Sosoknya Ramah, Vokal Suara Gus Sholah Serak dan Landai

gus sholah

Vokal Gus Sholah serak dan landai. Ramah. Seingat saya beliau kerap berbaju putih dan berpeci hitam. Pembawaannya tak “seheboh” Gus Dur, kakak kandungnya. Tak frontal. Juga tak merokok. Saya merasa lumayan “janggal” menyaksikan kiai yang tak merokok. Tentu perasaan saya ini tak penting.

Sejak di Jombang, saya terpengaruh sebagian orang di lingkaran dekat Gus Sholah di Pesantren Tebuireng sehingga saya ikut menyebutnya dengan inisial “GS” khususnya saat bercakap dengan sebagian teman-teman saya di Tebuireng.

Tadi siang saya menerima kabar bahwa GS terbaring kritis di rumah sakit. Saya tak terlalu kaget sebenarnya. Sebelumnya saya sudah beberapa kali mendengar berita GS kerap ke rumah sakit. Kondisi kesehatan fisiknya naik-turun. Namun malam ini saya sangat bersedih membaca kabar tentang GS.

GS wafat. Al-Fatihah… Semoga lapang dan damai, Gus… Lalu saya teringat sejumlah hal.

Saya mulai mengenal dan berinteraksi dengan GS di Jakarta pada belasan tahun silam. Jamaah NU Miring pernah menghadirkan GS (bersama Yudi Latif dan Ahmad Tohari) sebagai pembahas sebuah buku yang memuat tulisan-tulisan Jamaah NU Miring (terbit pada 2010) di Jakarta.

Saat bertemu GS di rumahnya di Jakarta, saya (bersama Sahlul Fuad) sempat berbincang agak lama ihwal pesantren dan NU dengan beliau. Saat itu GS sudah menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau kerap wira-wiri Jombang- Jakarta.

“Sebelum di Tebuireng saya mengira pesantren adalah masa silam. Setelah saya berkecimpung di Tebuireng, saya baru paham ternyata pesantren adalah masa depan,” aku GS yang sejak 2006 menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng.

Saya kemudian lebih sering bertemu dengan GS setelah saya mukim di Jombang. Terobosan-terobosan idenya untuk pengembangan Pesantren Tebuireng kerap terlontar dalam sejumlah percakapan di Ndalem pesantrennya.

Saya ingat bertemu di Ndalem Pesantren Tebuireng pada pekan pertama Idul Fitri yang saya lupa tahunnya. Kebetulan GS sedang bersama Gus Kikin (pengasuh Tebuireng saat ini) di Ndalem-nya. “Nah, kenalkan ini seniman,” kata GS memperkenalkan saya ke Gus Kikin.

Tebuireng sejak dalam kepengasuhan GS memiliki performa yang berbeda. Menurutnya, manajemen pesantren saat ini merupakan hal yang sangat penting. “Tak mungkin sekarang ini kiai pengasuh pesantren seperti Mbah Hasyim Asyari,” ujarnya.

Saya kemudian melihat GS lebih sebagai “Kiai Manajer” dan bukan “Kiai Kitab”. Rasionalitas dan daya manajerialnya terhadap pesantren berdampak konstruktif bagi pesantren.

Saya sempat menulis rubrik tetap sekian semester di majalah terbitan Pesantren Tebuireng. Beberapa diskusi dan pelatihan menulis di lingkungan Tebuireng saya dihadirkan sebagai pengisi acara atau moderator. GS melalui seorang “pegawai” di lini penerbitan buku di Pesantren Tebuireng pernah men-jawil saya untuk menerbitkan naskah buku saya — sampai saat ini saya belum bisa mewujudkannya.

Sekitar 10 km rumah saya dari Tebuireng. Banyak kuburan di sekitar Tebuireng selain pekuburan di Pesantren Tebuireng. Sebelum atau setelah ke kuburan saya sering mampir ke beberapa teman di Tebuireng. ” Gimana GS?” demikian sebagian pertanyaan saya dalam obrolan dengan mereka. GS pribadi yang rasional dan terbuka. Usia teman-teman saya di Tebuireng jauh di bawah GS. Setahu saya mereka sering bertemu dan berbincang dengan GS di Ndalem.

Saya tak bertemu GS di acara haul Gus Dur akhir tahun kemarin di Tebuireng. Saya datang terlambat di lokasi acara. Marsilam sedang di podium dan berkisah tentang Gus Dur. saat saya tiba. Saya duduk di kursi undangan barisan bagian belakang. Gus Baha tampak di depan. Saya tak bertahan di lokasi sampai acara selesai. Dalam batin saya pamit kepada Gus Dur yang ada di “belakang” mimbar. Saya undur diri dari barisan kursi undangan. Saya tak tahan lagi untuk segera menjalankan ritual saya: merokok.

Kemarin malam saya membaca buku tentang Mbah Hasyim dari sejumlah penulis. Buku ini berjudul “Pesan Kebangsaan” dan diberi kata pengantar oleh GS yang menurut saya terang dan bagus. Ada beberapa hal tentang buku itu yang sebenarnya bagi saya perlu untuk saya “sowan-kan” ke beliau. Malam ini saya tahu hal itu terlambat sudah.

Penulis: Binhad Nurrohmat, Rejoso Jombang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *