syaikhona kholil bangkalan

Waspada Gerakan Pecah Belah, Ingatlah Isyarah Tongkat dan Tasbih Syaikhona Kholil

Posted on

Terkait dengan ceramah Gus Muwafiq, perlu ada pencernaan dan angan-angan yang mendalam. Bahwa Nahdlatul Ulama dibentuk dalam rangka untuk mempersatukan potensi itu adalah realita sejarah. Maka terkait dengan fenomena Gus Muwafiq, setelah kemaren itu terjadi kesemerawutan baik yang dilatarbelakangi oleh fenomena politisasi agama sehingga rakyat Indonesia jenuh dengan hujatan hujatan, dan ceramah-ceramah yang mendiskreditkan Indonesia serta menjauhkan masyarakat dengan nilai-nilai kebangsaan.

Maka muncullah sosok Gus Muwafiq yang mampu mendinginkan suasana sehingga beliau diundang ke Istana dimana ceramahnya didengar oleh para pakar terkait dengan menumbuhkan kembali semangat HUBBUL WATHAN MINAL IMAN.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Memang, dalam beberapa cuplikan pidatonya tidak banyak menukil dalil-dalil, karena tugas pokok beliau adalah menumbuhkan semangat keindonesiaan yang mulai tercabik-cabik oleh panasnya suhu politik; antara satu dengan yang lain sudah tidak kenal sebagai ‘manusia’.

Kita tahu bahwa Gus Muwafiq direkrut oleh Gus Dur. Gus Dur paham betul potensi yang dimiliki Gus Muwafiq. Setelah sekian lama beliau keliling untuk berdakwah dengan ‘ikon’ nya menumbuhkan semangat keindonesiaan, tentu ada kelompok yang ‘kurang nyaman’ dengan potensi yang dimiliki oleh Gus Muwafiq. Maka tidak heran ketika tidak sepaham dengan mereka, tentu saja apapun yang tidak begitu besar akan menjadi besar. Dan terus dibesar-besarkan.

Baca Juga >  Ponpes Sunan Kalijaga : Korban Insiden 22 Mei Bukanlah Mati Syahid

Dari rentetan diatas, sejatinya harus mengingat kembali dengan konsep NU yang mempersatukan potensi sebagaimana isyarah Syaichona Cholil; bahwa beliau memberi isyarah tongkat bukan kitab atau sorban. Sehingga tujuan dari didirikannya Jamiyah Nahdlatul ulama untuk saling mengisi pos-pos potensial yang dimiliki warga NU.

Maka, menjelang satu abad Nahdlatul Ulama, saya mengajak kepada pengurus NU untuk tidak larut dalam urusan ‘politik’. Jangan ujuk-ujuk atas nama NU lalu disampaikan kepada masyarakat. Oleh karenanya kita jangan terjebak kelompok-kelompok di luar Ahlussunah Waljamaah yang bermaksud merapuhkan NU.

Ingat! sebelum ada isyarah tongkat dan tasbih, Syaichona Cholil memberi isyarah ayat:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Penulis: KH Makki Nasir, Ketua Tanfidziyah PCNU Bangkalan dan Penasehat GMNU Madura.