makam mbah marzuqi giriloyo
Makam Mbah Marzuqi Giriloyo

Tarekat Mbah Marzuqi, Tarekat Orang Awam

Posted on

Oleh : Kareem Mustofa, Alumni PP Nurul Ummah, Yogyakarta

Ajaran-ajaran tasawuf atau tarekat pada pokoknya adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt yang bersumber langsung dari Rasulullah Saw kemudian diturunkan para sahabatnya seperti kepada kholifah yang empat sepeninggal Rasulullah Saw kemudian diturunkan kembali pada generasi Tabiin kemudian generasi tabiit tabiin kemudian sampai pada generasi ulama-ulama saat ini dan kesemuanya pertalian sanad yang sambung menyambung. Mengenai metode dan ajarannya sedikit ada perbedaan antara satu satu tarekat dengan lainnya sehingga menyebabkan bermacam-macam pula nama tarekatnya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Salah satu terekat yang dimaksud adalah Tarekat Syatariyah, Ulama yang dinisbahkan sebagai pendiri nama Tarekat Syathariyah adalah Syaikh ‘Abdullah al-Syathari (w.890 H/1485 M), seorang ulama yang memiliki hubungan kekerabatan dengan dengan Syihabuddin Abu Hafsh Umar Suhrawardi (w.632 H/1234 M). Syaikh Suhrawardi adalah ulama yang mempopulerkan Tarekat Suhrawardiyah. Tarekat ini merupakan kelanjutan dari sanad tarekat yang dikembangkan oleh Abu Yazid al Isyqi di Iran dan Asia tengah. Taerkat ini dikenal dengan Tarekat Isyqiyah.

Adapun yang masuk ke Indonesia, Tarekat Syathariyah dibawa oleh Ibrahim al Kurani (w.1690) diijazahkan kepada Syaikh Abdurrahman al Sinkel kemudian diijazahkan kembali kepada Syaikh Burhanudin Ulakan (Sumatra Barat) dan Syaikh Abdul Muhyi (Pamijahan). Sepeninggal Ibrahim al-Kurani, mursyid dilanjutkan putranya Syaikh Thahir Al-Kurani kemudian diijazahkan kepada Ibrahim Thahir kemudian Said Thahir kemudian kepada Muhammad As’ad dan terus dikembangkan sampai ulama nusantara, Kyai Asy’ari Kaliwungu, Kyai Abdurrouf, Kyai Romli Giriloyo sampai pada Kyai Marzuqi Giriloyo. Terdapat sumber informasi lain, Kyai Romli (Ayah Kyai Marzuqi) selain berguru pada Kyai Abdurrouf juga berguru kepada Kyai Mustofa (masih ditelusuri dengan mencari silsilah lain dalam kitab Risalah Syathariyah) dan bersambung sampai pada Kyai Abdul Muhyi Pamijahan.

Tarekat Syatariyah Mbah Marzuqi

Tarikat yang diajarkan Mbah Marzuqi sedikit berbeda dan punya karakter khusus dengan yang diajarkan kyai di tempat lain. Ajaran Mbah Marzuqi terkesan ringan dengan melaksanakan ajaran Rasulullah Saw melalui riwayat Sayyidina Ali bin Abi Thalib yaitu membaca kalimat tahlil, Laa Ilaha Illallahu sebanyak 100 kali setiap habis sholat Isya dan Shubuh, tentunya ajaran ini diamalkan oleh mereka yang sudah baiat. Maka tidak berlebihan, tarekat ini banyak diikuti oleh jamaah di beberapa wilayah di Yogyakarta karena kemudahan amalan, bahkan oleh orang awam sekalipun.

Baca Juga >  Membaca Tahlil untuk Almarhum Pak BJ Habibie, Apakah Sampai?

Tarikat Syathariyah yang disampaikan Mbah Marzuqi tidak menonjolkan dalam ritual-titual berat seperti suluk, kholwat sampai menginap (mondok) di suatu tempat. Bab ini berbeda dengan Tarikat yang sudah kita kenal lainnya seperti Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah Kholidiyah, dan/atau beberapa Tarekat lain yang kadang mensyaratkan harus melakukan ziarah atau safar.

Tarekat yang diajarkan Mbah Marzuqi ini adalah melakukan dzikir yang sama sekali tidak mengganggu aktivitas pekerjaan, sosial dari jamaah. Artinya sangat mudah bagi setiap orang untuk melakukannya. Pengenalan ajaran Tarekat ini tentunya dengan kesengajaan agar orang awam cukup mengenal dasar ajaran tarekat  namun tetap masih bisa menjalankan pekerjaan dan aktivitas lainnya.

Tarekat Kehidupan

Mbah Marzuqi selain mengajarkan Tarekat Syathariyah kepada jamaahnya juga menyampaikan hal –hal pokok dalam kehidupan bermasyakat. Tarekat kehidupan yang diajarkan oleh beliau adalah bagaimana masyarakat bisa berinteraksi dengan alam, memanfaatkan tanah yang tidak prosuktif dengan ditanami pohon jati, sengon, dan lainnya. Mbah Marzuqi juga mengajak mereka berwiraswasta seperti pengerjaan batik tulis, terapi gurah dsb. Bahkan beliau juga mengajak dan mempelopori pengerasan jalan di Giriloyo. Mbah Marzuqi juga mengajarkan praktik amaliyah (fiqh) yang sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran hukum syariat.

Bisa disimpulkan bahwa tarekat yang beliau ajarkan kepada jamaah sebenarnya adalah harmonisasi antara ajaran syariat dengan tasawuf, dan jamaah tarekat tidak diajarkan dengan hal-hal yang rumit yang sering disebut dengan tarekat falsafi. Tarekat Mbah Marzuqi lebih bercorak pada ajaran sunni yang memadukan dua hal pokok rersebut.

Sepeninggal Mbah Marzuqi, Tarekat ini cukup pesat perkembangannya dibuktikan dengan adanya Majlis Kautsaran, begibi sebutan untuk majlis tarekatan di beberapa tempat di seputaran Yogyakarta dan di majlis-majlis pengajian yang diampu putranya, KH. Ahmad Zabidi, KH. Habib Marzuqi (Alm) di Wates dan KH. Muslih Asyhari, menantu Mbah Marzuqi.

Doa dan Amalan Mbah Marzuqi

Beberapa doa dan amalan Mbah Marzuqi yang sampai saat ini masih diamalkan oleh murid atau jamaah adalah doa tolak musuh dengan membaca Ya Qadiim Ya Daiim Ya Ahad Ya Wahiid Ya Shomad dibaca 7 kali dan doa rizki dengan membaca Ya Lathiif dua puluh Sembilan kali dilanjutan membaca Allahu LLathiifun Bi’ibadihi Yarzuqu Man Yasyaa wahuwal Qowiyyul ‘Aziz.