Rahasia dan Filosofi Bulan Dzul Qo'dah dan Dzul Hijjah

Rahasia Bulan Dzul Qo’dah dan Dzul Hijjah

Posted on

Rahasia Bulan Dzul Qo’dah dan Dzul Hijjah

“Dzul Qa’dah (Orang yang duduk) menuju Dzul Hijjah” (Orang yang tuan rumah hatinya adalah Alloh).  Ini adalah alasan orang Arab menamai bulan ke-11 kalender Hijriyah dengan nama Dzul-Qa’dah, ada 2;

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Pertama, karena di bulan ini semua prajurit berhenti berperang.

Kedua, karena di bulan ini (saat itu selalu jatuh pada bulan Juli) bertepatan dengan puncak musim panas. Orang lebih senang duduk-duduk di rumah daripada keluar beraktifitas.

“Duduk” dalam bahasa Arab bisa “Jalasa” (جلس), bisa juga “Qa’ada” (قعد). Bedanya, “Jalasa” itu duduk setelah berdiri. Atau duduk dalam waktu yang sebentar. Sedanglan “Qa’ada” itu duduk setelah berbaring. Atau duduk dalam waktu yang lebih lama. Maka dari kata ini muncullah kata “Qa’idah” (قاعدة) yang bermakna “Landasan / Kaidah”, seperti Kaidah Bahasa Arab, Kaidah Fiqih, dll.

Duduk itu penting. Semakin kuat duduknya, maka semakin berpeluang dia memiliki “Ke-duduk-an”. Berdzikir dengan sejumlah bilangan umumnya sambil duduk. Maka mayoritas para wali adalah seorang yang kuat duduknya. Membaca dan menulis juga idealnya dilakukan sambil duduk. Maka tidak ada seorangpun ilmuan terkemuka yang tidak kuat duduknya. Bahkan konon, nama “Dukun” itu singkatan dari “Duduk teKun”.

Baca Juga >  Umar Kayam, Priyayi-Isme, dan Isyarat Pohon Roboh

Siapapun yang sukses duduknya, Dzul Qa’dah nya, maka ia naik ke level Dzul Hijjah.

“Hijjah”, bukan “Hajjah”. Karna beda “Hijjun” dengan “Hajjjun” adalah kalau “Hajjun/Hajji” itu sekedar datang ke Baitulloh yang ada di Mekkah untuk melaksanakan serangkaian manasik Haji. Tapi kalau “Hijjun” itu datang menyelami nilai-nilai Baytulloh, menjaga Baytulloh dimanapun dan dalam keadaan apapun. Karena Baytulloh bukan hanya yang ada di Mekkah, tapi juga yang ada di dua jari di bawah susu kiri, namanya Qalbun, Hati.

Maka mereka menamainya dengan “Dzul Hijjah”, bukan “Dzul Hajjah”. Yakni orang yang menjadikan hatinya sebagai Baytulloh, “Rumah Alloh”, tempat di mana Alloh sebagai Shohibul Bayt nya, Tuan Rumahnya, dan bukan sebagai tamu yang sewaktu-waktu datang dan pergi. Juga karena itulah, bulan ini menempati Bulan ke-12, karena kalimat لا اله الا الله, terdiri dari 12 huruf. Sebuah kalimat penegasan, bahwa tidak ada tuhan (di hati dan dimanapun) selain Alloh.

Demikian Rahasia dan Filosofi Bulan Dzul Qo’dah dan Dzul Hijjah, semoga manfaat.

Penulis: Irfan Zidny, Kajian Tasawuf pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.