umar kayam

Umar Kayam, Priyayi-Isme, dan Isyarat Pohon Roboh

Posted on

Tadi malam terjadi peristiwa kecil di pekarangan samping rumahku. Pohon durian di tepi jalan, yang sudah bertahun-tahun mati tegak meranggas itu, akhirnya tumbang juga.

Syukurnya, dia tak terkapar melintang di jalan. Tak menghadang langkah para petani yang bepergian ke kebun. Tak merintangi jalan para pelajar yang hendak memburu ilmu di sekolah.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Pohon durian ranggas itu roboh ke arah dalam pekarangan, menimpa beberapa pohon pisang yang belum lagi berbuah. Korban lainnya, satu pohon kakau yang masih belia. Atap kandang lele juga rusak.

Walaupun tak istimewa, peristiwa kecil itu mengingatkanku pada adegan simbolis di ujung novel Para Priyayi. Novel historis-antropologis ini ditulis Umar Kayam, diterbitkan pertama kali pada 1992 oleh Pustaka Utama Grafiti. Para Priyayi berkisah tentang riwayat dan hikayat keluarga besar priyayi (bangsawan Jawa) Sastrodarsono.

Pak Kayam terkenal sebagai akademisi, budayawan, dan esais. Esainya yang secara rutin dimuat di Kedaulatan Rakyat (KR), koran lokal paling sepuh di Yogyakarta, selalu ditunggu-tunggu pembaca.

Esai-esai Pak Kayam sangat menawan. Isinya kontekstual. Dialognya lincah. Diksinya kreatif. Segar. Selain esai Romo Sindhunata dan esai Pak Goenawan Mohamad, aku juga menggunakan esai Pak Kayam sebagai model untuk belajar menulis esai. Kumpulan esai mereka kubolak-balik. Aku baca berulang kali secara cermat dan teliti.

Lho, aku kok malah cerita tentang prosesku belajar menulis esai? Kita kembali saja ke jalur obrolan tentang Pak Kayam. Sebagai sesama priyayi, dia mulanya dekat dengan Pak Harto. The Smiling General itu bahkan pernah memberi Pak Kayam jabatan tinggi di sebuah departemen.

Ketika menggarap film Pengkhianatan G30S/PKI, Arifin C. Noer menyerahkan peran Bung Karno kepada Pak Kayam. Aku masih ingat jelas adegan ketika Bung Karno, yang diperankan Pak Kayam, memandang ke luar jendela saat jatuh sakit di ujung masa kekuasaannya. Masih terbayang pula adegan ketika Bung Karno terbaring dengan mata yang sudah tertutup.

“Bulan madu” Pak Kayam dan Pak Harto tak langgeng. Pak Harto, yang awalnya menjadi harapan rakyat, kemudian justru mengecewakan mereka. Pak Harto menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Memanfaatkan jabatan presiden yang didudukinya, Pak Harto membangun imperium bisnis Keluarga Cendana.

Pak Kayam pun mulai mengkritik “pelanggaran” Pak Harto. Konsekuensinya, jabatan tinggi di departemen lepas dari tangan Pak Kayam. Tapi, sebagai akademisi dan budayawan, dia tak berhenti “mengingatkan” Pak Harto.

Baca Juga >  Dari OTT KPK: Cianjur, Intoleransi, dan Korupsi

Ada nuansa sindiran yang terarah pada Orde Baru dalam esai-esai yang ditulis Pak Kayam di KR. Bersama dengan Rendra, Cak Nun, Romo Mangunwijaya, dan tokoh-tokoh lain, Pak Kayam merepresentasikan suara kritis Yogyakarta terhadap Orde Baru. Sebagai anak Bantul, Pak Harto kukira sangat memperhatikan suara kritis tersebut.

Aku curiga, Pak Kayam juga mengkritik penyelewengan Orde Baru melalui novel Para Priyayi. Selanggam dengan kritik Ahmad Tohari terhadap Orde Baru yang secara simbolis dia sisipkan dalam novel Berkisar Merah, Pak Kayam “tampaknya” juga menyimpulkan bahwa kerusakan etika politik Orde Baru berakar pada ideologi priyayi-isme yang menjadi pondasinya.

Dalam pandangan Pak Kayam, priyayi-isme akan tumbang. Tumbang karena tak mampu menjawab tantangan perubahan zaman. Jika priyayi-isme akan tumbang, Orde Baru pun suatu saat akan tumbang. Bila pondasinya hancur, sebuah bangunan niscaya roboh.

Di ujung novel Para Priyayi, tumbangnya ideologi priyayi-isme disimbolkan dengan tumbangnya pohon nangka yang tumbuh di pojok halaman rumah Sastrodarsono. “Entah sudah berapa puluh tahun,” tutur Pak Kayam dalam Para Priyayi, “umur pohon nangka itu.” Sebelum Sastrodarsono mulai tinggal di rumah yang terletak di samping pohon nangka itu, pohon nangka itu sudah berdiri. Dan kini pohon tersebut tiba-tiba saja roboh.

Dalam pandangan orang Jawa, apalagi kalangan priyayi-nya, robohnya pohon bisa ditafsirkan sebagai isyarat dari alam tentang sesuatu yang akan terjadi. Dan benar saja, tak lama kemudian, Sastrodarsono wafat.

Robohnya pohon nangka itu sebenarnya simbol yang maknanya berlapis dan bertingkat. Karena mengisyaratkan kewafatan Sastrodarsono yang dihadirkan sebagai model priyayi lama, robohnya pohon tersebut juga melambangkan bakal robohnya ideologi priyayi-isme. Secara tersirat dan simbolis, seolah-olah Pak Kayam ingin mengatakan bahwa Orde Baru bakal roboh juga.

“Ramalan” Pak Kayam menjadi kenyataan. Setelah berdiri selama tiga dekade, Orde Baru roboh pada 1998. Persatuan kekuatan demokrasi berhasil memaksa Pak Harto turun dari singgasana kepresidenan. Pak Kayam masih sempat menjumpai momen itu. Empat tahun kemudian, 16 Maret 2002, Pak Kayam pulang ke pangkuan Ilahi, mengikuti jejak priyayi Sastrodarsono.

Rabu, 26 Februari 2020.

Penulis: Lev Widodo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.