Warga Palembang Sambut Ramadan dari Sedekah Ruwah-Ziarah

Warga Palembang Sambut Ramadan dari Sedekah Ruwah-Ziarah
Warga Palembang Sambut Ramadan dari Sedekah Ruwah-Ziarah

Warga Palembang Sambut Ramadan dari Sedekah Ruwah-Ziarah

Sebagai kota dengan sejarah panjang kerajaan Sriwijaya yang jaya pada masanya, Palembang sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Selatan, memiliki tradisi unik menyambut bulan Ramadan. Tradisi tersebut bernama sedekah ruwah, yang biasanya diadakan dalam rangka menyambut bulan Ramadan dengan melibatkan seluruh warga sekitar.

Bacaan Lainnya

Menurut cerita tutur, tradisi ini dilakukan sejak zaman keemasan dari kerajaan Palembang Darussalam. Sultan yang memerintah di saat itu, selalu memerintahkan adipati yang memerintah, agar melaksanakan kegiatan makan besar dan mengundang seluruh warga Palembang untuk ikut serta di dalamnya. Hal ini dilakukan dengan harapan, kesultanan Palembang Darussalam mendapat berkah dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

Bagi masyarakat Sumatera Selatan, khususnya di Kota Palembang, Sedekah Ruwah digelar seperti layaknya kenduri (perhelatan), selain membagikan makanan-makanan khas Palembang, acara Sedekah Ruwah diisi dengan pembacaan Surah Yasin dan diikuti dengan do’a-do’a untuk arwah pendahulu dan para waliyullah, serta do’a rasa syukur atas rahmat dan karunia Allah SWT.

Setelah do’a bersama, dilanjutkan makan-makan bersama dan  saling bertukar makanan antar sesama warga.  Makanan yang disajikan pun beraneka ragam dan berciri khas kota palembang, biasanya berupa nasi gemuk, nasi yang dimasak dengan menggunakan santan kelapa untuk memberikan citarasa gurih. Kadangkala daunpandan dimasukkan ketika nasi gemuk ini dimasak untuk menambahkan aromanya.

Istilah Gemuk merujuk kepada rasa dan tekstur gurih berminyak yang dihasilkan santan kelapa yang melepaskan kandungan lemaknabatinya ke dalam nasi yang tengah ditanak dengan cara penyajian yang khas ditambah dengan beberapa lauk seperti telur dadar, teri berikut sambal goreng,  dan adapula nasi samin atau nasi minyak, nasi berbumbu yang bercitarasa gurih. Nasi ini dimasak bersama kaldu daging kambing, susu kambing, dan minyak samin, disajikan dengan daging kambing goreng dan kadang ditaburi dengan irisan kurma atau kismis.

Hidangan ini populer di kalangan warga Palembang dan warga keturunan Arab di Indonesia. Nasi Samin atau nasi Minyak ini menunjukan pengaruh budaya Arab Timur Tengah dan India Muslim, tepatnya tradisi Arab Yaman. Nasi ini mirip dengan nasi Biryani, dengan lauk berupa gulai telur, opor ayam, sambal nanas, dan lainnya.

Bukan hanya berbicara soal sedekah saja, warga masyarakat Palembang juga melakukan ziarah kubro dalam menyambut bulan suci Ramadan. Sementara itu, ziarah kubro mastarakat Palembang Darussalam yang dimulai setelah Subuh berjamaah itu berkumpul di perkampungan Alawiyin, Sungai Bayas. Pagi hari, para penziarah yang juga berasal dari luar negeri memulai arak-arakan ziarah ke kawasan makam Al Habib Pangeran Syarif Ali bin Syeikh Abu Bakar.

Dengan iringan-iringan musik maramis, dan kesenian gembus, masyarakat peserta ziarah mendoakan keluarga besar auliyah Al Habib Pangeran Syarif Ali bin Syeikh Abu Bakar, diantaranya Pangeran Syarif Ali, yang merupalan iparnya. Kedua auliyah ini dikenal menyebarkan islam hingga kepelosok terpencil di pesisir sungai Musi, mulai dari daerah Pegayut, Pemulutan, Muara Batun, Lingkis, Ulak Temago, hingga Suko Darmo.

Makam yang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I itu, dimakamkan banyak imam Kubur, yakni para penasehat agama kesultanan Palembang. Makam  para imam Kubur, juga berdampingan dengan makam Sultan Mahmud Badaruddin I. Para imam kubur yang dimakamkan diantaranya Al Arif Billah Al Habib Abdullah bin Idrus Al Idrus, Al Arif Billah Al Habib Abdurarahman bin Husin Al Idrus. Al Arif Billan Al Habib Muhammad bin Ali Al Haddad, atau dikenal Datuk Murni juga dimakamkan berdampingan dengan Sultan Mahmud Badarauddin I, termasuk imam kubur lainnya.

Sejak tahun 2004 ziarah kubro banyak didatangi dari para jama’ah luar daerah bahkan mancanegara. Misalnya para ulama dari Madinah, Yaman, Singapura, Thailand dan Fhilipina yang turut hadir. Bahkan pada tahun 2018 ini ziarah kubro dimulai dari tanggal 4-6 mei secara berturut-turut. Baik sedekah ruwah maupun ziarah kubro sebagai bentuk syiar Ramadan. (Sholikul Hadi)

__________________

Semoga artikel Warga Palembang Sambut Ramadan dari Sedekah Ruwah-Ziarah ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

simak artikel terkait di sini

kunjungi juga channel youtube kami di sini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *