Wanginya Kepala Sayyidina Husein Saat Dimakamkan di Mesir.
Sayyidina Husain bin Ali radhiya Allaah `anhumaa dilahirkan pada tanggal 3 Sya`ban pada tahun 4 H. Dan kelahiran beliau dirayakan di Mesir pada bulan Rabi’ul-Akhir, puncaknya adalah tiap selasa akhir Rabi`ul-Akhir dengan acara besar-besaran, jalanan kawasan masjid beliau itu sesak dipenuhi oleh para penziarah, pedagang-pedagang memenuhi trotoar, sejumlah kemah dari berbagai thareqat pun didirikan, masing-masing ingin ikut melayani para Ahbab Sayyiduna Nabi SAW.
Delegasi-delegasi dari semua thareqat resmi melakukan konvoi sambil mendendangkan pujian pada Sayyiduna Nabi Muhammad SAW & ahli al-bait, bermula habis ashr dari masjid Sayyiduna Shaleh al-Ja’fari, berakhir di masjid Sayyiduna al-Husain & perayaan resmi pun diadakan dengan sambutan para tokoh tashawwuf & ahli al-bait.
Jadwal perayaan maulid para ahli al-bait yang dimakamkan di Mesir merupakan hasil keputusan para ulama besar supaya jangan sampai ada tumpang tindih dalam perayaan, jadi tidak ada jadwal perayaan di bulan Rabi’ul Awwal kecuali merayakan maulid Sayyiduna Rasulullah SAW yang acara resmi seluruh thareqat juga di masjid Sayyiduna al-Husain.
Juga tidak ada perayaan di bulan Ramadhan karena semua sibuk melayani umat diantaranya menyediakan hidangan berbuka puasa selain membagi-bagikan bingkisan Ramadhan yang berisi sembako dll. Dan perayaan maulid Sayyiduna al-Husain merujuk pada kejadian besar yang dirayakan oleh masyarakat muslim Mesir secara keseluruhan, baik Sunni maupun Syi’ah yang saat itu berkuasa.
Kejadian itu bermula petengahan tahun 548 H.
Wanginya Kepala Sayyidina Husein Saat Dimakamkan di Mesir. Saat Cairo dihiasi indah & lampu-lampu dinyalakan menunggu kedatangan kepala dari cucu Sayyiduna Rasulullah SAW. Dikisahkan bahwa seorang menteri kerajaan Fathimiyah “al-Shalih Thalaai` khawatir dengan keamanan maqam Sayyidina Husain di `Asqalaan dari serangan / kekurang-ajaran pasukan salib yang saat itu menjajah Palestina.
Pemakaman kepala Husain di `Asqalaan sendiri merupakan cerita panjang setelah beliau dibunuh di Karbala pada tahun 61 H.
Ibn Thalaai` meminta kepala kerajaan Fathimiyah untuk mengambil tindakan segera dan berunding dengan Baldwin III dan bersedia membayar tebusan mahal.
Setelah beberapa kali pembicaraan, Ibn Thalaai` menyepakati bahwa Kerajaan Fathimiyah bersedia membayar 30 ribu dinar (1 dinar = 4.25 gram emas yaitu 127.5 kg emas) sebagai ganti tebusan kepala yang mulia.
Berangkatlah al-amiir “al-Afdhal” anak dari panglima “Badr ad-Diin al-Jamaliy” dan sampai ke maqam Sayyidina Husain dan membawa kepala di dadanya dari `Asqalaan pada hari ahad tanggal 8 Jumadil-akhir 548 H sampai pada tanggal 10 di bulan dan tahun yang sama bertepatan dengan 31 Agustus 1153 M.
Kedatangan rombongan yang membawa kepala yang mulia ini disambut langsung oleh semua warga Mesir, kepala kerajaan Fathimiyah, al-Shalih Thalaai`di pintu masuk kota al-Shaalihiyah. Dan demi penghormatan, semua orang Mesir yang menyambut kedatangan membuka alas kaki mereka.
Kedatangan di sambut meriah. Kepala Sayyidina Husain diletakkan pada bungkusan terbuat dari kain sutera hijau yang diletakkan di atas kursi terbuat dari kayu “al-abaanuus” diiringi oleh semua yang bernyawa di Mesir… mereka bertahlil dan takbir sampai depan masjid “Thalaai`” dekat bab “Zuwiilah” yang masih dalam pembuatan di buat khusus untuk memaqamkan kepala Sayyidina Husain.
Pesta penyambutan pun berlangsung meriah untuk beberapa hari, siang & malam.
Keberadaan kepala Sayyidina Husain di masjid “Thalaai`” tidak disukai (membuat iri) para keluarga penguasa kerajaan Fathimiyah, akhirnya terjadi kesepakatan bahwa kepala dimandikan di masjid itu dan dikuburkan kembali di istana “al-Zamrud”.
Maka digali lah dalam istana itu dan dimasukkan di bawah yang sekarang terkenal dengan kubah Sayyidina Husain dan istana di kemudian hari menjadi masjid.
Kepala mulia itu pun dimandikan di masjid “Thalaai`”, darah semakin bercucuran saat dimandikan, papan tempat peletakan kepala saat dimandikan sampai sekarang -menurut warga sekitar masjid- masih mengeluarkan bau semerbak.
Sesampainya dipintu masuk ruangan bawah tanah istana Zamrud, darah Sayyidina Husain masih berceceran, makanya kaca pelindung pintu masuk itu dilubangi supaya memungkinkan penziarah mencium harumnya darah beliau yang suci.
Asalnya tidak ada masjid disana, tapi para penguasa saling berlomba-lomba membangun masjid… dan akhirnya menjadi masjid besar sekarang, seperti yang kita bisa temukan.
Hari pemindahan ke istana Zamrud yaitu selasa terakhir di bulan Rabi`ul-Akhir menjadi hari perayaan masyarakat yang besar setiap tahunnya dikenal di masyarakat umum dengan nama acara “peringatan maulid al-Husain”.
Syekh Ali Jum`ah hafizhahullah pernah bercerita bahwa ada yang menafikan keberadaan kepala Sayyidina Husain di maqam itu… akhirnya maqam pun dibuka di depan massa dan turun ke dalam Syekh al-Jauhariy asy-Syafi`i dan al-Malwaaniy al-Maaliky (2 orang Syekh besar di Azhar) menyaksikan kepala Husain terjaga baik di tempatnya. Bahkan kata Syekh Ali salah satu dari mereka memegang kepala dan menemui darah segar… ketika Syekh itu ditanya “apa yang Anda perbuat dengan darah itu?” Syekh itu menjawab: “aku hisap”..
Warga Mesir penuh bahagia biasanya berkata: “Sayyiduna al-Habib mencintai kami, makanya Beliau Menitipkan cucu Beliau bersama kami. Maqam Sayyidunaaal-Husain dikenal sebagai pintu ziarah pada Sayyiduna Rasulullah di Mesir.
Maulana Syekh asy-Sya’rawi rahimahullah cerita bahwa beliau setiap kali berziarah di sana, selalu mendengar jawaban salam dari dalam, kecuali sekali tidak dengar, membuat Syekh sedih, kemudian beliau bermimpi Sayyiduna al-Husain menemui & mengatakan bahwa bahwa saat itu beliau sedang sibuk dengan Sayyiduna Rasulullah SAW.
Madad Ya Sayyiduna al-Husain… kami sangat mencintai Anda.
Sayyiduna Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah Mencintai orang yang mencintai al-Husain”.

Di photo, tampak berdiri penuh penghormatan para ulama yang mulia:
Catatan: Perlu diketahui bahwa penguasa dinasti Fathimiyah memang penganut Syi’ah, mereka hidup dalam kota Cairo, kawasannya tertutup dengan pagar tinggi menjulang yang hanya bisa dimasuki lewat gerbang-gerbang yang ada.
Yaitu kawasan sebagian Sayyiduna a-Husain, kawasan masjid al-Azhar sampai bab Zewilah & sebagian Darassa sekarang.
Sementara daerah luar Cairo tetap berakidah Sunni dengan pusat pendidikan di Masjid Sayyiduna ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu di kota Fusthath yang didirikan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum.
Dan pusat pendidikan Syi’ah saat itu adalah masjid al-Azhar, tertulis di mimbar masjid itu; “bagi yang mencaci shahabat mendapatkan hadiah 1 dinar & sekarung besar makanan”.
Tapi tidak pernah ada warga Mesir yang melakukan itu.. karena mereka punya cinta yang tulis, mencintai Sayyiduna Rasulullah ﷺ dengan 2 sayap cinta: ahli al-bait & para shahabat radhiyallahu ‘anhum.
Makanya ketika dinasti Fathimiyah hancur, keyakinan Syi’ah pun seakan tidak pernah ada.
Demikian kisah tentang Wanginya Kepala Sayyidina Husein Saat Dimakamkan di Mesir, semoga manfaat.








