jerman

Piala Dunia 2018 dan Rahasia Hidup Pemain Jerman

Posted on

Gibt Niemals Auf, Itu adalah ungkapan bahasa Jerman. Artinya “jangan putus asa”. Ungkapan yang merefleksikan etos-kerja Jerman yang tak kenal menyerah.

Dulu… segera setelah kalah Perang Dunia 2, Jerman lantas berbenah di semua bidang; baik infrastruktur maupun mental. Kekalahan perang tidak lantas membuat Jerman makin terpuruk. Terlalu lama atau bahkan gagal move-on? Nein danke… Mereka pilih bekerja keras untuk segera bangkit.

“Revolusi mental” ala Jerman yang diakui dunia adalah Punklicht (tepat waktu). Ada kutipan (Zitate) Jerman yang sangat mendarah-daging bagi orang-orang Jerman “Mann muss punklicht sein”. Artinya orang harus tepat waktu. Dan ini precisely banget. Merefleksikan disiplin-tinggi ala Jerman yang membawa kemajuan mereka sebagai sebuah bangsa.

Tadi malam Jerman di ujung tanduk. Juara bertahan yang justru kalah mengenaskan di awal laga sepak bola Piala Dunia 2018 melawan Mexico. Di laga ke-2 ketemu Swedia yang harus menang. Niat nyerang justru kebobolan lebih dulu. Ketika akhirnya bisa menyamakan kedudukan, justru bek Boateng di kartu merah. Di sinilah ujian sebenarnya.

Apakah mental Jerman jadi down? Nein danke.. Jerman memilih “Gibt niemals auf”. Tak ada kata menyerah. Dengan 10 pemain. Dengan tekanan harus menang. Dengan waktu 90 menit yang nyaris habis: Jerman terus berjuang. Tak kenal lelah, tak hilang asa….

Baca Juga >  Perasaanku Ketika Menyaksikan Jerman Tersingkir Piala Dunia 2018

Benar kata pepatah romantis “Hasil tak pernah mengkhianati proses”. Perjuangan Jerman akhirnya tidak sia-sia. Posisi di ujung tanduk justru bisa dirubah. Jerman menang. Sebuah happy ending. Sebuah teladan dan pelajaran tentang “tak kenal putus asa”

Tentu Jerman juga bukan bangsa yang sempurna; ada kelemahan-kelemahan mereka juga

Terakhir: sepak bola bukan sekedar olah raga. Bukan pula sekedar pertandingan untuk meraih juara. Sepak bola adalah pendidikan-kehidupan. Dari dan untuk kita semua, kalau kita mau menjadikannya tuntunan, tidak sekedar tontonan…

Danke Deutschland

(Penulis: Dr Suratno, Dosen Universitas Paramadina Jakarta dan Wakil Sekretaris Lakpesdam PBNU. Menyelesaikan studi S3 di Jerman)