Tahun 1885, Quran India, Tanpa Waru di Alfatihah

Posted on

“Quran ini, dan dua quran cetak kuno lainnya sudah ada di atas api pak. Bukan mau dibakar, tapi sudah dibakar sama sodara saya. Kebetulan saya datang. Saya ambilnya. Saya simpen saja. Eeh.. kebetulan ente datang”. Itu kisah Pak Azim Amin. Quran itu sekarang saya simpan. Dua Quran lainnya cetakan India abad ke-19 dan Cetakan Cirebon 1933 M.

Quran India ini berbeda dengan Quran India yang saya posting kemarin: tahun terbit, tanda baca dan penerbitnya.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Selain Timur Tengah dan Singapura, arus buku-buku Islam termasuk Al-Qur’an datang juga dari India. Kota yang banyak menerbitkan buku-buku Islam yaitu Bombay (India) dan Lahore (Pakistan).

Beberapa buku karya ulama Nusantara seperti Syeikh Saleh Darat, Syeikh Daud al-Fattani, dan Abdussamad al-Falimbani juga pernah diterbitkan di India dan didistribusikan di Singapura. Hal tersebut tidak aneh, karena pada saat itu Singapura dan India merupakan koloni Britania Raya.

Pada gambar lembar tashih, dijelaskan bahwa salah satu Al-Qur’an cetakan India ditulis oleh al-Hajj Muhammad Samah pada bulan Rajab tahun 1304 atau 1886 M. Dicantumkan juga nama para musahhih (tim pentashih), yaitu Sayyid ¦asan Qādiri, Sayyid Qamaruddīn, al-¦ajj A¥mad Samah, al-Hāfiz Abdullāh, Maulawi Muhammad, Sayyid Wali Muhammad, Mu¥ammad ¦asan Sayyid Bagdādi. Dicantumkan juga nama-nama imam qiraat empat belas. Pada bagian lain ditulis bahwa Al-Qur’an ini dicetak di Ma¯ba’ah al-Mu¥ammadiyyah.

Seperti cetakan Mesir, Al-Qur’an India sudah menggunakan teknik cetak modern; kertas warna coklat kekuningan; berdimensi sedang, yaitu 24,5 cm x 17 cm; dan teknik penjilidan menggunakan benang. Tulisan berwarna hitam dan hiasan pada bagian depan dan belakang dengan warna merah. Bergaya khat naskhi tebal, terdiri atas 13 baris setiap halaman.

Baca Juga >  Katib Aam PBNU: Meredakan Konflik, Mencegah Keruntuhan Peradaban

Terdapat dua bingkai tulisan, bingkai besar untuk ayat Al-Qur’an dan bingkai kecil di tepi halaman untuk catatan ayat dan simbol lainnya. Setiap manzil terdapat hiasan pada tepi halamannya. Pada bagian awal mushaf (halaman Surah Al-Fatihah dan Al-Baqarah) terdapat gambar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kedua model gambar tersebut juga terdapat pada buku pelajaran mengaji yang disebut Turutan.

Al-Qur’an India belum menggunakan nomor ayat, dan pemisah ayat hanya berupa lambang bulat; menggunakan nomor halaman (583 halaman); menggunakan rasm usmani, bahkan dipertegas pada halaman akhir. Pada bagian atas halaman terdapat penunjuk juz, nama dan nomor surah, serta nomor halaman; di tepi halaman terdapat catatan perbedaan qiraat serta penanda juz, rubu’, nisf dan sumun; bagian bawah halaman terdapat kata alihan; sudah menggu¬nakan tanda waqaf. Pada bingkai awal surah ditulis nama surah, jumlah ayat dan tempat turunnya surah. Tidak menggunakan sistem ayat pojok. Al-Qur’an India merupakan salah satu cikal bakal pencetakan massal Al-Qur’an di Indonesia dan disebut “Al-Qur’an Bombay”, dengan ciri khas hurufnya tebal.

(Penulis: Hakim Najib Syukrie, Lajnah Pentashih Al-Qur’an Kemenag RI)