bambang kampus unu yogya

Urgensi Konten Kreatif dalam Demokrasi Digital di Indonesia

Posted on

Oleh Bambang Arianto, Dosen Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta

Tidak salah bila kemudian demokrasi digital dipenuhi oleh berbagai hoaks hingga ujaran kebencian. Hal itu bisa dilacak dari tengah terjadinya penurunan konten positif dan kreatif dalam ranah digital. Dikatakan demikian karena demokrasi digital semakin banal oleh peredaran konten negatif, hoax dan ujaran kebencian.  Ironisnya, konten-konten kreatif yang bernafaskan kebangsaan dan Pancasila tersebut saban hari kian sedikit direproduksi oleh warganet.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Hal itu disebabkan  para warganet yang menjadi cyber aktivis masih larut dengan debat kusir di media sosial yang entah sampai kapan akan berakhir. Padahal, minimnya reproduksi konten kreatif bernafaskan Pancasila dapat membuat gerakan literasi digital jalan di tempat.

Terungkapnya jaringan baru sindikat penyebar ujaran kebencian yang dilakukan oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri (26/2) menjadi bukti bahwa agensi dan fabrikasi ujaran kebencian benar adanya. Hal itu yang kemudian membuat kekhawatiran akan mencuatnya beragam varian kampanye hitam dengan isu sentimen suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) dalam tahun politik 2018. Apalagi dalam kontestasi elektoral, wacana seksional seperti ujaran kebencian yang berbau sektarianisme, hingga hoax menjadi salah satu manuver yang sering dilakukan oleh banyak kandidat politik jaman now.

Ditambah lagi kontur media sosial yang sangat mendukung hal tersebut, karena media sosial terbukti menjadi penggerak utama dalam menghasilkan beragam opini, wacana dan kesadaran tentang kebijakan yang transformatif. Kondisi inilah yang turut berpengaruh pada pembentukan sistem informasi dan pengetahuan dalam nalar warganet yang kemudian menjadi otoritas tertinggi dalam konteks media sosial. Artinya, siapa yang bisa menjadikan sebuah informasi berhasil diviralkan dan menjadi trending topik, itulah pemegang kendali opini publik.

Dikatakan demikian karena peran trending topik saban hari memiliki daya magis yang kuat dalam mempengaruhi nalar warganet. Ironisnya, simbolisasi informasi dan pengetahuan yang seringkali ditandai oleh trending topik, acapkali digunakan untuk membalikan fakta dan opini publik sesuai kepentingan kelompok masing-masing. Akibatnya banyak isu-isu sensasional yang awalnya merupakan kebenaran kemudian berbalik menjadi sebuah kebohongan hingga ujaran kebencian karena mudahnya memanipulasi trending topik. Jadi, tidak heran bila kemudian dalam jagat digital akan tersedia informasi asli dan informasi palsu yang hadir secara bersamaan.

Baca Juga >  Kenapa Mereka Suka Nyinyir Pada NU? Ini Jawabannya!

Melihat kondisi tersebut, tugas berat para warganet dan pegiat komunitas literasi digital di tahun politik ini adalah berupaya membenamkan berbagai hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Sebab jangan sampai tahun politik akan kembali meninggalkan luka psikologis yang belum tentu sembuh, meski kontestasi politik telah berakhir. Oleh sebab itu, saat ini diperlukan banyak beragam konten positif, kreatif yang tentunya bernafaskan Pancasila di media sosial untuk menandingi berbagai bentuk konten yang bermuatan ujaran kebencian.

Dengan kata lain, semua pegiat komunitas literasi digital dan Kementerian Komunikasi dan Informatika harus dapat terus membangun jejaring bersama literasi digital hingga ketingkat keluarga. Sebab, keluarga merupakan titik terendah guna membendung peredaran konten negatif. Selain itu pula, dimulai dari tingkat keluarga kita dapat terus membumikan edukasi akan pentingnya konten Pancasila sebagai pegangan hidup keseharian semua anak bangsa bangsa. Artinya kampanye reproduksi konten Pancasila menjadi hal yang urgen untuk segera ditindaklanjuti agar nilai-nilai Pancasila bisa menjadi nafas bagi setiap postingan kita di media sosial. Dengan postingan bernafaskan Pancasila serta ditambahi “kemasan” jaman now, seperti video, meme ataupun aplikasi game dipercaya akan lebih mudah dipahami oleh generasi milenial.

Pada akhirnya, turut memproduksi konten kreatif Pancasila dengan teknik dan frase kita masing-masing, sama artinya menyelamatkan dan membentengi warganet dari berbagai upaya pecah belah serta serangan ideologis. Dengan demikian, kita secara tidak langsung telah berjuang bersama-sama mengembalikan elan vital beragam varian media sosial sebagai suplemen utama pelembagaan demokrasi, bukan justru sebaliknya.