Tingginya Penghormatan Para Kiai NU Kepada Keturunan Rasulullah

Tingginya Penghormatan Para Kiai NU Kepada Keturunan Rasulullah

Posted on

Tingginya Penghormatan Para Kiai NU Kepada Keturunan Rasulullah.

Ketika ngaji di Makkah, KH Hasyim Asy’ari memiliki seorang guru yang bernama ‎bidang hadis yang bernama “Sayyid Abbas Al-Maliki”. Beliau adalah kakek dari Sayyid ‎Muhammad Alawi Al-Maliki. Mbah Hasyim Asy’ari ketika ngaji di Makkah, sudah sering ‎ngaji kepada ulama dari kalangan Dzurriyah Rasulullah SAW.‎

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Cucu Hadratusy Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari, yaitu KH Abdurahman Wahid pernah ‎sowan di kediaman cucu Sayyid Abbas Al-Maliki, beliau adalah Sayyid Muhammad Alawi Al-‎Maliki di Al-Rusaifah Makkah. Ketika berada di kediamannya, Gus Dur diajak ke kamar pribadi Sayyid Muhammad Al-Maliki. Betapa dekatnya, silaturahmi sesama ‎cucu ulama Masjidil Haram ini. Barangkali, sekarang keduanya sudah bercengkerama di alam ‎barzah.‎

KH Hasyim Asy’ari juga memiliki guru dari kalangan Sayyid, yakni “Sayyid Ahmad Yamani ‎Makkah”. Begitu dekatnya Mbah Hasyim Asy’ari dengan keluarga Sayyid Yamani. Sampai-‎sampai, ketiga putranya yang mengajar di Masjidil Haram, Sayyid Muhammad Yamani, ‎Sayyid Said Yamani, Sayyid Hasan Yamani saat mampir ke Indonesia dan memberikan ‎catatan khusus pada kitab KH Hasyim Asy’ari yang berjudul “Adabul Alim wa Al-Mutaalim”. ‎Pengakuan dan penghormatan para Dzurriyah Rasulullah SAW kepada Mbah Hasyim Asy’ari ‎begitu mengagumkan.‎

Rupanya, apa yang dilakukan Mbah Hasyim Asy’ari mengalir pada diri KH ‎Abdurahman Wahid. Gus Dur pernah mati-matian membela habaib di Indonesia gara-gara ‎KH. Hasan Basri Ketua Umum MUI 1984-1990 (kakek dari Fahira Idris anggota DPD ‎RI) melontarkan sebuah kalimat sebagai berikut,

“Tidak ada lagi anak keturunan Rasulullah di ‎Indonesia bahkan di dunia. Keturunan Rasulullah sudah dinyatakan terputus karena tidak ‎adanya lagi keturunan Hasan dan Husein,” kata Ketua Umum MUI KH. Hasan Basri yang ‎dikutip sebuah koran pada tahun 1993 silam.‎

Gur Dur saat sebagai Ketua Umum PBNU, beliau tidak terima dengan pelecehan Hasan Basri ‎kepada Dzurriyah Rasulullah SAW. Gus Dur-pun berkata “hanya orang bodoh yang ‎mengatakan batu permata sebagai batu koral. Dan yang paling bodoh adalah mereka yang ‎menganggap batu permata seharga batu kerikil. Kedatangan mereka (para cucu, anak ‎keturunan Rasulullah saw) ke negeri ini merupakan karunia Tuhan yang terbesar. Dan hanya ‎orang-orang kufur nikmat yang tidak mau mensyukurinya.”‎

Bagi ulama NU dan santri-santri-nya, mereka berkeyakinan bahwa Durriyah Rasulullah ‎SAW wajib dimuliakan. Minimal “mencium tangan saat bertemu”. Gur Dur pernah sowan ke ‎Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Makkah, juga sowan ke kediaman Habib Abdullah bin ‎Abdul Qodir Bilfaqih Malang.‎

Baca Juga >  Belajar Etos Kerja dari Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Amany Lubis

Kemudian KH Said Aqil Sirajd, Ketua Umum Pengurus Besar NU, juga sowan kepada ‎Habib Lutfi Pekalongan, cium tangan dan duduk di bawah. Begitu juga dengan Kyai-kyai ‎Nusantara lainya, mereka begitu memulikan Dzurriyah Rasulullah SAW. Bagi orang NU “adab ‎itu di atas ilmu”. KH Maimun Zubair, memiliki santri dari kalangan Dzurriyah Rasulullah, ‎Mbah Maimun sangat memuliakan mereka.‎

Konon, KH Hamid Pasuruan, sosok ulama yang terkenal dengan kewaliannya, beliau ‎melepas sandalnya ketika bertemu dengan para dzurriyah Rasulullah. Bahkan, beliau tidak mau ‎menjadi imam sholat, ketika ada Dzurriyah Rasulullah SAW. Begitu agung budi pekerti Kyai ‎NU kepada seorang Durriyah Rasulullah SAW.‎

KH Hasan Geng-gong, mampu melihat keturunan Rasulullah SAW hanya melalui ‎penciuman (gondo). Maka, tidak ada sosok yang memuliakan Durriyah Rasulullah SAW melebihi ‎Kyai-Kyai NU. Mereka telah diajarkan oleh guru-gurunya, seperti Syekh Mahfuz Al-Turmusi, ‎Sayyid Abu Bakar Shata, Sayyid Zaini Dahlan. Sangat wajar, jika NU dan Habib itu bisa ‎berdampingan, karena akidah-nya sama, madzhab fikih juga, bahkan semua kitab-kitab yang ‎dikaji NU dan Habaib sumbernya sama.‎

Seorang ulama kharismatik, KH Misbah menikahi Syarifah sang janda yang berusia 50 ‎tahuan, dengan tujuan memuliakan Dzurriyah Rasulullah SAW. Waktu itu, KH Misbah berusia ‎‎70 tahun. Saat melihat seorang Syarifah di perlakukan kurang pantas di keluarganya, disuruh ‎mencuci piring, mencuci busana. Maka, KH Misbah memutuskan menikahinya. ‎

Saat itu para Kyai dan ulama membuli habis-habisan Kyai Misbah. Karena dalam ‎madzhab Al-Syafii, orang biasa (awam), tidak sekufu (se-imbang) menikahi Dzurriyah ‎Rasulullah SAW. Beragam argumentasi di bawa ke-hadapan KH Misbah, namun KH Misbah ‎tidak mempedulikan. Terakhir, KH Misbah berkata kepada santrinya yang bernama KH Aziz ‎Munif,

“Aku menikahi Syarifah sudah meminta ijin kepada Rasulullah SAW”.‎

Seketika itu KH Aziz Munif tidak bisa berkata apa-apa. Betapa dalamnya spiritual KH ‎Misbah, sudah bisa ijin langsung kepada Rasulullah SAW. Masih menurut KH Aziz Munif, ‎‎“KH Misbah itu seorang ulama besar, penulis kitab. Beliau menulis kitab, kemudian dicetak di ‎jual di Sunan Ampel. Hasil dari penjual kitab, dibagi-bagikan kepada Sharifah-sharifah yang ‎sangat membutuhkan”. Maka, jangan pernah mengajari Kyai NU memuliakan Dzurriyah ‎Rasulullah SAW.‎

Demikian penjelasan tentang tingginya penghormatan para Kiai NU kepada keturunan Rasulullah, semoga bermanfaat.

Malang, 23-05-2020

Penulis: Dr H Abdul Adzim Irsad, alumnus Universitas Ummul Quro Makkah.