
Oleh Arif Fauzi Marzuki
أللهمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا
“Dari ‘Ubadah bin al-Shamith radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah SAW mengajari kami bacaan berikut ini untuk dibaca oleh salah satu dari kami saat Ramadhan datang: “Allahumma salimnî min ramadlâna wa sallim ramadlâna lî wa tasallamhu minnî mutaqabbalan”. Artinya: Ya Allah, sampaikan aku [dengan selamat menuju bulan] Ramadhan. Sampaikanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah [amal-amal]ku [di bulan] Ramadhan. (Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitâb al-Du’â’, Kairo: Dar al-Hadits, 2007, hlm. 311).
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Acara-acara meyambut kegembiraan dan kebahagiaan datangnya Ramadhan digelar di mana-mana. Tarhib Ramadhan digelar di masjid-masjid dan kantor-kanor pemerintahan. Secara tradisi ada “Ndandangan” di Masyarakat sekitar Kudus. Semuanya dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.
Membicarakan Ramadhan laksana membicarakan putra Nabi Ya’kub yang berjumlah dua belas orang. Dan bulan Ramadhan adalah Yusuf As, putra yang paling utama dan membaggakan orangtuanya karena dipiih menjadi seorang Nabi dan Rasul, dibanding sebelas saudara lainnya yang tidak jadi apa-apa.
Ramadhan sangat istimewa bila memang disambut dengan semangat keilmuan yang terkait seperti kajian fiqih ibadah Ramadhan, kajian makna spiritual Ramadhan dll.
Mengutip Khutbah Jumat yang lansir oleh Buletin FKM, 2025:
Bahwasannya Ibnu Qudamah r.a berkata:
ثَلَاثَةُ أَعْمَالٍ لَا تَدْخُلُ الْمَوَازِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِعَظَمَتِهَا
“Ada tiga amalan yang tidak bisa masuk timbangan Mizan pada hari kiamat karena kebesarannya.”
Sesungguhnya hampir-hampir Mizan tidak kuat memikulnya dan menimbangnya. Ini merupakan bahasa untuk menggambarkan betapa besarnya pahala yang terkandung di dalam tiga amalan ini:
Pertama: Pahala Memaafkan di Antara Manusia
Memberi maaf adalah salah satu amal istimewa yang pahalanya tidak terbatas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang dzalim.” (QS. Asy-Syura: 40).
Bahkan, untuk menggambarkan saking besarnya pahala memaafkan, salah satu pintu Syurga adalah pintu memaafkan. “Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas” (Menahan amarah dan memaafkan orang lain). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ ِللهِ بَاباً فِي الجَنَّةِ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ مَنْ عَفَا عَنْ مَظْلَمَةٍ
“Sesungguhnya Allah memiliki sebuah pintu di Surga. Tidaklah yang masuk melaluinya, kecuali orang-orang yang memaafkan kedzaliman.” (Diriwayatkan oleh Ahmad. Lihat Fath Al-Bari, 7: 28).
Maka dari itu, mari saling memaafkan di antara kita, agar Allah memaafkan kesalahan kita. Bukankah balasan setimpal dengan apa yang diperbuat? Bukankah kita suka ketika Allah memaafkan kesalahan kita? Sebagaimana engkau telah memaafkan kesalahan orang lain, maka Allah akan memaafkan kesalahanmu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اسْمَحُوا يُسْمَحْ لَكُمْ
“Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah).” (HR. At Thabrani).
Kedua: Pahala Kesabaran
Amalan kedua yang tidak ada timbangannya adalah sabar. Orang yang bersabar akan disempurnakan pahalanya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْر حِسَابٍ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS. Az-Zumar: 10).
Tidak ada amalan yang Allah sertakan kabar gembira dengan pahala tanpa batas, kecuali sabar. Maka, pahala kesabaran jika Allah terima digambarkan, hampir-hampir Mizan tidak kuat untuk memikul pahala kesabaran tersebut.
Ketiga: Pahala Puasa Ramadhan
Amalan ketiga yang istimewa di sisi Allah adalah berpuasa. Pahala puasa Ramadhan itu kalau diterima, maka sesungguhnya pahalanya tiada batas. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.’ Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menyebutkan ibadah yang langsung disandarkan kepada-Nya, yaitu kepada Allah, kecuali pahala puasa Ramadhan. Dan para ulama menjelaskan kenapa dikatakan puasa itu untuk-Ku? Karena puasa mendatangkan sikap muroqobah (merasa diawasi oleh Allah dan merasakan kehadiran Allah Subhanahu wa Ta’ala).
Mari kita sambut keistimewaan Ramadan dengan ilmu pengetahuan, sehingga kita bisa mempeoleh lezatnya beribadah di Ramadan kali ini. Wallahua’lam(*)
Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam Kemenag Bantul DIY.








