Profil Singkat Imam Nawawi Damaskus, Sang Pengarang Arbain Nawawi

Profil Singkat Imam Nawawi Damaskus, Sang Pengarang Arbain Nawawi

Posted on

Profil Singkat Imam Nawawi Damaskus, Sang Pengarang Arbain Nawawi.

Profil Singkat Imam Nawawi. Mengingat maulana Imam Nawawi adalah orang yang istimewa dalam perjalanan mazhab imam Syafii hingga hari ini, tergeraklah tangan lemah ini untuk menuliskan oretan kisah hidupnya walaupun alfaqir bukanlah orang yang tepat untuk menuliskannya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Akan tetapi, alfaqir melihat masih sedikit kawula yang menuliskan kisah hidupnya dalam bahasa Indonesia dan mudah untuk dibaca kaum awam. Ahlan dibaca dan dikoreksi. Semoga bermanfaat.

NAMA & NISBAH

Profil Singkat Imam Nawawi. Ia bernama Muhyiddin Abu Zakaria, Yahya bin Syaraf bin Mira bin Hasan bin Husein bin Muhammad bin Jumuah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi asy-Syafii. Ia memiliki kuniah (nama panggilan) Abu Zakaria, walaupun beliau tidak memiliki anak bernama Zakaria (jomblo).

Karena telah menjadi kebiasaan ulama zaman dahulu, jika orang bernama Yahya, ia diberi panggilan Abu Zakaria. Begitupun sebaliknya, orang yang bernama Zakaria, diberi panggilan Abu Yahya. Kebiasaan ini sebagai tayammunan (mengharap berkah baik) dari para nabi.

Begitu juga kebanyakan orang sezamannya memberinya gelar Muhyiddin yang berarti sosok yang menghidupkan agama, pun beliau tidak menyukai gelar tersebut karena sikap tawaduknya (rendah hati), serta beliau menganggap bahwa agama akan selalu hidup, kekal dan tetap tanpa butuh kepada orang yang menghidupkannya kembali.

Beliau dinisbahkan kepada al-Hizami, kakeknya sebagai keluarganya yang pertama kali hijrah dan menetap di Nawa. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa nisbat al-Hizami yang di maksud di sini ialah Sahabat Nabi Hizam Abi Hakim adalah pendapat yang salah.

Selain itu, beliau juga dinisbahkan kepada an-Nawawi, sebuah desa tempat kelahirannya di Huran, Damaskus. Dari ulama terdahulu kita bisa mengambil pelajaran penting, bahwa mereka tidak malu untuk menyertakan nisbah kepada negerinya, bahkan desanya. Ini juga mengajarkan akan pentingnya hubbun wathan (cinta tanah air). Coba lihat, pada hari ini desa kecil tersebut dikenal semua kalangan di penjuru dunia.

KELAHIRAN

Profil Singkat Imam Nawawi. Beliau dilahirkan di desa Nawa, 100 km dari kota Damaskus, antara 10 hari pertengahan bulan Muharam (10-20) tahun 631 H. Riwayat ini paling muktamad yang di riwayatkan oleh muridnya ‘Alauddin Ibnu al-‘Attar dan Syamsuddin as-Sakhawi. Adapun riwayat Jamaluddin al-Isnawi yang dinukil oleh syekh Abdullah asy-Syarqawi yang menyatakan bahwa imam Nawawi lahir pada 10 hari awal Muharam (1-10) adalah pendapat yang lemah.

MASA PERTUMBUHAN

Ketika umur Nawawi kecil memasuki 7 tahun, ia tidur dipangkuan ayahnya pada malam 27 Ramadan. Ia terbangun pada pertengahan malam dan spontan berkata seraya membangunkan ayahnya, “Ayah, sinar apa yang menerangi rumah kita ini?” Semua keluarganya pun terbangun. Anehnya, tiada satupun dari mereka yang melihat sesuatu. Setelah fenomena tersebut, tahulah ayahnya bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar.

Suatu ketika, syekh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi melewati desa Nawa dan melihat imam Nawawi – yang kala itu menginjak umur 10 tahun – dipaksa teman-teman sebayanya untuk bermain bersama mereka. Imam Nawawi pun mencoba lari dari mereka sambil menangis karena paksaan mereka. Setelah lari, imam Nawawi membaca Alquran. Hal ini menyebabkan syekh Yasin menjadi jatuh cinta kepadanya.

Bapaknya bekerja sebagai pedagang yang berjualan di toko yang dibangunnya. Imam Nawawi sudah diajarkan sejak kecil untuk membantu sang ayah di toko, sehingga ia lebih banyak menjaga toko dibandingkan belajar Alquran. pun disela-sela waktu tersebut ayahnya membawakan guru mengajar Alquran yang mendengarkan bacaannya.

Syekh Yasin yang kebetulan melihat kejadian di tempat bermain tadi mendatangi toko tempat ia bejualan sambil belajar Alquran. Ia berkata kepada pengajarnya, “Anak kecil ini sangat diharapkan menjadi seorang yang paling alim di zamannya dan paling zuhud, yang dengannya manusia akan mengambil manfaat darinya.”

Gurunya membalas, “kamu ini peramal, ya?”

“Bukan, hanya saja Allah yang menghendakiku berbicara demikian,” jawab syekh Yasin.

Guru ngajinya lalu melaporkan hal tersebut kepada ayah imam Nawawi. Mendengar penuturan tersebut, ayahnya mulai mefokuskan anaknya untuk belajar dan mendalami Alquran, hingga sebelum baligh, Nawawi kecil telah menghatamkannya.

Belum ada catatan sejarah yang menceritakan secara spesifik kisah imam Nawawi setelah dia hafal Alquran hingga sebelum beliau menuntut ilmu di madrasah Rahawiyah. Dari sini bisa dipetik beberapa kemungkinan. Pertama; imam Nawawi juga belajar kepada syekh Yasin al-Marakisyi. Kedua; beliau turut membantu ayahnya membangun usaha dan dagangannya. Ketiga; bisa jadi beliau belajar kepada guru-guru di desanya plus murajaah sembari membantu ayahnya dalam berdagang hingga menginjak usia 18 tahun, wallahu a’lam.

MENUNTUT ILMU

Profil Singkat Imam Nawawi. Menginjak usia 18 tahun, tepatnya pada tahun 649 H, sang ayah membawa imam Nawawi ke kota Damaskus untuk belajar di madrasah ar-Rawahiyah, tempat dahulu imam Ibnu Shalah, Ibnu al-Bazi, Ibnu az-Zamlakani, dan anak-anak imam as-Subki mengajar.

Madrasah ini disebutkan dalam ad-Daris fi Tarikh al-Madaris terletak di sebelah timur Masjid Ibnu ‘Urwah di Jami’ al-Umawi, utara Heroun, barat ad-Daula’iyah, dan selatan asy-Syarifiyah al-Hanbaliyah. Dibangun oleh Zakiyuddin ibnu Rawahah, seorang tajir yang kaya raya nan dermawan, kira-kira pada tahun 600 Hijriyah. Sekarang madrasah ini menjadi perumahan penduduk dan sudah tidak ada bekasnya.

Sebelum memulai belajar di sana, ia terlebih dahulu salat di masjid agung Damaskus (masjid al-Umawi). Di sana ia bertemu dengan imam masjid kala itu, syekh Jamaluddn Abdul Kafi. Kemudian ia menuju halaqah keilmuan di masjid tersebut, yang diampu oleh mufti Syam kala itu, syekh Tajuddin al-Farazi, dan duduk di sana mendengarkan beberapa jam.

Beliau menyewa sebuah rumah di dekat madrasah tersebut dengan minhah (beasiswa) dari syekh Tajuddin al-Farazi tadi. Ia memilih tinggal di sana mengingat rumah tersebut layak untuk dihuni dan menetap di sana hingga akhir hayatnya.

Dalam masa belajar ini, ia tidak pernah tidur berbaring selama 2 tahun sebagaimana pernyataannya, “selama kurang lebih 2 tahun, aku tidak pernah menaruh lambungku ke bumi. Kekuatan ini ku dapatkan hanya dengan jirayah (roti kasar) dari Madrasah, bukan dari yang lain.”

Imam Badruddin Ibnu Jamaah pernah bertanya kepadanya berkenaan tentang tidurnya. Ia menjawab, “Jika aku benar-benar mengantuk, aku menyandarkan diri ke kitab-kitab sebentar, lalu bangun kembali.”

Ia juga berkata, “aku telah hafal kitab at-Tanbih (karangan Abu Ishaq asy-Syirazi_pent) dalam waktu 4 bulan setengah dan bab ibadah dari al-Muhadzdzab di tahun terakhir.”

Selama belajar, ia sembari mengulang semua pembelajaran yang didapatkan di Madrasah. Ia coba untuk mulai menulis sedikit demi sedikit. Dimulai pertama kali dengan mensyarahkan dan mentashih apa yang ia dapatkan dari para gurunya. Terlebih gurunya syekh Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad Bin Utsman al-Maqdisi ad-Dimasyqi.

Dalam sehari semalam, imam Nawawi menyibukkan waktunya mempelajari 12 mata pelajaran bersama para guru. Adapun pelajaran yang ia kaji dalam satu hari ialah, 2 pelajaran al-Wasith, al-Muhadzdzab, al-Jam’u baina ash-Shahihain, Shahih Muslim, al-Luma’ Ibnu Junni, Islah al-Mantiq, beberapa pelajaran dalam ilmu Tashrif, Ushul Fikih, al-Luma’ imam asy-Syirazi, al-Muntakhab imam Razi, ilmu rijal, dan Ushuluddin.

Selain 12 mata pelajaran, ia juga belajar Shahih Bukhari, Sunan Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, Muwaththa, Musnad imam Ahmad, ad-Darimi, al-Baihaqi, ad-Daraquthni, dan masih banyak lagi.

Beliau juga pernah punya keinginan untuk mempelajari ilmu kedokteran. Ia bercerita, “Pernah terbesit di hatiku untuk mempelajari ilmu kedokteran. Akupun membeli kitab al-Qanun (Ibnu Sina) dan bertekad untuk mempelajarinya. Ternyata hatiku seperti mati. Selama beberapa hari – setelah mempelajarinya – aku tidak mampu untuk menyibukkan diri dengan apapun. Aku berfikir, dari mana datangnya hal ini? Allah memberi jawaban akan hal tersebut bahwa ini disebabkan aku mempelajari ilmu kedokteran. Seketika, ku jual kitab tersebut dan semua hal yang berkaitan dengan ilmu kedokteran. Setelah itu, pikiranku mulai berapi-rapi kembali. Aku kemudian menyibukkan diriku seperti biasanya.”

Suatu ketika selama masa belajar di madrasah Rawahiyah, imam Nawawi sakit. Orang tua, saudara dan keluarga besarnya datang menjenguk serta menginap di kediamannya selama satu malam. Seakan mendapat semangat kembali, ia lalu terbangun dan berkeinginan untuk berzikir dan bertasbih. Ketika sedang asik berzikir, ia melihat orang tua yang rupawan dan enak dipandang sedang berwuduk di kolam. Setelah selesai, ia mendatangi imam Nawawi dan berkata, “Wahai anakku, janganlah kamu berzikir kepada Allah yang dapat mengganggu kenyamanan keluargamu yang sedang tidur.”

Imam Nawawi bertanya, “Siapa anda?” Ia menjawab, “Aku hanya memberi nasehat kepadamu. Tidak perlu bertanya persoalanku.”

Sang imam berpikir bahwasanya orang tua ini adalah iblis. Ia lalu membaca ta’awwudz dan meninggikan suaranya dengan bacaan tasbih. Orang itu pun perpaling dan melarikan diri menuju pintu gerbang Madrasah. Karena kerasnya bunyi tasbih imam Nawawi, keluarganya terbangun. Imam Nawawi lalu membuka pintu gerbang dan memeriksanya. Akan tetapi ia sudah tidak menemukan orang tua tersebut melainkan hanya para santri madrasah yang masih tidur di dalamnya.

Ayahnya bertanya, “Wahai Yahya, ada apa gerangan?”

Ia kemudian menceritakan perihal tersebut kepada keluarganya. Merekapun terkejut. Dan karena hal itu, mereka sekeluarga kemudian bertasbih dan berzikir bersama.

PARA GURU

Tidak absah pernyataan sebagian orang yang mengatakan bahwa imam Ibnu Malik pengarang Alfiyah hanya memiliki satu murid, yaitu imam Nawawi. Begitupun sebaliknya, imam Nawawi hanya memiliki 1 guru, yaitu imam Ibnu Malik. Padahal imam Nawawi memiliki banyak guru, baik dari fikih, hadis, dan 12 fan keilmuan lainnya. Adapun pendapat tersebut termasuk daripada tanda kurangnya membaca kitab sejarah, hingga seolah-olah imam Nawawi hanya memiliki satu guru, walaupun dengan tujuan motivasi.

Baca Juga >  Kiai Aziz Umar Pendiri Pesantren Al-Furqon Sanden Bantul

Imam Nawawi mulazamah fikih dengan gurunya, syekh Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad Bin Utsman al-Maqdisi ad-Dimasyqi. Ia adalah guru pertamanya di madrasah Rawahiyah. Beliau bercerita mengenai gurunya tersebut, “beliau terheran-heran kepadaku manakala ia melihat kesungguhanku, mulazamahku serta tidak adanya diriku berbaur dengan orang lain. Hingganya, beliau benar-benar sangat mencintaiku dan menjadikanku sebagai pengulang pelajaran yang telah diberikannya dalam halaqah keilmuan di khalayak ramai.”

Begitu juga beliau berguru fikih kepada syekh Abu Muhammad Abdurrahman bin Nuh al-Maqdisi, syekh Abu Hafsh Umar bin As’ad ar-Raba’i al-Irbili, syekh Kamaluddin as-Sallar al-Irbili al-Halabi. Dari mereka bertiga ini, sanad Sadah Syafiiyah hingga detik ini tersambung hingga baginda Nabi Saw. Yang sanad tersebut beliau tuturkan dalam kitabnya, Tahdzib al-Asma wa al-Lughat dan dinukil kembali oleh muridnya Ibnu al-‘Attar dalam Tuhfah ath-Thalibin.

Dalam ilmu ushul fikih, beliau bermulazamah kepada syekh Abul Fath Umar bin Bundar at-Taflisi. Darinya, beliau belajar kitab al-Muntakhab imam Razi, al-Mustashfa imam al-Ghazali dan kitab lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Dalam ilmu lughah (bahasa), beliau mengambil dari Fakhruddin al-Maliki dengan belajar kitab al-Luma’ Ibnu Junni, syekh Abul Abbas Ahmad bin Salim al-Mishri dengan kitab Ishlah al-Manthiq Ibnu as-Sikkit dan kitab tentang Tashrif. Dan yang paling banter, beliau belajar kepada Ibnu Malik, pengarang Alfiyah dalam nahwu bernama al-Khulashah yang masyhur dengan sebutan Alfiyah Ibnu Malik. Darinya, ia belajar beberapa kitab karangan gurunya.

Di dalam kitab ‘Atsarat al-Munjid dikatakan bahwa imam Nawawi banyak mengambil faedah dan belajar dengan imam Ibnu Shalah dan Abu Thahir as-Silafi. Ini adalah pernyataan yang salah, karena imam Nawawi tidak mengambil dari mereka berdua, melainkan dari para muridnya.

Dalam ilmu Rijal fikih Hadis, beliau belajar kepada syekh Abu Ishaq Ibrahim bin Isa al-Muradi al-Andalusi kitab Shahih Bukhari dan Muslim, al-Jam’u baina ash-Shahihain imam al-Humaidi. Begitu juga kepada syekh Abul Baqa Khalid bin Yusuf an-Nabulsi kitab al-Kamal fi Asma ar-Rijal karangan al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi.

Adapun guru-gurunya yang lain seperti syekh Abul Farj Abdurrahman bin Abi Umar al-Maqdisi, syekh Ismail bin Ibrahim bin Abui al-Yusr, syekh Ahmad bin Abduddaim, syekh Dhiya bin Tamam al-Hanafi, al-Hafizh Abul Fadhl Muhammad bin Muhammad al-Bakri, syekh Abdul Karim bin Abdushshamad khatib Damaskus, syekh Yahya ash-Shairafi, dan masih banyak lagi yang belum bisa disebutkan satu persatu, mengingat ini hanyalah oretan kecil saja untuk mengenal imam Nawawi.

PERGI HAJI

Pada umurnya menginjak 20 tahun, tepatnya setelah beliau selesai belajar di madrasah Rawahiyah, ia pergi haji untuk pertama kalinya bersama sang ayah pada tahun 651 H. Perjalanan menuju kota suci dimulai dari bulan Rajab. Setelah sampai, mereka mukim di Madinah Munawwarah selama satu bulan setengah.

Ayahnya berkata, “Setelah kami menyelesaikan manasik haji, ia (nawawi) semakin gembor dalam menuntut ilmu, serta semangat dalam menapaki jejak para gurunya dalam beribadah dengan memperbanyak salat, puasa, zuhud, wirai, dan tidak adanya niat untuk menyia-nyiakan waktunya hingga wafat.”

MASA KHIDMAT ILMU

Selama kurang lebih 10 tahun setelah pulang dari haji, beliau menyibukkan diri dengan belajar dan mengulang semua yang telah dipelajarinya. Setelah itu, ia dipinta mengajar di Madrasah al-Iqbaliyah sebagai pengganti syekh Ibnu Khallikan, seorang pakar sejarah pengarang Wafayat al-A’yan ketika mengajar hingga sampai akhir tahun 669 H.

Ia juga meneruskan khidmahnya di madrasah al-Falakiyah, madrasah ar-Rukniyah, dan madrasah Darul Hadits al-Asyrafiyah. Hingga pada tahun 665 H di umurnya yang memasuki 34 tahun, ia diamanahkan menjadi direktur madrasah Darul Hadis al-Asyrafiyah menggantikan syekh Syihabuddin Abu Syamah Abdurrahman bin Ismail al-Maqdisi.

Kesempatan ini beliau gunakan untuk kembali mengulang pembelajarannya sejak dahulu untuk diajarkan kepada generasi setelahnya. Begitu juga menyelesaikan tulisan-tulisannya yang belum rampung. Selama mengajar, beliau tidak pernah sedikitpun mengambil upah dari ilmu yang diajarkannya. baginya ilmu adalah sebuah amanah yang harus diberikan kepada yang berhak tanpa harus meminta upah. Karena upah dari ilmu langsung dari Allah Swt. Inilah keyakinan imam Nawawi.

PARA MURID

Muridnya Ibnu al-‘Attar berkata, “Banyak sekali orang yang belajar kepadanya, baik dari para ulama, al-Hafizh, dan para pembesar.” Di antara murid-muridnya seperti:

– Alauddin Ibnu al-‘Attar, murid terdekat dan khadimnya;
– Shadruddin Ahmad bin Ibrahim ibnu Mush’ab;
– Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar Ibnu an-Naqib;
– Badruddin Muhammad Ibnu Jamaah;
– Syihabuddin al-Muqri ad-Dimasyqi;
– Najmuddin Ibnu al-Khubbaz;
– Syihabuddin Umar bin Katsir, ayah imam Ibnu Katsir, dan masih banyak lagi.

KARANGAN

Imam Nawawi meninggalkan banyak tulisan kepada orang-orang setelahnya, terlebih dalam bidang fikih dan hadis. Mayoritas kitabnya tersebar di pelbagai pelosok dunia, dicetak, dipelajari dan menjadi rujukan umat Islam hingga hari ini. Kitabnya sangatlah banyak jikalau dilihat dari berbagai sumber, baik yang telah rampung maupun masih dalam penulisan, telah dicetak maupun masih berbentuk naskah. Kalaulah bukan karena meninggalnya di usia muda, sudah tentu naskah yang belum terselesaikan membuat daftar karangannya menjadi lebih banyak.

Walaupun yang dicetak hanya 2/3 dari semua karangannya, itu sudah mencukupi untuk menilai seberapa alimnya imam Nawawi. Bahkan jikalaupun beliau hanya memiliki Adapun karangannya seperti:

– Al-Minhaj syarah Shahih Muslim bin al-Hajjaj;
– Al-Mubhimat;
– Riyadhu as-Shalihin;
– Al-Adzkar, atau yang biasa dikenal dengan al-Adzkar an-Nawawiyah;
– Al-Arbain, atau al-Arbain an-Nawawiyah;
– At-Taisir fi Mukhtashar al-Irsyad fi ‘Ulum al-Hadits, yang dalam kitab Kasyfu azh-Zhunnun dinamai dengan at-Taqrib wa at-Tabsyir li Ma’rifah sunan al-Basyir an-Nadzir;
– Al-Irsyad, yang banyak dicetak dengan judul Irsyadu Thullab al-Haqaiq ila Ma’rifah Sunan al-Basyir an-Nadzir;
– At-Tahrir fi Alfazh at-Tanbih;
– Al-‘Umdah fi Tashih at-Tanbih;
– Al-Idhah fi al-Manasik;
– At-Tibyan fi Adab Hamalah Alquran;
– Mukhtar at-Tibyan;
– Al-Fatawa, dengan tertib muridnya Ibnu al-‘Attar;
– Raudhah ath-Thalibin;
– Minhaj ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin;
– Adab al-Fatwa wa al-Mustafti;

Di samping itu, masih ada beberapa karangannya yang belum rampung secara sempurna, baik sudah ada dicetak di maktabah maupun masih berbentuk naskah, seperti:

– Al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab hingga separuh bab Mu’amalah –karena beliau meninggal dunia-, yang selanjutnya disempurnakan oleh imam Subki, kemudian Muhammad Najib al-Muthi’i hingga akhir pembahasan kitab al-Muhadzdzab;

– Syarah at-Tanbih;
– Syarah al-Wasith;
– Syarah Shahih al-Bukhari;
– Syarah Sunan Abu Daud;
– At-Tahdzib al-Asma wa al-Lughah, dan masih banyak lagi.

AKHIR HAYAT

Profil Singkat Imam Nawawi. Jika menilik dari semua kitab yang bercerita tentang imam Nawawi, belum ditemukan kisah yang bercerita tentang ziarahnya ke makam Imam Syafii di Mesir kecuali dari tahkik kitab imam Sakhawi oleh Mahmud Hasan Rabi’. Di sana disebutkan bahwasanya imam Nawawi berkunjung ke Kairo untuk menziarahi imam Syafii di Qarafah Shughra. Ketika telah sampai di depan kubahnya, ia berhenti dan tidak berani melangkah lebih dekat.

“Kenapa tidak masuk?” kata orang yang bersamanya.

“Kalaulah imam Syafii masih hidup, dan aku melihat tenda kediamannya, pasti aku akan berdiri diam hanya dengan melihatnya.” Ia pun kembali ke Damaskus setelah menyelesaikan ziarahnya kepada Sang Imam.

Setelah melalui banyak masa demi berkhidmat kepada umat Islam melalui tulisan dan pembelajarannya, ia berziarah bersama beberapa muridnya ke makam para gurunya yang telah meninggal. Ia membaca sesuatu, berdoa dan menangis.

Beliau tak lupa untuk menziarahi para sahabatnya yang masih hidup, seperti syekh Yusuf al-Fuqa’i, syekh Muhammad al-Ikhmimi, syekh Syamsuddin Ibnu Abi Umar al-Hanbali, dan lainnya. Lalau kemudian menuju Baitul Maqdis dan menziarahi pemakaman nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf dan keluarga nabi Ibrahim yang dimakamkan di sana.

Setelah selesai berziarah, ia sowan ke rumah ayahnya dan keluarganya. Ia pun sakit di kediaman ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya pada malam Rabu, tepatnya sepertiga malam akhir menjelang Subuh, 24 Rajab 676 H di umur 45 tahun, dan dimakamkan pada pagi harinya di Nawa tempat ia dilahirkan disamping makam keluarganya yang lain.

Pemakaman-pun usai. Semua keluarga imam Nawawi berkeinginan untuk membangun dharih (pusara) di atas makamnya dan sepakat akan hal tersebut. Pada malam harinya, saudari besar dari keluarganya bermimpi bertemu imam Nawawi seraya berkata, “Katakan kepada mereka semua untuk tidak membangun sesuatu yang telah mereka sepakati. Karena kalapun mereka tetap melakukannya, bangunan itu akan roboh.”

Saudari tersebut menceritakan perihal mimpinya kepada keluarganya. Akhirnya mereka tidak jadi membangun dan mengganti hal tersebut dengan membangun dinding dari bebatuan di sekeliling makam agar terhindar dari hewan buas.

Cerita ini sangat mirip dengan yang terjadi dengan makam imam Izzuddin bin Abdussalam, yang manakala di renovasi, bangunan tersebut akan roboh kembali.

Makam beliau pada hari ini telah tidak berbentuk seperti dahulu lagi. Disebabkan adanya insiden pengeboman oleh oknum takfiri anti ziarah kala syiria sedang perang. Semoga Allah senantiasa merahmati imam Nawawi.

Ini posisi tepat dimana beliau dimakamkan via google map:

Hay Asyir, 6 Mei 2020

Penulis: Amirul Mukminin, Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

SUMBER PUSTAKA:
– Ad-Daris fi Tarikh al-Madaris, Abdul Qadir an-Nu’aimi;
– Al-Imam an-Nawawi, Abdul Ghani ad-Daqar;
– Khithath asy-Syam, Muhammad Kurd Ali;
– Thabaqat asy-Syafiiyah, Abdullah asy-Syarqawi;
– Thabaqat asy-Syafiiyah, Jamaluddin al-Isnawi;
– Tuhfah ath-Thalibin fi Tarjamah al-Imam an-Nawawi Muhyiddin, Ibnu al-‘Attar;
– Siar A’lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi; dll.

Demikian Profil Singkat Imam Nawawi