Sukses Berangkat Haji Berkah Ijazah Sholawat dari Gus Mus- Keasyikan kami mendengar wejangan Gus Mus berhenti ketika ada tamu seorang ibu paruh baya yang ingin sowan Gus Mus. Karena lagi asyik, Gus Mus memerintahkan putrinya untuk menemui ibu tersebut, setelah meneruskan ceritanya beberapa saat baru beliau menemuinya di sisi lain ruang tamu yang ada di hadapan kami. Meski tak mendengar tapi kami bisa melihat, ibu itu tampak bicara serius di hadapan Gus Mus. Setelah diberi wejangan oleh Gus Mus ibu itu pulang dengan wajah yang lega.
“Saya itu pernah dikira dukun,” ucap Gus Mus yang disambut tawa ria kami semua.
“Waktu itu,” lanjutnya, “ada tetangga yang ingin berangkat haji, lha uangnya kurang kemudian datang ke sini. Kayaknya sih mau pinjem untuk menutupi kekurangannya tersebut.”
Kami semua mendengarkan serius sambil sesekali tertawa lapas karena Gus Mus menyampaikan ceritanya juga sambil canda.
“Setelah panjang lebar orang tersebut bercerita kemudian saya tanya,” kata Gus Mus melanjutkan ceritanya, “kira-kira berapa kekurangannya?”
“Masih kurang enam juta, Gus,” orang tersebut langsung menjawab.
Kekurangan enam juta waktu itu ya sama dengan ongkos satu orang naik haji. Dan ternyata benar karena orang tersebut memang ingin naik haji dengan istrinya sementara dana yang ada baru cukup untuk dirinya.
Mendengar jumlah kekurangan yang sangat besar kemudian Gus Mus bilang:
“Sampean mau baca shalawat?”
Dengan yakin orang tersebut menjawab, “Mau, Gus. Berapa kali?”.
“Ya sudah karena kekurangannya enam juta ya kamu baca sholawat enam juta kali,” jawab Gus Mus.
Mendengar jawaban enam juta kali orang tersebut langsung lemes.
“Gimana, gak kuat ya? Terlalu berat?” tanya Gus Mus.
“Gak bisa dikurangi, Gus?”
“Ya sudah enam ratus ribu kali,” kata Gus Mus.
“Masih berat, Gus,” kata orang tadi.
“Kalau begitu enam puluh ribu kali, udah”.
Kami semua tertawa karena membayangkan tawar menawar baca sholawat seperti menawar barang di pasar.
Mendengar jumlah enam puluh ribu kali orang tersebut masih tanya lagi: “apakah bacanya bisa dibagi-bagi dengan seluruh anggota keluarga Gus?”
“Bisa saja,” jawab Gus Mus.
Setelah mendengar jawaban Gus Mus orang tersebut pamit pulang dengan wajah penasaran, “wong kesini mau pinjem duit kok malah disuruh sholawatan” demikian kata Gus Mus membayangkan perasaan tamunya yang disambut tawa kami semua.
Tapi sekitar seminggu kemudian orang tersebut datang lagi. Sambil terharu dan bahagia bercerita bahwa baru saja didatangi seseorang untuk membayar hutang sejumlah enam juta. Hutang itu dilakukan beberapa tahun lalu yang dia sendiri sudah lupa dan baru ingat ketika yang hutang datang membayar.
“Sejak saat itu dia percaya betul kalau omongan saya manjur,” kata Gus Mus.
“Padahal itu kan karena shalawat yang dia baca itu. Makanya banyak-banyaklah baca shalawat dan istighfar setiap hari agar diberi kemudahan dan jalan keluar oleh Allah,” demikian Gus Mus memberi nasehat pada kami.
Kejadian seperti ini biasa terjadi di kalangan pesantren dan banyak dialami masyarakat yang meminta arahan dan doa pada kyai. Semua ini makin memperkuat asumsi kami bahwa spiritualitas merupakan bagian yang penting dan tak terpisahkan dalam sistem pengetahuan Islam Nusantara. Spiritualitas bukan antitesa dari rasionalitas dengan pola hubungan yang kontradiktif-konfrontatif. Tapi sebaliknya dalam sistem ilmu pengetahuan Islam Nusantara spiritualitas merupakan pasangan dari rasionalitas, keduanya membentuk hubungan yang setara dan komplementer.
Berbagai kejadian irrasional namun faktual dan empiris yang terjadi di kalangan para masayikh dan dirasakan oleh masyarakat merupakan bukti adanya kekuatan spiritual. Lalu bagaimana pesantren mentransmisikan sistem pengetahuan spiritual pada para santri? Metode apa yang dipakai dalam proses transmisi ilmu spiritual?
*Ini adalah catatan perjalanan anjangsana Islam Nusantara STAINU Jakarta, tahun 2017.

________________
Semoga artikel Sukses Berangkat Haji Berkah Ijazah Sholawat dari Gus Mus ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..
simak artikel terkait di sini
kunjungi juga channel youtube kami di sini
Penulis: Al-Zastrouw Ng, dosen UNU Indonesia, Jakarta.
Editor: Anas Muslim









Tawasasul solawat jibril ke siapa saja?