Wirid Alhamdulillah Kiai Syahid Kemadu Rembang Jawa Tengah
Sebuah mobil yang ditumpangi poro kiai meluncur di salah satu ruas jalanan pantai utara Jawa. Di pinggir jalan itu terbentang sungai, yang oleh penduduk sekitar, difungsikan untuk beragam kegiatan dan keperluan; mulai dari mencuci baju sampai memandikan sapi, dari berak sampai membilas beras.
Tiba-tiba, seisi mobil dibuat kaget, ketika mereka tak sengaja memergoki seorang lelaki tanpa sehelai benang pun naik dari arah sungai. Polos, lelaki itu cuma menutupkan telapak tangan di bagian bawah pusar; berupaya menghalau pandangan orang dari “itu”-nya. Para Kiai di dalam mobil sontak memekik:
“Astaghfirullah!” Seru Kiai Mabrur.
“Ma sya Allah!” Kiai Wahab.
“La ilaha illallah!” Kiai Tamam.
Dan, hanya seorang Kiai yang merespon dengan ujaran tak biasa:
“Alhamdulillah!” Ujar Kiai itu.
Beliau adalah Kiai Haji Ahmad Syahid bin Shalihan, asal Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Dikutip dari Kiai Yahya Chalil Staquf, Kiai Syahid memang hampir tak pernah terdengar menceletukkan selain hamdalah. Ada orang mengabarkan kelahiran anaknya, beliau berucap, “Alhamdulillah.” Orang mengadukan tingkah laku istrinya, beliau berseloroh, “Alhamdulillah.” Diberi informasi kematian, beliau menyeru, “Alhamdulillah.”
Barangkali sudah menjadi semacam wirid, dan karena itu Kiai Syahid Kemadu terkenal dengan julukan Kiai Alhamdulillah. Pesantrennya pun, yang tidak pernah dipasangi papan nama –juga memang tak pernah diberi nama, kemudian disebut-sebut orang dengan Pesantren Alhamdulillah.
Hamdalah, atau lafazh alhamdulillah, memang suatu pujian bagi Allah. Tetapi lebih jauh dari itu, di dalam alhamdulillah juga terselip makna istighraq, yang berarti bahwa tiada yang pantas dipuji kecuali Allah; atau dalam redaksi yang kerap dipilih oleh para penerjemah ayat ini; “segala puji hanya bagi Allah.”
Anda mendapat hadiah Pajero, dan Anda memekik, “Alhamdulillah.” Padahal Anda jelas-jelas tahu, yang memberi mobil itu adalah bos Anda, tapi Anda tetap memuji Tuhan Anda. Seperti itu juga saat Anda selamat dari tabrakan di jalanan, Anda menyebut-nyebut, “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah,” bukan memuji bebatuan yang telah menghindarkan diri untuk tidak bersentuhan dengan pelipis Anda.
Kenapa begitu!?
Mungkin saja lidah Anda cuma keseleo, atau setidaknya itulah yang terbiasa dilakukan oleh mulut Anda, sebab Anda atau orang tua Anda telah melatihnya semenjak Anda masih hijau. Tetapi, pada kenyataannya, memang hanya Allah saja yang patut untuk dipuji. Sebab, siapa yang menggerakkan hati bos Anda, kalau bukan Allah? Siapa yang membuat kakinya bergerak menuju rumah Anda, dan bukan menggerakkan lengannya ke pintu gubuk saingan Anda, kalau bukan Allah?
Demikianlah makna istighraq seperti disebut di atas, sebagaimana hal ini diamini oleh Al-Syaukani dalam Fath al-Qadir. Menurutnya, urgensi alhamdulillah, yang juga merupakan pembuka dari Surat Al-Fatihah, itu berkaitan dengan kodrat kemenyeluruhan segala jenis pujian bagi Allah. Dan bahwa segala pujian hanya pantas dialamatkan kepada-Nya. Mengapa!? Sebab segala nikmat, betapapun secara lahir tampak muncul dari selain-Nya, sejatinya semua berakar pada Allah.
Al-Kirmani, dalam Gharaib al-Tafsir wa ‘Ajaib al-Ta’wil, mengutip sebuah pendapat yang menyatakan bahwa al-hamdu (terdiri dari susunan huruf ha’-mim-dal) sebetulnya merupakan permainan kata, semacam anagram.
Anda yang pernah membaca atau menonton Harry Potter akan mengerti bahwa nama Lord Voldemort adalah sebuah anagram dari tokoh antagonis dalam sejarah Horgwart: Tom Marvolo Ridle (susunan hurufnya diacak menjadi “I Am Lord Voldemort”). Begitupun al-hamdu yang kurang lebih adalah susunan acak dari lafazh al-madhu (mim-ha’-dal).
Biarpun demikian, keduanya memiliki makna yang serupa, yakni al-tsana’ atawa pujian. Bedanya, al-madhu bercakupan lebih luas, meliputi pujian yang dialamatkan pada sifat dari sesuatu maupun sifat aktifitasnya. Sementara al-hamdu dimaksudkan untuk spesifik pada pujian yang berorientasi pada sifat dari perbuatan.
Bingung? Begini…
Wirid Alhamdulillah Kiai Syahid Kemadu Rembang Jawa Tengah
Zaid adalah sosok yang tampan, mungkin karena mirip bintang Korea, lalu karena itu Anda memuji-mujinya. Itu berarti Anda sedang melakukan al-madhu.
Tetapi bukan hanya itu, selain tampan, Zaid juga dermawan. Tiap kali Anda memuji ketampanannya, dia selalu menghadiahi Anda apa saja, kadang stik drum, kadang cover handphone, bahkan ada yang dihadiahi surat cinta. Lalu Anda semakin memuji Zaid, dan Anda sedang berada di spektrum al-hamdu.
Pendek cerita, Allah adalah Dzat yang layak dipuji secara al-madhu, maupun al-hamdu. Allah patut dipuji ke-Maha Indah-annya, dengan atau tidak hal itu memberi pengaruh kepada kehidupan manusia. Tanpa atau dengan keberadaan manusia yang selalu bergantung kepada-Nya pun Allah masih tetap pantas untuk dipuji. Tetapi Allah juga amat pantas dipuji karena setelah menciptakan makhluk, Dia juga memperhatikan pertumbuhan mereka; memberi atsar taqdiri kepada mereka. Maka itulah sebabnya Allah mengajarkan, di dalam surat al-fatihah ini, untuk memuji dengan al-hamdu, bukan al-madhu.
Selain makna bahwa hanya Allah sajalah yang layak untuk dipuji, hamdalah juga memberi pengertian bahwa Tuhan Yang Maha Agung itu hanya layak dipuji, bukan –naudzu billah– untuk dicaci maki, betapapun dan apapun tindakan yang dilakukan-Nya. Inilah yang membedakan antara diksi dan atau istilah al-hamd dengan al-syukr, yang sama dengan al-madhu, mengandung makna al-tsana’ (pujian).
Al-hamd berbeda dari al-syukr akibat dua hal; cara dan alasan. Dari sudut cara, al-hamd lebih sempit dibanding al-syukr. Konten pujian dalam al-hamd adalah kata-kata, dan karena itu hanya mungkin dikerjakan melalui lisan belaka. Sementara al-syukr adalah pujian, yang bukan saja muncul dari mulut (lisan) belaka, tetapi juga mesti dibarengi dengan hati (janan) dan tingkah laku (arkan). Misalnya, men-syukr-i nikmat sehat, haruslah dimulai dengan kejujuran hati yang penuh rasa terima kasih kepada Allah, yang lalu dieksplisitkan melalui ikrar secara lisan. Tetapi tidak cukup itu saja, ungkapan syukr juga harus berupa manifestasi perbuatan; menggunakan nikmat sehat tersebut untuk mengabdi kepada-Nya (bukan untuk hanya mengejar dunia, misalnya). Dari sisi ini kita tahu, al-hamd adalah bagian dari al-syukr.
Sementara itu, dari sudut alasan, al-hamd lebih luas pengertiannya daripada al-syukr, sebab jika al-hamd merupakan pujian kepada sesuatu karena ia semata-mata layak untuk dipuji (tanpa atau dengan ia menghasilkan sesuatu yang menyenangkan bagi kita), maka al-syukr adalah pujian hanya oleh sebab sesuatu memberikan kenyamanan buat kita.
Dalam konteks Allah, al-hamd adalah pujian karena Dia memang layak dipuji, bahkan jika Dia tak memberikan kenikmatan apapun bagi kita (meski ini mustahil). Sementara al-syukr adalah pujian kepada Allah hanya karena Dia telah memberikan kenikmatan tertentu buat kita. Dus, kita bisa berkata bahwa al-syukr adalah pujian yang diikuti tendensi.
Dalam buku tafsirnya, Imam Ibn Katsir mengutip sebuah pernyataan, “Ungkapan alhamdu lillah adalah pujian kepada Allah karena Asma’-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur, sementara ungkapan al-syukru lillah adalah pujian kepada Allah sebab nikmat-nikmat yang dikaruniakan oleh-Nya.”
Wirid Alhamdulillah Kiai Syahid Kemadu Rembang Jawa Tengah
Alhamdu lillah, menurut Imam Al-Samarqandi, adalah lafazh yang selalu keluar dari mulut siapa saja yang bersyukur. Ingatlah Nabi Adam! Sesaat setelah beliau bersin, beliau melafazhkan alhamdu lillah, lantas Allah sendiri membalasnya dengan yarhamukallah. Berikutnya rahmat Allah benar-benar diberikan kepada sang Nabi, lebih daripada adzab atas kesalahan beliau.
Allah juga mengajarkan kepada Nabi Nuh untuk mengucap alhamdu lillah saat selamat dari deraan kaum zhalim. Waqulil hamdu lillahil ladzi najjaana minal qaumiz zhalimin (QS. Al-Mu’minun: 28)
Nabi Ibrahim juga melafalkan hamdalah setelah memperoleh keturunan di usianya yang senja. Al-hamdu lillahil ladzii wahaba lii ‘alal kibari isma’ila wa ishaq (QS. Ibrahim: 39)
Sebagai manusia yang diberi karunia kekuasaan yang cukup besar, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman tak pernah mengalpakan hamdalah. Wa qaalaa al-hamdu lillahil ladzii faddholana ‘ala katsirin min ‘ibadihil mu’minin (QS. Al-Naml: 15)
Kepada Nabi Muhammad, Allah mengajarkan, wa qulil hamdu lillahil ladzi lam tayattakhidz walada (QS. Al-Isra: 111). Sementara ucapan penduduk surga adalah, alhamdu lillahil ladzi adzhaba ‘annal hazan (QS. Fathir: 34)
Kalau hamdalah adalah ucapan orang-orang yang diberi nikmat, lantas apa ucapan orang yang tidak menerima hal yang sama? Orang yang justru memperoleh baliat (balak dan musibah)?
Mestinya tetap al-hamdu lillah, terutama apabila kita sadar bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih yang mengaruniakan segala nikmat kita; yang sudah, maupun yang belum, kita terima. Spirit al-hamdu sebetulnya mengajarkan bahwa nikmat adalah nikmat yang sudah kita terima, sementara cobaan adalah nikmat yang belum kita terima atau nikmat dalam wujudnya yang lain dari yang kita bayangkan.
Al-hasil, penjelasan di atas dapat dipakai untuk membedah fenomena Kiai Syahid Kemadu. Kenapa, misalnya, tidak peduli apakah yang dihadapkan kepada beliau adalah hal yang mengenakkan atau sebaliknya menyeramkan, beliau tetap melafalkan alhamdulillah!?
Ya, karena barangkali alhamdulillah itu sudah menjadi kredo keseharian beliau; prinsip hidup beliau. Bahwa segala sesuatu, selagi itu dari Allah, dan hanya karena memandang Allah, memang pantas untuk dipuji, tidak untuk diludahi. Kiai Syahid tidak lagi menilai enak atau tak enak, nikmat atau baliyat, melainkan hanya memandang yang menciptakannya, yakni Allah Dzat yang hanya layak untuk dipuji.
Nah, sekarang bayangkan hamdalah ini menjadi kredo bagi kita semua. Sepertinya bumi ini bakal tidak lagi diisi oleh bola-bola mata yang melotot, atau otot leher yang keluar sedemikian rupa seperti mau putus, akibat marah-marah. Hidup bakal tersenyum, sebab yang tampak hanya Allah, yang Maha Indah, yang perhatiannya kepada kita selalu indah.
Wallahu a’lam bis shawab.
Demikian Wirid Alhamdulillah Kiai Syahid Kemadu Rembang Jawa Tengah. Semoga bermanfaat.
Penulis: KH Lukman Hakim Husnan, dosen STIQ Al-Lathifiyah Palembang.









Ngapunten untuk nama kh ahmad syahid bin sholikhun