Wasiat Seminggu Sebelum Wafatnya KH Fuad Hasyim Buntet Cirebon

KH Fuad Hasyim dikenal sebagai sosok kyai ‘alim yang sangat piawai ketika pegang mic di podium. Singa podium melekat dalam dirinya. Kedekatannya dengan para kyai NU di berbagai penjuru Nusantara banyak diakui, apalagi kedekatannya sama Gus Dur.

Hidup dan besar di Buntet Pesantren, Cirebon, Kiai Fuad Hasyim mengenal betul seluk beluk dunia pesantren dan NU. Kecintaannya kepada pesantren dan NU sungguh luar biasa. Bersama Gus Dur, Kiai Fuad selalu keliling berbagai pelosok Nusantara untuk mengkampanyekan Islam yang rahmatan lil’alaimin.

Kiai Fuad juga dikenal sebagai sosok kiai yang menguasai banyak bahasa. Ketika ceramah di Sunda, maka pakai bahasa Sunda. Ketika ceramah di Madura, maka pakai bahasa Madura. Inilah yang menjadikannya begitu digemari banyak masyarakat dari pelosok kampung.

Terkait kecintaannya terhadap NU, Sya’roni As Syamfuriy (2019) mengisahkan wasiat almarhum seminggu sebelum wafatnya, yakni pada Senin 12 Juli 2004. Wasiat ini dtujukan kepada putra-putri dan murid-muridnya:

“Jangan sekali-kali kalian meninggalkan NU dan jangan sekali-kali kalian keluar dari NU. Jika kalian memaksa keluar dari NU, maka Bapak tidak ridha dunia akherat.”

Inilah wujud kecintaannya kepada NU. Semoga beliau bahagia di sisi Allah SWT.

Foto dalam kenangan, ki-ka: KH. Luthfi (Mudir JATMAN), KH. Endin Fakhrudin Masthuro (Wakil Rais Aam PBNU), KH. Muhaimin Gunardo (PP Parakan Temanggung), KH. Fuad Hasyim (PP Buntet Cirebon), Habib Luthfi Bin Yahya (Pekalongan) dan Prof. KH. Tolhah Hasan (Malang).

(yayan/rohim/red)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *