Sultan Trenggana Dalam Jejak Historis Bagian Dua (Habis)
Sultan Trenggana dengan berbagai sebutan seperti Ki Mas Palembang (Sadjarah Banten), Molana Trenggana (Hikayat Hasanudin), Arya Trenggana (Cornelis de Bruin), Pate Rodin Jr (Tomi Pires), dan Sultan Trenggana (Babad Demak) adalah tokoh yang berperan penting dalam perjalanan kerajaan Demak (de Graaf dan Th Pigeaud, 1958:4-47; Tim Pemda Demak, 1991: 40).
Secara genealogis, Sultan Trenggana merupakan putra dari Raden Patah hasil perkawinannya dengan putri Tiongkok. Dari perkawinan ini melahirkan enam orang putra. Anak pertama seorang putri bernama Ratu Mas yang diperistri oleh Pangeran Cirebon. Adik-adiknya laki-laki yaitu Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Sekar Seda Lepen, Pangeran Trenggana, Raden Kanduruwan, dan Raden Pamekas.
Meskipun dalam versi lain mengatakan Raden Patah mempunyai beberapa putra dan putri yang lahir dari tiga ibu. Adipati Unus dan Pangeran Trenggana lahir dari putri Sunan Ampel. Sementara Pangeran Sekar (Pangeran Seda Lepen) lahir dari putri Adipati Jipang. Pangeran Seda Lepen lebih tua dari pada Pangeran Trenggana tetapi ia lahir dari istri ketiga, sedangkan Pangeran Trenggana lahir dari istri pertama.
Sultan Trenggana Dalam Jejak Historis Bagian Dua (Habis)
Keberadaan Sultan Trenggana secara eksplisit termaktub dalam Babad Tanah Djawi dan Babad Demak 1. Dalam Babad Demak 1, Sultan Trenggana mempunyai enam putra-putri, yakni Pangeran Mukmin yang diangkat menjadi wali oleh Sunan Giri dengan sebutan Sunan Prawata. Lalu, seorang putri yang menikah dengan Pangeran Langgar, putranya Kiai Gede Sampang Madura.
Ketiga, seorang putri yang menikah dengan Pangeran Hadiri, Bupati Kalinyamat. Keempat, seorang putri yang menikah dengan Bupati Pajang Hadiwidjaya (Jaka Tingkir). Kelima, seorang putri yang menikah dengan seorang Panembahan Pasarean, putranya Fatahillah (Sunan Gunung Jati Cirebon). Terakhir, seorang laki-laki dengan julukan Pangeran Timur yang kemudian diangkat menjadi Bupati Madiun dengan sebutan Panembahan.
Hal ini dijelaskan dalam kutipan di bawah:
“Sultan Trenggana tilar putra 6 jaiku: 1. Pangeran Mukmin, wis diangkat dadi wali dening Sunan Giri, djuluk Sunan Prawata, 2. Putri, daup entuk Pangeran Langgar, putrane Kyai Gede Sampang, dedalem ana ing Madura. 3. Putri, daup entuk Pangeran Hadiri, Bupati Kalinjamat. 4. Putri, daup entuk Bupati Padjang Hadiwidjaja (Djaka Tingkir). 5. Putri, daup entuk Panembahan Pasarean, putrane Patahillah (Sunan Gunungdjati), Tjerbon. bareng dadi randa marga ditilar seda garwane bandjur karma ngarangulu entuk Hasannudin bupati Banten. 6. Kakung, djuluk Pangeran Timur, kang bandjur diangkat dadi bupati ana ing Madiun lan ketelah disebut Panembahan.” (Atmodarminto, 1955: 116)
Keberadaan Sultan Trenggana juga terdapat dalam Babad Demak 2 dan karya de Graaf, De Regering Van Panembahan Sénapati Ingalaga. (1954: 114; Sabariyanto, 1981: 23 dan 138).
Sumber tradisional tentang Sultan Trenggana diperkuat dengan sumber Eropa (Portugis) karya Fernao Mendes Pinto (1510-1583) berjudul Peregrinacao atau Ziarah.
Sultan Trenggana Dalam Jejak Historis Bagian Dua (Habis)
Tulisan Pinto ini menggambarkan bahwa Raja Demak, Sultan Trenggana, pada 1546 telah menguasai Jawa, Angenia, Bali, dan Madura. Sultan juga mengirim utusan seorang perempuan ke Banten dengan tujuan meminta bantuan untuk melakukan ekspansi ke beberapa wilayah termasuk melawan pengaruh Portugis.
Pinto melukiskan tentang pertempuran Demak bersama dengan Pasuruan ke Blambangan, Pajarakan, dan Panarukan. Dalam eskpedisi ini menyebabkan Sultan Trenggana meninggal dunia (de Graaf , 1958: 58).
Dari fakta di atas menunjukkan adanya eksistensi Sultan Trenggana, sebagai penguasa Demak.
Eksistensi Sultan Trenggana.
Sultan Trenggana merupakan Sultan ke-3 Kerajaan Islam Demak yang memerintah pada 1521 hingga 1546 atau selama 25 tahun. Dia menggantikan Adipati Unus (1518-1521).
Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana, upaya yang dilakukan adalah perluasan kekuasaan dengan mengirim pasukan di bawah pimpinan Falatehan, tokoh yang menikah dengan saudara perempuan Sultan Trenggana.
Joao de Barros dalam bukunya Da Asia menggambarkan relasi antara Sultan Trenggana dan dengan Falatehan, yang merupakan putra Pasai yang kecewa ketika wilayahnya dikuasai oleh Portugis. Akibatnya dia mengembara ke Demak sekaligus menyebarkan agama Islam.
Di wilayah ini, Falatehan menikahi seorang saudari raja. Atas izin Raja Demak Sultan Trenggana, sekitar 1525 hingga 1527, Falatehan pergi ke Banten untuk menyebarkan agama Islam serta merebut Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Kalapa dari kekuasaan Raja Sunda.
Kontribusi Falatehan, sebagai pendiri Banten, terhadap Sultan Trenggana terlihat dalam ekspansi ke arah barat sekitar 1525. Dari wilayah ini dilakukan ekspedisi ke pedalaman dan ke pelabuhan-pelabuhan lain, terutama ke Sunda Kelapa yang ditaklukkan pada 1527.
Peristiwa pendudukan Sunda Kelapa ini menggagalkan Portugis –di bawah pimpinan Henri Leme– melakukan perjanjian dengan raja Sunda. Jadi, ekspansi Demak ke Jawa Barat tujuannya untuk mendahului kemungkinan dominasi orang Portugis, yang sebelumnya singgah ke daerah ini.
Begitu pula kemenangan Hasanudin, putra Falatehan, menduduki Sunda Kelapa ditandai oleh penggantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Dalam perkembangannya, Hasanudin memerintah di Banten, sedang Falatehan melanjutkan ekspansi ke Cirebon.
Menurut historiografi Banten, Hasanudin dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banten dan dia kawin dengan putri Sultan Trenggana pada 1552. Dari perkawinannya itu, lahir dua orang putra, yakni Maulana Yusuf dan Pangeran Jepara.
Selain ke wilayah barat, Sultan Trenggana melakukan ekspansi ke daerah-daerah Jawa Timur, daerah bekas vasal Kerajaan Majapahit. Dalam ekspansinya, pada 1527, salah satu negara vasal Majapahit, Tuban, dapat ditaklukkan. Wilayah lain yang juga dikalahkan oleh Sultan Trenggana adalah Wirasari pada 1528, Gegelang (Madiun) pada 1529, Medang Kamulan (Blora) pada 1530, Surabaya (1531), Pasuruhan (1535), Lamongan, Blitar, Wirasaba, ketiganya ditaklukkan pada 1541-1542, Gunung Penanggungan sebagai benteng elite religius Hindu-Jawa pada 1543, Mamenang (Kediri) pada 1549, dan Sengguruh (Malang) pada 1545.
Sasaran akhir Sultan Trenggana adalah Panarukan dan Blambangan. Pada 1546 Blambangan dapat ditaklukkan. Namun, pada masa tersebut, Sultan Trenggana gugur dalam pertempuran ke Panarukan.
Pada masa Sultan Trenggana ini beberapa wilayah di bawah pengaruhnya adalah Sumatra di daerah Palembang dan Jambi serta pulau Kalimantan.
Sebagai kerajaan maritim, Sultan Trenggana menguasai pusat-pusat ekonomi maritim yaitu pelabuhan yang berada di bawah pengaruh Sultan Trenggana seperti Tuban, Jepara, Sidayu, Kotakembar, Jaratan, dan Gresik.
Dari gambaran tentang perjalanan Sultan Trenggana menunjukkan bahwa sosok ini adalah tokoh riil yang telah memberi kontribusi bagi Nusantara. Semangat untuk mengeliminasi pengaruh Portugis di Jawa begitu kuat. Kolaborasi dalam membangun hubungan diplomasi dengan beberapa wilayah seperti Banten, Cirebon, Sumatra, dan Kalimantan telah dilakukan cukup intens.
Dia mempunyai semangat untuk melawan Portugis mengikuti jejak pendahulunya, salah satunya menghalau Portugis dari Sunda Kelapa untuk membendung pengaruh Portugis. Tradisi perlawanan penguasa Demak telah diajarkan jauh sebelum Sultan Trenggana menjadi penguasa, dan tradisi ini dilanjutkan oleh keturunannya, salah satunya adalah Ratu Kalinyamat.
Puncak pengabdian Sultan Trenggana berakhir pada 1546 dan posisinya digantikan oleh anaknya yaitu Sunan Prawata.
Demikian Sultan Trenggana Dalam Jejak Historis Bagian Dua (Habis). Semoga bermanfaat.
Penulis: Alamsyah, Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro






