RMI PWNU DIY Gelar Forum Damparan untuk Pimpinan Ponpes NU.
Yogyakarta, Bangkitmedia.com – Sebanyak 210 pimpinan pondok pesantren Nahdlatul Ulama di Yogyakarta mengikuti Damparan, sebuah Forum Silaturahmi Kiai dan Ibu Nyai Se-DIY yang diadakan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY (RMI PWNU DIY).
Acara berlangsung pada Jum’at, 9 September 2022 di Auditorium Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Menara Al Musthofa Universitas Alma Ata Yogyakarta untuk merespon berbagai problematika yang ada di sekitar lingkungan pesantren.
Peresmian Damparan RMI sendiri diwakili oleh beberapa pimpinan pondok pesantren seperti KH Jirjis Ali, Ny. Hj. Durroh Nafisah Ali, Prof. dr. KH. Hamam Hadi, M.S.Sc.D., K.H.Hamid Abdul Qodir, Dr. KH. Hilmy Muhammad, Dr. KH. Mu’tasim Billah, dan KH. Nilzam Yahya, M.Ag.
Acara ini dimoderatori oleh KH. Khoiron Marzuqi dan dipantik oleh Drs. KH. Ahmad Kharis Masduqi serta Dr. KH. Hilmy Muhammad.
KH. Nilzam Yahya selaku Ketua RMI PWNU DIY menyampaikan dalam sambutannya bahwa melalui forum ini, seluruh pimpinan pondok pesantren se-DIY dapat mempererat tali silaturahim dan juga merealisasikan banyak agenda termasuk mengikhtiyarkan pesantren ramah anak dan perempuan.
“Melalui forum ini, seluruh pesantren se-DIY tidak hanya dapat bermusyawarah di level kebijakan pesantren, tetapi juga dapat bermusyawarah di level implementasi kebijakan melalui forum komunikasi lurah pondok se-DIY yang dibentuk RMI PWNU DIY di Pondok Pesantren Krapyak pada bulan Agustus yang lalu,” tegas Kiai Nilzam.
Mengamini sambutan dari KH. Nilzam Yahya, Prof. Dr. Hamam Hadi selaku tuan rumah yakni Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta juga menyampaikan bahwa Alma Ata mendukung program-program yang diadakan oleh Nahdlatul Ulama khususnya RMI sebagai bentuk khidmah dan juga meneruskan tongkat perjuangan dari KH. Hasyim Asy’ari.
“Baik dalam bentuk pemberdayaan seperti pelatihan peningkatan kapasitas kepala sekolah, pemberangkatan asistensi mengajar, maupun aktivitas lainnya yang bermanfaat bagi kaum muslimin khususnya organisasi-organisasi di bawah NU,” tegas Prof Hamam.
Kiai Khoiron selaku moderator menyampaikan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada forum ini yaitu terkait undang-undang dan kurikulum pesantren, fenomena tempat salat yang kurang memperhatikan tajwid dan lebih mengedepankan lantunan suara yang merdu hingga trend berita-berita terkini seputar pesantren.
“Juga terkait beberapa pondok pesantren secara bertahap telah melakukan empat pembaruan yaitu secara substansi, metodologi, kelembagaan, dan juga fungsi,” kata Kiai Khoiron, pengasuh Pesantren Al-Mumtaz Gunungkidul.
Menurut KH. Dr. Hilmy Muhammad, dengan ikhtiar bersama, seluruh stakeholder pesantren dapat memajukan pesantren termasuk di dalamnya adalah keterlibatan santri.
“Saat ini, selain mempelajari ilmu agama di pondok pesantren, santri juga harus didorong untuk dapat memasuki perguruan tinggi dengan bekal yang tepat melalui pendampingan potensi minat dan bakat yang dimilikinya serta pendidikan etika moral agar kelak dapat menjadi calon pemimpin yang berakhlak dan beradab,” tegas Gus Hilmy, sapaannya, yang juga Katib Syuriah PBNU.
Hal ini pun diamini oleh KH. A. Kharis Masduki diakhir acara bahwa untuk memajukan pesantren dan membentuk santri yang dapat bersaing, maka perlu adanya tindakan keteladanan dengan meniru para kiai terdahulu sebagai role model.
“Role model itu dengan 4 hal, yaitu mendiri, berdaya, berkualitas, dan berbudaya disertai dengan adanya manajemen pesantren yang tepat agar pondok pesantren terjaga eksistensinya dan dapat beradaptasi dengan tuntutan zaman,” pungkas Kiai Kharis, pengasuh Pesantren Darul Qur’an wal Irsyad Gunungkidul.***
Kontributor: Iffia Rahmah.









