ngaji tarekat syatariyah

Tarekat Syathariyah yang Unik: Kesaksian tentang Akhlaq dan Keselamatan

Posted on

Saya tidak dalam posisi sebagai peneliti tentang tarekat itu, atau mengunggulkannya, apalagi mengklaim sebagai pengikutnya (karena saya bukan pengikutnya). Bagi saya semua tarekat yang masyhur adalah apik dan apik. Saya hanya ingin mengambil sisi uniknya.

Pada Maret 2002, saya berkunjung ke wasithah (sepadan dengan mursyid) Syaththariyah, yakni KH. Munawar Afandi di Tanjung, Nganjuk. Lalu saya diberi buku oleh beliau.

Yang unik dari buku ini adalah selain menggunakan istilah Arab, juga banyak menyerap istilah Jawa dalam tradisi tarekatnya (jangan dimaknai kejawen lho. Kalangan pesantren itu penyerap dan bijak terhadap tradisi. Kitab kuning itu jenggotnya juga pakai bahasa Jawa, kalau di Madura juga dimaknai dengan bahasa Madura dst).

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Istilah Jawa yang digunakan dari buku KH. Munawar Afandi semisal, sak mrico jinumput, ngemplok jagad, lakon lan pitukon, kumantilnya karo akon-akon, wani rekoso, wani lorolopo, wani melarat, sak dermo nglakoni, topo ing tengahing projo, narimo ing pandum, kumandel maring Allah, nyingkrih ono sak tengahing kalangan, puji wali kutub dll.

Satu lagi yang cukup menarik dari tarekat ini. Kapan hari saya ke Warujayeng dan bertemu dengan salah satu pengikutnya yang juga ahli pijat. Rumahnya asri, ramah lingkungan dan mengembangkan tanaman herbal plus lahan yang sempit itu ditamani sayuran serta ikan dengan penuh inovasi. Ada banyak cerita yang disampaikannya.

Baca Juga >  Ngaji Burdah 6, Tumpah Kepada Asal-Usul Segala Rindu Dan Cinta

Mata saya tertuju pada banner dan stiker yang tertulis “jatayu” ternyata kepanjangannya adalah jamaah tatanan wahyu.

Mata saya juga terkesan dengan stiker kecil dari jatayu yang tertulis, “Islam itu jangan dimaknai golongan atau kelompok. Islam itu totalitas keselamatan. Sebelum kesaksian keimanan, bagusi akhlak keselamatan.”

Saat ini banyak kelompok yang mengaku paling “Islam” dan merasa paling berhak menghakimi kelompok lain. Akhlak sesama manusia disingkirkan karena merasa paling benar dan dengan gampangnya menilai manusia dan kelompok lain sebagai sesat, kafir, syirik dll.

Mungkin stiker tersebut maksudnya itu. Kalau salah, mohon dikoreksi para pengikut Syaththariah.  Wassalam.

Penulis: Ainur Rofiq Al Amin, Pesantren Tambakberas Jombang.