Sejarah Singkat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Rahasia Ilmu Laduni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Ini tentang sejarah singkat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Salah satu ulama besar yang dikenang hidupnya sampai sekarang adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Laku hidup dan keteladanan yang dilukiskan dalam jejak sejarahnya menjadi inspirasi yang tak pernah kering. Karomahnya terus dikenang para murid yang menempuh jalur tasawuf. Karya-karya ilmiahnya menjadi rujukan penting hampir semua kampus Islam seluruh dunia.

Sosok Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pada hari Rabu 18 Maret 1077 / 1 Ramadan di 470 H di selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran. Beliau wafat pada 15 Januari 1166 (umur 88) di Baghdad, Irak.

Nasab Syekh Abdul Qadir Al-Jailani  sampai kepada Rasulullah, baik dari jalur ayah atau ibunya. Sumbernya dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha, melalui ayahnya sepanjang 14 generasi dan melaui ibunya sepanjang 12 generasi.

“Ia adalah seorang Sultan yang agung, yang dikenal sebagial-Ghauts al-A’zham. Ia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu,” kata ulama besar Syekh Sayyid Abdurrahman Jami.

Nasab Jalur Ayah

  1. Syekh Abdul Qodir
  2. Abu Shalih
  3. Abu Abdillah
  4. Yahya az-Zahid
  5. Muhammad
  6. Dawud
  7. Musa
  8. Abdullah Tsani
  9. Musa al-Jaun
  10. Abdul Mahdhi
  11. Hasan al-Mutsanna
  12. Hasan as-Sibthi
  13. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah
  14. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam

Nasab Jalur Ibu

  1. Syekh Abdul Qodir
  2. Ummul Khair Fathimah
  3. Abdullah Sum’i
  4. Abu Jamal
  5. Muhammad
  6. Mahmud
  7. Abul ‘Atha Abdullah
  8. Kamaluddin Isa
  9. Abu Ala’uddin
  10. Ali Ridha
  11. Musa al-Kazhim
  12. Ja’far al-Shadiq
  13. Muhammad al-Baqir
  14. Ali Zainal ‘Abidin
  15. Husain
  16. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra
  17. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam

Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra’ dan juga Abu Sa’ad al Muharrimi. Beliau menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

Dengan kemampuan itu, Abu Sa’ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihat beliau. Banyak pula orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang menimba ilmu di sekolah beliau hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.

Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al Mughni.

Syekh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan ahli zuhud. Ia banyak memiliki keutamaan dan karamah. Imam Ibnu Rajab berkata, “Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah.”

Sepanjang hayatnya, Syekh Abdul Qadir al Jailani  telah melahirkan karya-karya besar sebagai berikut.

1. Tafsir Al Jilani
2. al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
3. Futuhul Ghaib.
4. Al-Fath ar-Rabbani
5. Jala’ al-Khawathir
6. Sirr al-Asrar
7. Asror Al Asror
8. Malfuzhat
9. Khamsata “Asyara Maktuban
10. Ar Rasael
11. Ad Diwaan
12. Sholawat wal Aurod
13. Yawaqitul Hikam
14. Jalaa al khotir
15. Amrul muhkam
16. Usul as Sabaa
17. Mukhtasar ulumuddin

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Syeikh Abdul Qadir juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah. Beliau wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azaj di Baghdad pada 561 H/1166 M.

Demikian sejarah singkat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, semoga bermanfaat. (Amrulah/berbagai sumber)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *