Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY
Jika bukan demi Engkau, Wahai Muhammad, maka alam raya ini takkan Kuciptakan, begitu tutur sebuah hadis Qudsi yang amat terkenal di kalangan para salik dan sufi.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani qaddasahuLlah dalam kitab Sirrul Asrar Fima Yahtaj ilaihi al-Abrarmenukil sebuah hadis dari riwayat Jabir Ra bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, “Demi kehormatan ayah dan ibuku, beritahukanlah padaku tentang awal mula ciptaan Tuhan sebelum semua benda (makhluk) diciptakan.” Rasulullah Saw menjawab, “Wahai Jabir, sesungguhnya sejak awal Allah Swt telah menciptakan Nur atau Cahaya Nabimu ini dari CahayaNya sebelum menciptakan yang lainnya.”
Lebih lanjut beliau qaddasahuLlah menuturkan bahwa seusai diciptakan, Adam As menyaksikan nama Muhammad Saw berjejeran dengan nama Allah Swt di pintu surga. Adam As bertanya kepada Tuhan, “Siapa gerangan makhluk yang namanya berjejer dengan nama Allah Swt di pintu surgaNya?” Tuhan menjawab kepada Adam As, “Itulah hambaKu yang akan lahir dari keturunanmu.” Nabi Adam As pun memahami bahwa sosok pemilik nama tersebut, Muhammad Saw, adalah hambaNya yang jauh lebih mulai daripada dirinya.
Saking mulianya nama Muhammad Saw tersebut, sampai-sampai Nabi Musa As pun memohon kepada Allah Swt supaya dijadikan umat Nabi Muhammad Saw. Ini sekaligus menjenterahkan pemahaman kepada kita bahwa sejatinya umat Nabi Muhammad Saw, kita semua, oleh Allah Swt telah disemati derajat kemuliaan yang lebih utama dibanding umat-umat sebelumnya, sebagai tempias dari cahaya syafaat Rasulullah Saw –pancaran Nurnya Saw.
Jadi, seyogianya kita ini bersyukur benar atas karunia agung ini, sebab secara langsung kita otomatis dimuliakanNya semata karena kita tertempiasi cahaya agung Rasulullah Saw.
Sungguh tiada alasan bagi kita untuk tidak berterima kasih kepada Rasulullah Saw pula atas “keterikutan” kita oleh kemuliaanNya Nurnya Saw di sisi Allah Swt.
Belau qaddasahuLlah mengatakan, “Allah Swt menciptakan Nabi Muhammad Saw dari Nur yang diciptakanNya dan dimanifestasikan pada sifatNya ar-Rahman, yakni Maha Pengasih. Karena itu dikatakan bahwa kasih sayang Allah Swt mendahului dan memadamkan murkaNya.”
Mari kita cermati.
Betapa di antara sekian banyak sifat dan asma Allah Swt, yang terbagi dalam dua karakter, yakni Jalaliyah (Kemahaperkasaan) dan Jamaliyah (Kemahaindahan), Allah Swt mendahulukan sifat-sifat Kasih Sayang dan Lemah LembutNya. AsmaNya ar-Rahman ar-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ditempatkanNya padaposisi paling awal, utama, dibanding asma-asma JalaliyahNya, seperti al-Malik, Maha Raja.
Urutan Asmaul Husna ini tentulah menyimpan hikmah yang luar biasa, di antaranya sebagaimana yang telah disebutkan.
Lalu simaklah bahwa cara Allah Swt memperkenalkan diriNya dalam ungkapan yang paling mudah, sering, dan fasih diucapkan manusia ialah BismiLlahirrrahmanirrahim. Kalimat basmalah ini melekat pada semua hal, aspek, dan unsur hidup muslim setiap hari seumur ghidup. Apa pun! Kapan pun!
Yang Allah Swt kenalkan dalam intensitas tanpa jeda itu ialah sifat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bukan asma-asma JalaliyahNya yang lain, sebutlah al-Mutakabbir, Yang Maha Sombong. Tidak.
Ini pun melesatkanmakna bahwa Welas AsihNya Allah Swt mengatasi dan menutupi semua sifat KemahakuasaaNya, seperti Maha Menghukum, Maha Memaksa, Maha Menentukan, dll. Sehingga yang lebih terhamparkan kepada kita ialah Maha PengampuNya, Maha Pemberi Rezeki, Maha Penolong, dan sejenisnya yang penuh welas asih dan rahmat. Bukankah tatkala kita sedang bermaksiat kepadaNya pun, rahmat Allah Swt tetap mengalir kepada diri kita, sebutlah misal tetap nyamannya kita bernapas, bergerak, berjalan, tidur, dan makan minum?
Bukankah sebenarnya mudah saja bagi Allah Swt untuk membuat kita sesak napas seketika jika kita sedang maksiat kepadaNya? Mudah betul. Tetapi, terlihat nyata betul betapa Welas Asih Allah Swt lah yang selalu disajikanNya kepada kita semua.
Ketika Rasul Saw dilekatkan pada Nur sifatNya ar-Rahman, Maha Pengasih, sebagai sumber penciptaanNya yang pertama kali, mengisyaratkan bahwa kemuliaan dan keluhungan Rasulullah Saw adalah keniscayaan kodrati, sebagai pancaran dari Cahaya kasih sayang itu. Bukan selainnya.
Kita menyaksikan langsung dari sirah nabawiyah betapa beliau Saw benar-benar senantiasa mengedepankan sikap welas asih, RahmanNya, kepada siapa pun, semua manusia, pula binatang dan tumbuhan. Bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya. Riwayat-riwayat perihal keteladanan tersebut sangat tak berkekurangan untuk kita renungkan sebagai sumber inspirasi hidup sang muslim.
Kewelasasihan Rasulullah Saw tersebut merupakan manifestasi langsung dan nyata dari Nur RahmanNya Swt yang dapat kita saksikan dan rasakan di dunia yang wadag ini.
Logika sederhannya, bila sentuhan-sentuhan welas asih Rasulullah Saw yang menampung Nur RahmanNya Swt sedemikian luhungnya, bagaimana lagi dengan Rahman RahimNya Allah Swt?
Tentulah amat sangat tak tepermanai pesonanya….
Renungkanlah Surat al-Anbiya’ ayat 207: “Dan Kami tidak mengutus Engkau melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”
Juga surat al-Maidah ayat 15: “Sungguh telah datang kepadamu Cahaya dari Allah Swt dan kitab yang menerangi (mencahayai).”
Beliau qaddasahuLlah pungkasnya menasihatkan, betapa sungguh beruntungnya kita yang berittiba’ kepada Rasulullah Saw, mengikuti akhlak karimahnya, keluhungannya sebagai manusia, dan pula malang benarlah orang yang gagal meraih rahmatNya, jauh dari keteladanan akhlak karimah Rasulullah Saw, padahal ia telah diberiNya potensi besar sebagai umat Rasulullah Saw dalam naungan cahaya welas asihnya.
Pertanyaan reflektifnya kini: “Apakah benar kita yang dimodali lebih oleh Allah Swt sebagai umat Nabi Muhammad Saw telah memanfaatkan dan menggunakannya sebaik-baiknya, sesuai kesemestiannya, yakni untuk mengikuti keteladanan akhlak karimah Rasulullah Saw dalam segala aspek dan keadaan kehidupan kita?”
Semoga begitu adanya, semoga Allah Swt senantiasa membimbing kita semua. Semoga Rasulullah Saw mensyafaati kita semua. Amin.
Wallahu a’lam bish shawab.
Jogja, 17 September 2019







