Bangkitmedia.com, JAKARTA – Presiden Prabowo mengaku dirinya mempunyai hubungan batin dengan Rais ‘Aam KH Miftachul Akhyar. “Sehari sebelum pelaksanaan Pemilu Februari Tahun lalu satu-satunya tokoh yang saya temui adalah Rais ‘Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. Saya datang untuk minta didoakan dan alhamdulillah sehari kemudian Pemilu berjalan lancar,” katanya.
Hal ini diungkapkan orang nomor satu di Indonesia saat memberi sambutan pada puncak Resepsi Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama, di Istora Senayan, Rabu malam (05/02/2025). Acara dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Wakil Presiden Ke-13 RI Ma’ruf Amin, para duta besar, para Menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta jajaran PBNU antara lain KH Miftahul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Sekretaris Jenderal PBNU Syaifullah Yusuf, para pengurus badan otonom NU serta para pengurus PWNU se-Indonesia.

Kehadiran Kepala Negara disambut hangat oleh para ulama, kiai, santri, dan ribuan warga NU yang memenuhi arena acara dengan nuansa hijau khas organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Dalam sambutannya, Presiden Prabowo juga mengungkapkan rasa terhormat dan bahagianya bisa hadir di tengah keluarga besar NU. Ia mengaku merasakan aura kesejukan, kekeluargaan, dan suasana batin yang penuh perdamaian sejak memasuki aula peringatan Harlah NU.
“Sepertinya setelah hadir di sini saya tambah berani dan saya tambah bertekad untuk tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan kepada saya dan saudara Gibran Rakabuming Raka serta semua anggota koalisi kami,” katanya.
Prabowo mengungkapkan kedekatannya dengan kalangan ulama, yang telah terjalin sejak lama, bahkan sejak ia masih menjadi prajurit. Ia menjelaskan bahwa sebagai tentara, kedekatan dengan ulama adalah sebuah kebutuhan spiritual. “Seorang prajurit itu dari sejak muda dia harus berangkat tugas menghadapi bahaya, menghadapi maut. Dan biasanya orang kalau menghadapi maut ya cari kiai. Jadi saya cari kiai ya dari muda,” tuturnya yang disambut tawa hadirin.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga menyoroti peran penting NU dalam sejarah perjuangan bangsa. Ia mengingatkan bahwa meskipun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dideklarasikan di Jakarta, ujian besar terhadap kemerdekaan itu terjadi di Surabaya dan Jawa Timur, tempat para ulama dan santri berjuang mempertahankan NKRI.
“Dalam pertempuran 10 November, di situlah munculnya para ulama sebagai pejuang, perintis, dan pemimpin dalam membela kemerdekaan Republik Indonesia,” ungkap Presiden.
Selain itu, Presiden Prabowo juga mengapresiasi kiprah NU dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah negara tidak terjadi begitu saja, tetapi harus diusahakan dengan kerja keras, persatuan, dan moderasi.
“Di situ saya kira Nahdlatul Ulama memegang peran yang penting dengan mewakili kelompok mayoritas agama, NU bersama Muhammadiyah, Persis dan lain-lain mewakili kelompok mayoritas tapi dengan moderasi, dengan moderat, dengan kesejukan, dengan saling menghormati dan saling menghargai dan saling melindungi semua umat lain,” ucap Presiden.
“Atas nama pribadi dan atas nama pemerintah Republik Indonesia, sekali lagi selamat kepada NU. NU punya jasa besar terhadap lahirnya bangsa Indonesia,” ujar Presiden Prabowo. (Lutfi)








