Sejak Kapan Allah Menciptakan Para Bidadari Pelayan Surga?

Posted on

Pertanyaannya adalah sejak kapan Allah menciptakan bidadari? Sebab mereka adalah para pelayan surga, maka para bidadari diciptakan bersamaan atau tidak lama setelah keterciptaan surga.

Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang lebih dulu diciptakan, Adam atau Bidadari?

Sebab terdapat riwayat yang menyatakan bahwa Adam adalah makhluk yang secara langsung diciptakan Allah paling akhir, maka dapat dipahami jika Adam relatif lebih muda daripada bidadari.

Apabila hipotesis macam ini disetujui, maka muncul pertanyaan yang lain. Kenapa tidak sedari awal Adam dinikahkan dengan bidadari saja? Sehingga anak turun Adam kelak tak perlu terpikat bidadari (sampai bahkan sibuk meledakkan diri segala), berdasarkan ayat wa zawwajnahum bi huurin ‘in (dan kami kawinkan mereka dengan bidadari).

Sekali lagi, kenapa Allah perlu menciptakan Hawa? Atau pertanyaannya diubah, di mana para bidadari saat Adam dan Hawa saling berkasihan di surga?

Jawab: “Barangkali bidadari memang tidak penting. Mereka pada dasarnya tak diperlukan oleh para lelaki manusia, yang ternyata hanya butuh pada istrinya yang manusia saja”.

Itulah sebabnya meskipun redaksi yang digunakan dalam al-Quran adalah lafaz zuwaj (menikah), untuk merujuk relasi antara manusia dan bidadari, para mufassir (seperti Imam Al-Razi) meyakini bahwa yang sesungguhnya terjadi bukanlah perkawinan. Zuwaj di sini hanya bermakna penyandingan, seperti dikatakan Syeikh Zakariya al-Anshari dalam Fath al-Rahman bi Kasyfi Ma Yaltabisu fi al-Quran, dan relasi yang sebetulnya terjadi adalah hubungan milkul yamin (layaknya pola tuan dan budak).

Itulah juga barangkali sebab kenapa sejumlah ulama (diantaranya Imam Hasan al-Basri seperti dikutip Al-Dimasyqi dalam al-Lubab) meyakini bahwa yang dimaksud hurin ‘in dalam seluruh uraian al-Quran adalah perwujudan lain dari istri-istri manusia di dunia, dan bukan makhluk halus macam bidadari.

Dari sini kemudian jelas betapa kelak, sesudah berhasil masuk surga, manusia akan berubah menjadi sosok bidadara dan bidadari (atau paling tidak lebih unggul 70 kali ketimbang bidadari). Waktu itu, bau wangi hurin ‘in adalah hal yang remeh temeh belaka, meski keringat istri atau suami Anda bau ikan asin selama masih dunia.

Dari sini juga Anda tahu bahwa akhirnya Anda tak perlu bertanya apakah perempuan kelak dikaruniai bidadara atau tidak? Bidadara Anda adalah suami Anda. Dan ratu bidadari bagi suami Anda adalah Anda. Tak perlu merisaukan hurin ‘in, sebab di mata suami Anda, Andalah yang terbaik. Yakinlah, nilai perbandingan 70 derajat itu setara dengan perbedaan antara Lamborgini dan angkot jurusan kertapati.

Baca Juga >  Ngaji QS Al-Hujurat, Ayat 11: Anda Pernah Membully Orang Lain?

Lalu timbul pertanyaan, bagaimana jika orang meninggal (dan masuk surga) sebelum dia sempat menikah? Atau sudah menikah, tapi ternyata pasangannya masuk neraka (na’udzu billahi min dzalik)? Atau sudah menikah, tapi kemudian ditinggal mati, dan lalu menikah dengan orang lain sampai berulangkali, namun seluruhnya masuk surga? Siapakah pasangan orang ini di sana?

Yang jelas, seperti kata Nabi dalam riwayat Muslim, “ma fil jannati a’zabu, di dalam surga tidak ada a’zab”. Yang dimaksud dengan a’zab di sini, menurut Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, adalah “tidak berpasangan” alias jomblo.

Maka orang yang memiliki sejumlah pasangan meninggal, yang kesemuanya masuk surga, diperkenankan memilih suami atau istrinya. Seperti ditunjukkan Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawi al-Haditsiyah, orang pada saat itu umumnya memilih yang paling baik akhlaknya (sesuai riwayat Anas) atau pasangan yang terakhir (sesuai riwayat Thabrani).

Penduduk surga lain yang belum berpasangan, sedemikian rupa dijodohkan oleh Allah satu dengan yang lain, atau dengan yang lebih baik. Ini seperti dijelaskan Syeikh al-Zarqani, bahwa Maryam bin Imran, yang tidak menikah sama sekali selama di dunia itu, kelak akan menjadi istri Nabi Saw. Sebagaimana Asiyah binti Mazahim, yang suaminya (Firaun) dipastikan berada di neraka, juga menjadi salah satu istri Nabi disamping Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain.

Pendek cerita, kita sebetulnya sedang meributkan nikmat surga yang sebetulnya telah disifati oleh Nabi dengan “ma la ‘ainun ra’at wa la udzunun sami’at, sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata manapun dan didengar oleh telinga siapapun”. Ilustrasi-ilustrasi tentang nikmat surga, juga barangkali siksa neraka, adalah bagian dari cara Allah untuk membuat kita lebih trengginas dalam beribadah kepada-Nya.

Masalahnya, apakah betul kita beribadah untuk hanya mengejar kenikmatan belaka? Bukankah kita malu kepada Allah yang berfiman, seperti termaktub dalam Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa al-Naql karya Ibn Taimiyyah dan Miftah Dar al-Sa’adah karya Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, “lau lam akhluq jannatan wa la naran, alam akun ahlan an a’buda, kalau saja Aku tidak menciptakan surga dan neraka, apakah aku tak lagi pantas untuk disembah?”

Masya Allah. Tabarakallah. Saya tak tahu. Terserah Anda.

Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis: KH Lukman Hakim Husnan, Dosen STIQ Al-Lathifiyah Palembang.