mbah maimoen ngaji

Saya Berada dalam Barisan Mbah Moen Sarang

Posted on

Sebagai seorang santri yang besar di kalangan NU Kultural, saya tidaklah terima atas puisi seorang politisi di luar sana yang secara tidak langsung telah menghina Kyai sepuh NU, Mbah Moen.

Meskipun tidak secara terang-terangan menyebut nama Mbah Moen, namun jika diusut lebih lanjut, puisi tersebut berkesinambungan dengan tragedi salah sebut nama oleh Mbah Moen dalam doa beliau beberapa waktu lalu. Doa tersebut sudah diralat oleh beliau, tetap saja videonya disebar luaskan dengan narasi yang sangat tidak sopan. Pasalnya, munculnya puisi tersebut tepat setelah viral video Mbah Moen. Lalu siapa lagi yang disebut ‘kau’ sebagai makelar doa dalam puisi politisi yang saya ogah menyebut namanya itu kalau bukan Mbah Moen?

Politisi Tak Punya Tata krama

Tak terhitung berapa kali dia membuat masalah di negeri ini. Muak saya membacanya. Mulai dari hoax tentang Jokowi, Hoax Ratna Sarumpaet, dan sekarang mulai berani mengusik NU dengan mengatakan Mbah Moen sebagai makelar doa. Sangat tidak etis, bukankah dia seorang muslim? dan bukankah dalam Islam kita diperintahkan untuk menghargai dan menghormati orang yang lebih tua. Bahkan selain lebih tua, Mbah Moen adalah seorang Alim Ulama. Tak beradab sekali apa yang dilakukannya itu kepada Mbah Moen.

Tindakan politisi busuk –sangat busuk– ini tak hanya sekali dilontarkan kepada Kyai NU. Hampir setiap hari, dengan cara yang beraneka ragam. Membuat kami sebagai santri NU terlalu muak. Proses hukum saja tak akan kemudian menyelesaikan segalanya. Sebab mereka seringkali berorasi di muka umum. Membuat orang yang mendengarnya turut serta menyerang NU. Tak bisa hal ini dibiarkan terus menerus. Sebab yang dikatakannya adalah dusta, semuanya dusta. Hanya sebagai alat pemusnah dan penghancur NU. Jadi tak boleh dibiarkan, harus dilawan!

Baca Juga >  Setrum Kiai: Kenikmatan Surgawi di Dunia

Hari ini, saya masih menunggu klarifikasi resmi dari politisi tak punya tata krama itu. Jika memang puisi nya bukan ditujukan untuk Mbah Moen, lalu mengapa enggan memberikan komentar jelas untuk siapa ‘kau’ di sana. Harus jelas puisi itu ditujukan kepada siapa dan mengapa. Supaya kami santri NU yang membacanya tak kemudian salah paham.

Tolonglah, kalian boleh menghina kami sepuasmu. Namun jaga mulut dan jarimu untuk Kyai kami. Mbah Moen adalah salah satu alasan NKRI masih damai seperti saat ini. Jadi tolong, sebisa mungkin hargai beliau, cintai beliau sebagaimana kalian menghargai dan mencintai orang tuamu sendiri, meskipun seringkali berbeda pendapat.

Sehat selalu, Mbah Moen
Saya Bersama Mbah Moen
Kamis, 7 Februari 2019.

Penulis: Vinanda Febriani.