dalam al-Quran, selain Nabi juga pernah berdoa untuk seseorang dalam sebuah shalat jenazah, “Ya Allah, ganti (abdil) rumah dan istrinya dengan yang lebih baik” (Redaksi ‘ganti’ mengisyaratkan adanya perbedaan, dari istrinya di dunia menjadi sesuatu yang lebih baik di akhirat, yakni bidadari).
Kedua, perempuan manusia jelas lebih unggul daripada bidadari. Ini karena terdapat sebuah hadits, “Perempuan dari bangsa manusia (adamiyyat) tujuh puluh kali lebih utama ketimbang bidadari.”
Itu berarti, seperti diterangkan Imam Al-Khazin dalam Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil, kelak pada saat masuk surga, manusia tampil dengan wujud yang sama sekali baru (khalq akhar). Di surga, perempuan manusia lahir kembali dalam kondisi kinyis-kinyis layaknya gadis pada umumnya (ada yang menyebut mereka hadir dengan tampilan usia 33 tahun).
Selain itu, Nabi sendiri juga pernah mengikrarkan bahwa perempuan penduduk surga yang berada di kelas atas adalah perempuan-perempuan bumi, bukan para bidadari. Dari Ibn Abbas, beliau bersabda, “Perempuan penduduk surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Mazahim, dan Maryam binti Imran.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan Hakim)
Menurut al-Zarqani, dalam Syarh al-Zarqani ala al-Mawahib al-Laduniyah, Sayyidah Khadijah sampai bisa memperoleh predikat tersebut oleh sebab beliaulah perempuan yang pertama-tama masuk Islam, juga karena pelayanan (ta’zhim) beliau kepada Nabi Saw. Sayyidah Khadijah adalah juga orang yang disebut-sebut Nabi sebagai, “inni razaqtu hubbaha (aku melimpahkan rasa cinta kepadanya)”.
Lalu Sayyidah Fatimah. Kenapa Sayyidah Fatimah? Kenapa bukan putra-putri Nabi yang lain?
Sebab, seperti dikemukakan Imam al-Suhaili, Sayyidah Fatimah adalah sosok yang kelak melahirkan seorang sayyid juga, pemimpin para pemuda surga, yakni Sayyidina Hasan. Atau karena, kalau saudara dan saudari beliau wafat saat Nabi masih hidup, maka Sayyidah Fatimah justru mengalami kepedihan ditinggal wafat sang Nabi. Dan, di sisi lain, Nabi sendiri pernah bersabda, “Fatimah adalah anak perempuanku yang terbaik (khairu banati)”.
Sementara itu, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Mazahim menjadi bagian dari pemimpin perempuan surga karena derajat mereka sudah diakui dalam Al-Quran. Maryam adalah ibunda Nabi Isa, yang disucikan dari sentuhan lelaki. Asiyah adalah ibu asuh Nabi Musa, yang meskipun merupakan istri Firaun, tak pernah betul-betul dapat ditundukkan oleh raja yang mendaku diri sebagai tuhan itu.
Demikianlah, bidadari memang cantik, tetapi perempuan dunia yang shalihah akan jauh lebih cantik.
Bidadari di sini adalah apa yang Al-Quran memanggilnya dengan Hurin ‘In. Disebut al-huur, jamak dari haura’, karena bola mata yang jernih. Dan disebut al-‘in, jamak dari ‘aina’, oleb sebab bola mata yang bulat besar (jawa: blolok-blolok). Menurut Imam Al-Razi, dalam Mafatih al-Ghaib, mereka diperkenalkan dengan jejuluk yang berkaitan dengan bola mata karena pusat kecantikan adalah wajah, dan bagian paling penting dari muka adalah mata.
Konon, seperti dikutip dari Sayyidina Ibn Abbas oleh Syeikh Abul Fida’ Al-Khalwati dalam Rauh al-Bayan, bagian ujung kaki sampai lutut bidadari diciptakan dari minyak zakfaran, bagian lutut sampai dada diciptakan dari minyak misik, bagian dada sampai leher diciptakan dari minyak anbar, dan bagian leher sampai wajah diciptakan dari putih kapur barus. Di tempat lain disebutkan bahwa menurut Sayyidah Aisyah bidadari diciptakan dari jejak bacaan tasbih malaikat.
Menurut Imam Al-Alusi dalam Rauh al-Ma’ani, tak seperti malaikat (atau apalagi jin dan manusia), para bidadari ini tidak pernah mengalami kematian. Bidadari tidak mati karena mereka semata-mata ruh, sementara makhluk yang lain memiliki tubuh wadag (betapapun halus seperti tubuh jin dan malaikat). Dalam al-Hawi li al-Fatawi, Imam al-Suyuthi menyebutkan bahwa urusan kematian makhluk diserahkan kepada malaikat maut, kecuali kematian malaikat maut itu sendiri, yang kelak bakal mati tanpa malaikat maut.
Abdurrahman al-‘Ulaimi al-Hanbali, dalam al-Uns al-Jalil, mengetengahkan bahwa saat Allah menciptakan bidadari, malaikat bertanya, “Apakah Engkau menciptakan makhluk yang lebih cantik dari mereka?” Allah menjawab, “Ya, ada makhluk yang lebih cantik ketimbang mereka, yakni para penghuni surga dari kalangan perempuan manusia.”
Wallahu a’lam bis shawab.
Penulis: KH Lukman Hakim Husnan, Dosen STIQ Al-Lathifiyah Palembang.







