Idul fitri

Suasana Idul Fitri di Zaman Nabi

Posted on

Oleh: Qowim Musthofa, Dosen IIQ An Nur Yogyakarta, Santri An Nur Ngrukem, Pedagang Buku

Idul Fitri atau lebaran, atau orang Jawa bilang Bodho tulisannya Badha, mengucapkan o tidak sebagaimana huruf o pada kata orang, ombak, nanti artinya jadi bodoh. Bahaya. Bagi yang tidak tahu bahasa Jawa bisa bertanya temannya, gimana cara pengucapan Bodho yang berarti lebaran dan Bodho yang artinya bodoh.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Pada cuplikan video pendek, di Instagram tentunya. Cak Nun mengatakan bahwa tradisi mudik, silaturahim ke sanak saudara dan tetangga di hari lebaran itu tidak ditemukan di dunia manapun kecuali di Indonesia. Saya pikir-pikir kok iya ya, di belahan dunia mana yang lebaran hingga satu minggu, bahkan sampai ada kupatan, halal-bihalal, banian, kumpul trah, dan bagi-bagi amplop misalnya.

Tak jarang bagi perantau, lebaran ini momen yang penuh dengan tantangan mental dan psikis. Mulai dari ditanya soal nikah bagi para jomlo, atau , bagi yang sudah berkeluarga harus nyiapin tiket pulang-pergi, uang saku, jajan, dan tentunya angpao untuk saudara krucil-krucilnya.

Bid’ah lagi bid’ah lagi.

Sebentar, sebentar, sabar, yang sabar yang sabar ini ujian. Eh, ini lebaran…

Hari Ied ini, keberadaannya adalah sebuah keniscayaan, kata Nabi “Semua orang itu punya hari raya, Nah bagi kita lebaran ya hari ini (Idul fitri dan adha)” Perhatikan dawuhnya Nabi, semua orang, ya semua orang punya hari lebaran, mulai dari umat Yahudi, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghucu, hingga Gatholoco dan Kaum Samin pun, punya. Silahkan cari sendiri-sendiri badhane agama-agama tersebut.

Mudahnya begini, bagi petani lebarannya ya panen, bagi pedagang lebarannya ya hitung untung, bagi pegawai lebarannya ya THR-an/Gaji ke 13, bagi Jomlo lebarannya ya menikah itu.

Lalu, gimana sih suasana Lebaran di Zaman Nabi. Nah ini silahkan disimak.

Pertama, ke masjid itu jalan kaki, jangan naik motor bahkan mobil. Cari masjid atau tanah lapang yang digunakan untuk shalat Ied. Kalau kita mau jujur ya, yang sunnah itu di tanah lapang, luas, bukan di masjid. Hihihi.

Hayooo, yang terbiasa di masjid jangan baper. Di masjid ya boleh kok, kalau masjidnya muat.

Berjalan kaki ini hukumnya sunnah, makanya dianjurkan cari masjid yang dekat-dekat saja dan jangan lupa sarapan dulu, ini sunnahnya. Sarapan itu penting, biar ndak baper liat mbak-mbak yang makbrol makbrol keluar semua dari rumahnya. Ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali, jangan khawatir statusnya hasan kok. (Sunan Tirmidzi, hadis no 530)

Lho, emang boleh perempuan ikut salat Ied? Boleh, bahkan orang yang sedang haid pun boleh nimbrung ndengerin khotbah, tapi tempatnya harus dibedakan dengan orang yang salat, ini khusus ketika salat di tanah lapang, bukan di masjid.

Baca Juga >  Tiga Langkah dalam Merawat Kebaikan

Sunnahnya lagi, pergi-pulang ke masjid jangan lewat jalan yang sama, jika berangkatnya melewati yang pertama, maka pulangnya lewat jalan lain yang beda dari jalan pertama berangkat. (Tirmidzi, hadis no. 541)

Kedua, tidak perlu adzan dan iqamat, dan tidak perlu shalat sunnah sebelum atau sesudah shalat Ied. Tapi kalau salatnya di masjid ya monggo salat sunnah tahiyat masjid dulu.

Ketiga, boleh-boleh saja memainkan alat musik seperti rebana. Ada hadisnya? Ada. Di hari lebaran ketika Rasulullah sedang di rumah bersama Aisyah, ada dua perempuan yang sedang bermain rebana (duff), dimungkinkan sekali sambil bernyanyi, mungkin lho ya. Kemudian Sayyidina Abu Bakar masuk sambil marah-marah “Apa kalian ingin syetan berjoget-joget ria di dalam rumah Nabi?” sentak Abu Bakar.

Namun apa kata Rasul?. “Biarkan saja, Abu Bakar. Hari ini kan lebaran.” Kata nabi santai saja. (lihat shahih muslim, hadis no. 892-893)

Keempat, menyantuni anak yatim. Nah ini, bisa jadi dalil bagi-bagi angpao. Alkisah, di hari lebaran ada sekumpulan anak-anak kecil bermain-main dengan riang gembira, namun ada satu dari mereka yang menangis, perutnya lapar dan tidak punya baju baru. Kanjeng Nabi lalu mendekatinya.

“Kok nangis kenapa, Le?.” Sapa Nabi.

“Ya biarin, tinggalin aku sendiri.” Kata anak kecil itu sambil tersedu-sedu, ia ndak tahu kalau yang bertanya adalah Nabi. “Ayahku sudah meninggal ketika ikut perang bersama Nabi, ibu saya menikah lagi, saya diusir dari rumah.” Tambahnya sambil menangis.

“Gimana kalau saya jadi bapakmu, Aisyah jadi Ibumu, Fathimah jadi saudaramu, Ali jadi pamanmu dan Hasan Husen jadi saudaramu?. Kamu seneng ndak, Le?” Kanjeng Nabi ramah sekali.

Seketika itu anak kecil tersebut riang gembira, ia diajak pulang bersama nabi, disuruh makan, diberi pakaian, dan tentunya dikasih uang.

Pada saat anak kecil itu keluar dari rumah Nabi dalam keadaan kenyang dan memakai baju baru, lalu menceritakan hal ini kepada teman-teman sebayanya, yang lain berkomentar “Wah, andai saja ayah saya mati di medan perang ya?.”

Cerita ini pernah dideklamasikan oleh seorang perempuan cantik di youtube, saya menitikkan air mata ketika melihatnya. Ternyata hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, lihat kitab Tarikhul Kabir juz 1, hlm. 395.

Oh iya, terakhir. Kelak di surga kita juga bisa lebaran loh. Lebarannya seminggu sekali di tiap hari Jumat. Di hari itu nanti kita bisa sowan ke Arsy untuk bertemu langsung kepada Allah. semoga kelak kita bisa bersama-sama berkumpul di sana, saling bercerita tentang fasilitas-fasilitas yang kita dapatkan di surga, bersama Rasulullah dan para kekasihnya dan semua orang yang kita cintai.