gus dur bersama kiai mudjab

Rahasia Politik Dua Kaki Kiai Mudjab Mahalli

Posted on

Salah satu langkah KH. A. Mudjab Mahalli yang cukup kontroversial pada masa Orde Baru adalah masuknya beliau ke jajaran kepengurusan partai penguasa ketika itu, yaitu Golkar. Banyak kalangan tak menyetujui langkah beliau ini, bahkan tak sedikit tak sebatas tidak setuju, akan tetapi bahkan lebih jauh, menunjukkan sikap tidak suka dengan ekspresi yang beragam.

Ketidaksetujuan bahkan hingga sikap tidak suka ini bisa dimaklumi, karena kebanyakan datang dari kalangan yang belum memahami motif sesungguhnya mengapa beliau bersedia mengambil langkah yang cukup kontroversial ini. Hal sebaliknya ditunjukkan oleh kalangan aktivis yang mengetahui persis siapa Kiai Mudjab, mengetahui motivasi di balik masuknya beliau ke dalam jajaran kepengurusan partai beringin ini; mereka justru sangat mendukung bahkan berterima kasih.

Sebagai santri yang, meski sangat sedikit, mengetahui ‘sisi dalam’ Kiai Mudjab, penulis berkesimpulan bahwa sesungguhnya ketika itu beliau sedang menerapkan strategi yang oleh Prof. Paulo Freire diistilahkan sebagai Politik Dua Kaki.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Secara sederhana bisa dijelaskan bahwa politik dua kaki adalah, menaruh kaki kiri di dalam kekuasaan dan menaruh kaki kanan pada posisi rakyat, demi menarik kaki kiri menuju kaki kanan. Itu sebabnya kenapa para aktivis ‘musuh’ rezim Orba, yang sudah familier dengan strategi ini, justru sangat berterima kasih pada Kiai Mudjab karena bersedia menempatkan diri di posisi yang sangat beresiko dan tak sembarang orang mampu melakoninya.

Kiai Mudjab secara formal menjadi pengurus Golkar adalah fakta. Akan tetapi di sisi lain beliau mampu bermain sedemikian rupa selama bertahun-tahun, di mana dengan statusnya sebagai pengurus partai penguasa, pada saat yang bersamaan beliau sukses menjadikan pesantren Al-Mahalli sebagai wahana konsolidasi para aktivis secara leluasa, tanpa khawatir dimata-matai apalagi dicokok oleh rezim otoriter yang sedang berkuasa.

Baca Juga >  Subhanallah... Saya Saksikan Ingatan Gus Dur Memang Luar Biasa

Demikian halnya dengan organisasi-organisasi kemahasisiwaan dari tingkat daerah hingga pusat, tak terhitung berapa kali menginap beberapa malam demi mengadakan pelatihan kader dan konsolidasi di Pesantren Al-Mahalli dengan sedemikian leluasanya, bukan saja PMII akan tetapi juga HMI.

Oleh karenanya, penulis tidak begitu kaget ketika Gus Dur yang dianggap oleh penguasa orba sebagai musuh bebuyutan, tiba-tiba tampak begitu akrab ke mana-mana bersama Mbak Tutut, yakni pada tahun-tahun terakhir menjelang berakhirnya kekuasaan rezim Orba. Masih terngiang dalam ingatan ketika Gus Dur, di Aula Madin Al-Mahalli yang disesaki para pentolan aktivis pergerakan ‘di luar’ pemerintah, setelah bercerita panjang lebar seputar hal-ihwal kuburan, beliau mengemukakan adagium Mao Tse Tung: “Apabila musuh mengejar, berhentilah; apabila musuh berhenti, berlarilah!”

Ternyata kemiripan Gus Dur dan Kiai Mudjab tidak saja berhenti pada aspek fisik atau pun selera humor, tetapi juga menjangkau ranah kualitatif.

Penulis: H. A. Choiran Marzuki

Pengurus Yayasa Al-Mahalli

Penulis dan Editor Penerbit Pustaka Pelajar