Santri Canberra Ini Mengenang Kyai Syuhud Muhson Cilacap

kh syuhud

Sangat terkejut, tiba-tiba di banyak group WhatsApp yang aku ikuti, terbaca berita duka di susul ucapan-ucapan belasungkawa dan doa atas wafatnya guru kami, KH. Suhud Muhson, Lc, MH, pimpinan Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap.

Meskipun aku tahu bahwa beliau memang sedang menjalani perawatan di rumah sakit, tapi tetap saja sangat terkejut, dan sangat berduka.

Innalillahi wainna ilaihi roji’un….

Berbagai ingatan tentang kebaikan dan jasa beliau mendadak melintas silih berganti, dan sungguh aku telah banyak berhutang budi. Lewat catatan ini, disertai derai air mata, aku ingin menuangkan rasa duka dan terima kasihku pada beliau.

Pertama kali aku mendengar nama beliau adalah saat ada peringatan Maulid Nabi di sekolahku, MTs Nailul Anwar, sekitar tahun 1993. Saat itu, aku menjadi pembawa acara dan ketika tiba saatnya ceramah aku menyebut:

Acara selanjutnya, mauidzoh hasanah. Kepada Al Mukarrom Bapak Kyai Haji Suhud Muhson disilakan…

Setelah ceramah berlangsung, aku baru tahu bahwa penceramahnya bukanlah Pak Suhud. Beliau berhalangan hadir sehingga digantikan oleh kyai lain. Karena kesalahan itulah aku selalu ingat nama beliau, hingga dua tahun kemudian aku benar-benar berkesempatan melihat beliau secara langsung, yakni saat aku menjadi siswa baru di Madrasah Aliyah MINAT, Juli 1995. Pada waktu itu, beliau merupakan kepala madrasah kami. Selanjutnya, aku sering berada dalam satu majelis karena beliau mengajar Tarikh Tasyri’ (Sejarah Perundang-undangan dalam Islam) di kelasku. Menariknya, selain mengajarkan materi dari kitab kuning, beliau selalu memberi nasehat yang sangat memotivasi kami, khususnya aku.

“Santri harus punya cita-cita yang tinggi, santri, termasuk santri putri, bisa jadi apa saja, bisa jadi bu camat, bisa jadi bupati, gubernur, menteri bahkan presiden. Belajarlah yang sungguh-sungguh, man jadda wajada, barangsiapa bersungguh-sungguh, niscaya akan berhasil. Kelak harus ada dokter alumnus pondok pesantren, harus ada yang jadi insinyur, ilmuwan, duta besar, harus ada pula yang jadi nyai pemimpin pesantren, jadi ahli tafsir, ahli hadis, ahli fiqih, kalianlah orangnya”

Buatku nasehat itu sungguh luar biasa, karena diucapkan oleh seorang kyai. Setahuku waktu itu, biasanya kyai lebih mendorong santri putri untuk jadi istri solihah saja, tidak perlu ingin jadi macam-macam, apalagi jadi ilmuwan dan pejabat publik. Karena sangat spektakuler itulah aku masih ingat sampai sekarang. Yang juga sangat spektakuler buatku adalah, ketika menerima raport catur wulan pertama di kelas 1, aku mendapat kado dari beliau, yaitu surat penghargaan sekaligus pembebasan biaya sekolah karena aku mendapatkan nilai tertinggi. Aku sangat mensyukuri kebijaksanaan beliau yang sungguh sangat meringankan orang tuaku.

Suatu saat, sekitar tahun 96-97, kami mendapat kabar bahwa beliau melakukan kunjungan kerja ke negeri sakura untuk beberapa minggu. Bagi kami, kabar ini sungguh suatu kemewahan yang langka sehingga jadi topik pembicaraan. Aku sungguh menunggu oleh-oleh cerita beliau dari sana. Dan benarlah, dalam sebuah kesempatan, beliau bercerita tentang pengalamannya di sana, ditambah nasehat yang sangat menggugah:

“Para santri, dunia ini sangat luas. Bercita-citalah kalian agar bisa keliling dunia. Jangan puas hanya tahu Gandrung-Kesugian, Kawunganten-Kesugihan, Cilacap-Kesugihan, jangan seperti katak dalam tempurung. Kalian bisa ke Jepang untuk belajar teknologi, agar bisa melihat ada mesin yang bisa menanam padi sendiri, ada mesin yang bisa menebang pohon, dan kalian bisa membuat mesin lain yang tak kalah hebat. Kalian juga bisa ke Mesir untuk belajar agama, melihat jasad Fir’aun, bisa ke Eropa, Amerika, Australia, ke China, belajarlah ke mana saja, carilah ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya”

Nasehat itu sangat lekat meresap dalam kalbuku, terngiang-ngiang terus sebagai motivasi untuk terus belajar dan menjelah dunia. Maka, sekarang ketika aku sedang di Canberra, dan selama setahun terakhir sudah mengunjungi dan menimba ilmu di lima universitas terbaik di Australia tidak lain tidak bukan merupakan barokah nasehat dan doa beliau yang tulus ikhlas.
Setamat Aliyah, setelah berhenti satu tahun, aku melanjutkan pendidikanku ke Institut Agama Islam Imam Ghozali.

Di kampus ini, beliau lagi-lagi menjadi guruku, kali ini sebagai dekan fakultas syariah, yang dua tahun kemudian meningkat menjadi rektor sampai aku lulus. Maka, tanda tangan beliau di ijazahku menjadi kenang-kenangan paling indah yang masih kusimpan. Dalam suatu kesempatan, beliau menyampaikan ceramah,, dan salah satu petikan yang masih kuingat adalah:

“Di masa depan, agama akan sangat dibutuhkan oleh manusia karena hidup di alam modern yang keras dan penuh persaingan akan membuat manusia rindu pada Tuhannya, rindu petunjuk kebenaran, di saat itulah sarjana Islam akan sangat dicari sebagai sumber rujukan masyarakat”

Lagi-lagi aku mendapat limpahan barokah doa beliau. Sudah cukup lama, termasuk tadi siang, sangat sering ada orang menyampaikan aneka rupa permasalahan padaku, mulai dari masalah ibadah, keluarga, pekerjaan, budaya sampai politik dan minta referensi pendapat dari sudut pandang agama. Berpijak pada nasehat beliau itulah aku berkomitmen untuk selalu beringan hati membagi pengetahuan, semampu mungkin. Sama sekali bukan untuk pamer, tapi untuk memberikan bakti pada masyarakat, untuk berterima kasih pada para guru atas ilmu, nasehat dan doa-doanya.

Terakhir sowan beliau, pada Idul Fitri lalu, bersama suami. Begitu masuk ruang tamu, beliau menyapa ramah sambil bertanya, “Kondur kapan?” (Pulang kapan)

Aku sampai malu, karena beliau menggunakan kata “kondur” untukku, muridnya yang tidak tahu apa-apa. Kami bertiga kemudian mengobrol panjang tentang pengalaman menjalani Ramadhan secara berjauhan alias LDR. Secara kebetulan Ramadhan kemarin itu, aku dan suami berjauhan karena aku sedang menjalankan program PIES di Canberra, sedangkan istri beliau sedang berada di Adelaide untuk sebuah program short course, sama-sama Australia, bedanya aku mendapat libur lebaran, sedangkan Bu Nyai tidak.

Ya, itulah salah satu sisi keren beliau yang sangat menginspirasi. Beliau mendorong santri putri dan mahasiswinya untuk maju, bukan hanya berupa kata-kata, melainkan beliau sendiri membuktikan secara nyata dengan mengijinkan Bu Nyai menjadi aktivis perempuan di berbagai organisasi, baik tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Beliau juga menyetujui Bu Nyai belajar di luar negeri, dengan konsekwensi menjalani Ramadhan dan Idul Fitri tanpa istri. Sungguh hanya kyai super progresif yang dapat melakukannya.

“Selama ditinggal aku masak sendiri, ada santri yang membantu tapi aku tidak cocok dengan masakannya, jadi mereka masak buat mereka, aku masak buat sendiri”

Terima kasih yang tak terhingga atas semuanya Pak Suhud…

Ilmunya, nasehatnya, inspirasinya, teladannya, dan doa-doanya.
Selamat jalan menghadap Ilahi Robbana Allah Yang Maha Memiliki.

Kasih sayang dan ampunan-Nya semoga senantiasa terlimpah kepada Bapak selama-lamanya.
Saya dan seluruh santri, mahasiswa, alumni dan masyarakat luas mendoakan Bapak dan bersaksi bahwa Bapak adalah orang yang sangat baik.

Bu Nyai Hanifah Muyassarah, salam takzim dan takziah dari jauh, turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.
Semoga Allah memberikan bimbingan dan pertolongan untuk segera pulih dari rasa kehilangan.

Penulis: Zulfa Nh
Canberra, 6 Desember 2018.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *