Al-Qur’an cetakan yang juga tersebar pada paruh kedua abad ke-19, atau pada masa transisi, adalah Al-Qur’an cetakan Mesir. Meskipun begitu, masyarakat lebih familiar menyebutnya dengan “Al-Qur’an Istanbul” atau “Stanbul”. Tidak seperti cetakan Palembang dan Singapura yang masih menggunakan teknologi cetak batu, Al-Qur’an Istanbul sudah menggunakan cetakan modern. Nama serta logo penerbit dicantumkan dalam Al-Qur’an tersebut. Salah satu penerbit yang terkenal adalah Maba‘ah Musafa al-Bābī al-alabi, Mesir.
Pada mushaf koleksi Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal tertulis tahun penulisan 1299 H (1881). Al-Qur’an ini menjadi rujukan dalam penulisan “Al-Qur’an Ayat Sudut” yang menjadi salah satu Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia. Al-Qur’an serupa terdapat di perpustakaan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dan beberapa tempat lainnya.
Al-Qur’an ini memiliki ciri-ciri antara lain didominasi warna hitam kecuali pada bagian awal; rasm usmani; menggunakan sistem ayat pojok; belum menggunakan nomor ayat; 15 baris setiap halaman; jumlah halaman 610 halaman; pada bagian atas halaman terdapat penunjuk juz, nama surah dan nomor halaman; kata alihan terdapat di bawah halaman kanan; tepi halaman terdapat penanda ruku’, ayat sajdah, juz, rubu’ dan sumun; pada halaman terakhir terdapat doa khatmul Qur’an dan tarikh selesainya penulisan dan pencetakan Al-Qur’an.
(4) Catatan menarik lainnya dari sebaran Al-Qur’an Istanbul adalah beredarnya juga Al-Qur’an mini (berdimensi sekitar 2 x 1,5 x 1 cm). Salah satu jenis Al-Qur’an mini yang penulis temukan dapat dibaca bahwa mushaf tersebut dicetak di Mesir (Ma¯ba’ah al-Mi¡riyyah) pada akhir abad ke-19. Al-Qur’an mini bukan hanya dari Mesir, tetapi juga dari India. Namun masyarakat terlanjur menyebutnya sebagai “Al-Qur’an Istanbul”.
(Penulis: Hakim Najib Syukrie, Lajnah Pentashih Al-Qur’an Kemenag RI)








