kiai ahmad bahiej jogja
Sejarah

Perjalanan Kiai Ahmad Bahiej Jogja di Kampung Jawa Tondano Minahasa

Kiai Haji Doktor Ahmad Bahiej Jogja adalah Wakil Sekretaris PWNU DIY.  Beliau juga Ketua Program Pascasarjana Fak. Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga. Kiai muda ini sangat energik, selalu bergerak memberikan energi pergerakan bagi warga nahdliyyin sampai level ranting. Beliau banyak berbagi kisah. Bukan kisah biasa, tapi kisah inspiratif yang sangat bermanfaat bagi kader NU dan juga bagi peneliti Islam di Indonesia. Berikut ini kisah perjalanan Kiai Ahmad Bahiej di Kampung Jawa Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara:

Ada daya tarik tersendiri ketika saya melewati Kampung Jaton sebelum berziarah ke Kyai Mojo, Ahad 1 April 2018. Berbagai sumber bacaan tentang Kampung Jaton telah kubaca sebelum berangkat ke Manado.

Rute perjalanan kusiapkan: ziarah Kyai Mojo dan mampir ke Kampung Jaton sepulang ziarah, di samping tugas utama menyampaikan kuliah di IAIN Manado di hari berikutnya, Senin 2 April 2018. Beruntung, Ibu Dr. Rosdalina Bukido, selaku Wakil Dekan I Fakultas Syari’ah IAIN Manado, menyediakan tiket keberangkatan di hari Sabtu, 31 Maret 2018. Ada waktu yang cukup untuk nyambung sanad perjuangan. Pantai Bunaken? Menggoda juga, tapi bukan tujuan utama.

Selesai ziarah, bertemu penjaga makam Kyai Mojo, Pak Rebo. Nama yang sangat kental nuansa Jawanya. Dia adalah keturunan ke-5 dari salah seorang dari 63 laki-laki pengikut Kyai Mojo. Para pengikut Kyai Mojo kemudian menikah dengan penduduk lokal (Tondano), beranak-pinak, dan membentuk generasi serta tradisi Jawa di tanah Tondano: Jaton.

Memang tidak ada satu pun rumah model Jawa di Jaton, seperti joglo atau limasan. Rumah model Jawa yang nempel dipermukaan tanah, tidak cocok dengan geografis Tondano. Rumah panggung Minahasa dinilai lebih cocok karena dapat menyelamatkan dari serangan babi. Namun beberapa kata yang dipakai masyarakat Jaton adalah berasal dari bahasa Jawa: sego (nasi), wedang (minuman), ngarep (depan), mburi (belakang), dan lain-lain sebagaimana disampaikan Pak Rebo Sang Penjaga Makam.

Tahun 1829, ketika Kyai Mojo dan para pengikutnya datang, Tondano adalah daerah hutan dan rawa yang bersebelahan dengan Danau Tondano. Tak ada kerajaan di sana. Penguasa adalah mereka yang kuat, disebut dengan hukum tua. Kesaktian, kealiman, dan keahlian Kyai Mojo beserta para pengikutnya dalam mengolah tanah dan hutan, menjadi magnet bagi Kyai Mojo untuk menjadi Mbah Guru di tanah barunya.

Kyai Mojo dan para pengikutnya adalah santri. Di manapun mereka ditempatkan Kolonial, mereka tetap menjalankan misi dakwahnya: Islam kultural.

Islam kultural (Jawa) yang dikembangkan oleh Kyai Mojo dan para pengikutnya sejak tahun 1829, masih bisa dilihat sampai sekarang di Kampung Jaton. Apalagi kemudian diperkuat dengan kehadiran ulama lain seperti KH Husain Maulani (Kuningan Jawa Barat; diasingkan ke Tondano tahun 1842-an) dan KH Ahmad Rifa’i (Kendal Jawa Tengah; diasingkan ke Tondano tahun 1860-an).

Tradisi Islam kultural (Jawa) yang masih dijumpai di Kampung Jaton saat ini antara lain: mitoni (peringatan 7 bulan kehamilan), puputan (memotong rambut bayi di usia 35 hari), tahlilan 7 hari, 40 hari, dst, kenduren, nyadran (doa/tahlil bersama mendoakan leluhur di bulan Sya’ban), ambengan, dan sebagainya.

Cerita Pak Rebo diperkuat dengan pernyataan Pak Junaedi Lababa, Kepala Lingkungan Kampung Jaton. Istrinya yang asli Tempel Sleman Yogyakarta menambah keakraban kami. Tapi, waktu sudah menunjukkan jam 14.00 WITA. Sudah banyak yang diambil sebagai bahan awal. Tradisi lain di Jaton bagaimana? Perkembangan migrasi masyarakat, tradisi masjid, nama orang, alat transportasi, alat rumah tangga, alat olah lahan, dll. Wah, perlu banyak waktu!

Alhasil yang perlu diingat, kedatangan Kyai Mojo dan kyai-kyai penggerak perjuangan lainnya ke Tondano pada tahun 1829. Ini berarti tradisi Islam kultur Jawa seperti tahlilan, nyadran, ambengan, puputan, mitoni, kenduren, dll sudah dipraktekkan di Jawa, sudah pula dilakukan Kyai Mojo sebelum diasingkan ke Tondano.

Jadi…? Mantab sekali Pak Rebo mengakhiri dialog kami: nahnu Nahdliyyun. Wooww…

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement