Tiga Jenis Manusia

Posted on

Oleh K.H. Asyhari Abta, Mustasyar PWNU DIY dan Pengasuh Pesantren Tegalsari Sleman

Allah menciptakan manusia menjadi tiga golongan. Adapun golongan pertama yaitu golongan yang diibaratkan dengan seekor hewan. Kedua, manusia dengan jasadnya berbentuk manusia namun hatinya seperti setan. Terakhir, manusia yang mendapat naungan Allah di hari akhir di saat tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah.

Golongan manusia pertama, yaitu manusia yang seperti hewan. Mereka ini mempunyai hati namun tidak pernah digunakan untuk merasakan. Memakan makanan syubhat, bahkan haram. Mempunyai telinga namun tidak pernah digunakan untuk mendengarkan. Mempunyai mata namun tidak digunakan untuk melihat seperti layaknya manusia. Ibarat seekor hewan, mata yang dimiliki manusia ini hanya digunakan untuk melihat dua hal, yaitu makanan dan lawan jenisnya. Inilah sifat hewan. Ibarat seekor ayam, dalam hal makan ia dapat memilah antara beras dan pasir yang menjadi satu. Itulah gambaran dari manusia golongan ini. Orientasi hidupnya sederhana yaitu makan dan mencari pasangan atau lawan jenisnya. Inilah yang menjadi gambaran kebanyakan orang-orang saat zaman sekarang. Dua hal tersebut yang menjadi tujuan hidupnya. Bahkan dalam sebuah hadits dikatakan, “Barangsiaa mencari ilmu dengan tujuan dunia maka ia tidak akan mencium bau syurga.”

Golongan kedua, manusia yang mempunyai jasad manusia tetapi jiwa adalah setan. Lalu jiwa syetan itu seperti apa? Pertama, jiwa syetan adalah selalu mengajak dalam permusuhan. Ketika ada kedamaian ia tidak merasa tenang dan senantiasa berusaha untuk membuat kerusuhan. Adu domba inilah sifat setan. Pada saat Allah berfirman kepada syetan, bahwa Allah telah menetapkan syetan sebagai makhluk terlaknat. Kemudian syetan mengajukan syarat untuk dapat hidup sampai hari kiamat. Allah pun mengabulkan permintaan syetan. Sehingga tugas pokok syetan adalah menjerumuskan manusia ke dalam lembah kemaksiatan. Setan pernah ditanya Nabi Sholih, “Ada berapa macam manusia yang kamu hadapi?” Setan menjawab, “Golongan pertama manusia ibarat bola yang dimainkan anak kecil. Begitu mudah untuk digoda dan dirayu sehingga berbuat maksiat. Kedua, manusia yang dapat digoda namun ketika saya tinggal ia taat kembali kepada Allah. Terakhir adalah manusia seperti dirimu, sangat sulit untuk dijerumuskan ke dalam lembah kemaksiatan.”

Golongan terkahir adalah golongan manusia yang mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak. Pada saat itu tidak ada naungan sama sekali kecuali naungan dari Allah SWT. Manusia yang mendapat naungan Allah ini ada tujuh golongan yaitu imam yang adil, pemuda yang hatinya selalu tertaut pada masjid, orang yang melakukan hal apapun selalu diniati ibadah, orang yang menangis karena mengingat Allah ketika sepi, dua orang yang menjalin persaudaraan karena Allah, pemuda yang dirayu oleh janda namun ia mengatakan “Aku takut kepada Allah”, dan orang yang shodaqoh secara ikhlas sampai-sampai apa yang dishodaqohkan tangan kanan tidak diketahui oleh tangan kirinya. (charis)

Risalah ngaji ini disampaikan oleh KH. Asyhari Abta dalam Majelis Malam Selasa Pon di Masjid Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah, Umbulharjo, Yogyakarta dan ditulis ulang oleh santri Al-Luqmaniyyah Charismanto.