Peta Kerajaan Demak

Sultan Trenggana Dalam Jejak Historis Bagian Satu

Posted on

Saat kita melakukan perjalanan darat dari Kota Semarang ke Kota Kudus, Jawa tengah, ketika melewati alun-alun Demak, di sebelah kiri terlihat Masjid Agung Demak.

Meskipun bangunan ini telah mengalami beberapa kali perbaikan, Masjid Agung berada di bekas kota pusat Kerajaan Demak. Bagi yang memahami tentang sejarah sejarah Kota Demak, ingatannya seolah diajak berekreasi pada peristiwa sekitar 500 tahun silam, di mana kerajaan Islam pertama di Jawa berdiri tidak jauh dari lokasi tersebut.

Peninggalan artefak menandakan bahwa di akhir abad ke-15 lahirlah penguasa Islam Demak, Raden Patah, dan penerusnya seperti Adipati Unus, Sultan Trenggana, dan Sunan Prawata.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Pada abad ke-16, melalui Kerajaan Demak, Islam menunjukkan eksistensi sebagai kekuatan religi, politik, sosial, dan ekonomi. Jejak-jejak historis terlihat nyata dalam bentuk artefak yang masih dapat dilihat hingga saat ini.

Ketika ada sebagian masyarakat menyangsikan keberadaan Sultan Trenggana sebagai pemimpin Demak, pandangan tersebut tidak menjadi masalah sepanjang didukung oleh data dan fakta historis.

Penulis mencoba memaparkan eksistensi penguasa kerajaan Islam Demak, utamanya Sultan Trenggana. Berdasarkan  fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa Demak mengalami kemajuan pada periode Sultan Trenggana.

Bagi masyarakat Demak, Sultan Trenggana adalah pahlawan kultural masyarakat. Sebagian besar masyarakat mengetahui sejarah, eksistensi, dan kiprah Sultan Trenggana sebagai tokoh regional yang berkontribusi pada perjuangan.

Wilayah kekuasaannya saat itu meliputi hampir seluruh Jawa, sebagian Sumatra, dan pengaruhnya hingga ke Malaka. Oleh karena itu, artikel ini memaparkan keberadaan, eksistensi dan peran  Sultan Trenggana sebagai penguasa ketiga Kerajaan Islam Jawa (Demak).

Demak dalam historiografi

Berbicara tentang Demak, sudah banyak literatur yang menggambarkan tentang kerajaan Islam pertama di Jawa ini. Raden Patah adalah pendiri dan raja yang menganut agama Islam di Jawa.

Sebelum Demak eksis, wilayah ini menjadi vasal Majapahit. Menurut Babad Tanah Jawi, tumbuhnya kota pusat kerajaan Demak di Bintara yang diperintah oleh Raden Patah atas petunjuk Sunan Ampel, salah seorang Wali Sanga.

Raden Patah berkuasa pada akhir abad ke-15 sampai dengan 1518. Penguasa ini menikah dengan putri Tiongkok yang kemudian berputra enam orang.

Selama masa kekuasaan Raden Patah hingga Sultan Trenggana, Demak merupakan pusat penyebaran agama Islam dan pusat kekuasaan politik, yang memegang peranan penting dalam bidang perdagangan.

Pada periode ini, komoditas dagang antara Demak, Malaka, dan daerah lain yang utama adalah beras. Hubungan perdagangan tersebut mulai terganggu sejak Malaka  dikuasai Portugis pada 1511.

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menimbulkan perimbangan baru dalam bidang politik dan ekonomi. Bagi Demak, Malaka adalah pasar beras dan rempah-rempah.

Keberadaan Portugis di Malaka sangat mengganggu aktivitas perdagangan dan pelayaran pedagang Demak, terlebih Portugis menganggap orang Islam adalah lawannya dan harus ditaklukkan. Sehingga Portugis menyerang pusat-pusat kedudukan Islam untuk merebut perdagangan mereka.

Pasca-Raden Patah, penggantinya adalah Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, yang memerintah pada 1518 hingga 1521. Adipati Unus meninggal pada usia sangat muda dan belum mempunyai keturunan. Wafatnya Adipati Unus memunculkan instabilitas karena ia tidak berputra sehingga mengakibatkan terjadi perebutan kekuasaan sesama keturunan Raden Patah, yaitu antara Pangeran Sekar Seda ing Lepen dan Sultan Trenggana. Dan yang akhirnya berkuasa adalah Sultan Trenggana.

Sultan ini hidup pada 1487-an hingga 1546 dan berkuasa di Demak dari sejak 1521 hingga 1546.

Sumber yang menjelaskan tentang historiografi Demak mendasarkan pada catatan perjalanan Portugis yang menulis peristiwa secara cermat. Kronologinya sangat teliti, kadang terdapat keterangan hari dan tanggal.

Dalam mendeskripsikan tentang Sultan Trenggana, selain berbasis pada catatan perjalanan juga menggunakan karya penulis Belanda dan sumber tradisional.

Historiografi tradisional digunakan untuk mengisi sejumlah besar kekosongan yang memberi informasi sejarah sangat penting. Sumber sejarah tradisional mempunyai kedudukan penting sebagai pembanding sumber Eropa karena secara substansial, sumber tradisional memuat pengetahuan tentang berbagai peristiwa dan keadaan sesuai dengan pola pikir masyarakat lokal pada zamannya yang tidak disebut dalam sumber barat. Sumber ini berguna untuk melakukan crosscheck dengan sumber Eropa. Di sisi yang lain, sumber Eropa kurang memiliki informasi tentang berbagai keadaan yang sesungguhnya.

Penulis: Alamsyah, Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro