Masih dalam rangkaian Haul Al-Maghfurlah KH. A. Mudjab Mahalli ke-16 dan Haflah Khatmil Qur’an Pesantren Al-Mahalli, pada Kamis, 20 Juni 2019 kemarin di halaman Pesantren Al-Mahalli dilangsungkan bedah buku Membongkar Keajaiban Perdukunan Para Kiai karya Al-Maghfurlah KH. A. Mudjab Mahalli, dengan menghadirkan dua orang narasumber, yakni KH. M. Jadul Maula, Ketua Lesbumi PBNU dan KH. Kuswaidi Syafiie, pengasuh Pesantren Maulana Rumi.
Bagi sementara kalangan yang telah ter-westernisasi ataupun ter-puritanisasi, judul buku yang dibedah kali tentu tidak lagi up to date; akan tetapi bagi penulis justru menjadi cukup urgen manakala dikontekskan dengan paham kebangsaan yang saat ini menghadapi sejumlah ancaman, di antaranya:
Pertama, maraknya paham Globalisme-universalisme ke dalam dunia pendidikan, yang menolak semua yang bernuansa spiritual dan tradisi.
Kedua, Semakin agresifnya gerakan Neo-Panislamisme yang mengajarkan puritanisme dan gagasan Khilafah yang menolak segala bentuk kebangsaan.
Ketiga, berubahnya sistem pendidikan nasional sehingga hilang watak spiritualitas dan karakter ketimuran, sepenuhnya menjadi pendidikan Westernis yang anti-spiritualitas dan tradisi.
Keempat, bergesernya kurikulum sebagian pesantren di mana wirid, doa, riyazhah, hizib dan kanuragan bukan lagi menjadi bagian yang bersifat primer.
Itu sebabnya acara bedah buku dengan memilih judul Membongkar Keajaiban Perdukunan Para Kiai menjadi sangat penting, sebagai salah satu penanda bagi kalangan pesantren bahwa semestinya disiplin yang satu ini bukan saja dipertahankan, akan tetapi bahkan perlu untuk ditumbuhkembangkan, direaktualisasikan dan direkontekstualisasikan; sehingga fungsinya bukan saja untuk mengatasi problem-problem individual-kasustik, akan tetapi juga menjangkau ruang-lingkup yang lebih besar, yakni demi mempertahankan paham kebangsaan dari berbagai ancaman sebagaimana disebutkan di atas.
Ketika kesadaran demikian telah muncul, maka selanjutnya langkah-langkah konkret dan terukur perlu dilakukan oleh kalangan Pesantren, di antaranya: (1) Kembali menghimpun dan mengamalkan wirid, khizib, manakib dan ilmu kanuragan, (2) Menyelamatkan Khazanah dan Pustaka Pesantren agar tidak ‘dicuri’ oleh musuh-musuh bangsa, dan (3) melakukan prakarsa-prakarsa praktik ijazahan dan ‘gemblengan’ baik untuk kalangan santri maupun masyarakat yang lebih luas.
Apabila upaya-upaya ini dilakukan maka tidak saja pesantren akan kembali pada jati dirinya, akan tetapi secara tidak langsung pesantren juga memegang kunci yang sangat menentukan dalam mempertahankan paham kebangsaan, yang saat ini sedang menghadapi ancaman dari berbagai sisi.
Penulis: H. A. Choiran Marzuki
Pengurus Yayasa Al-Mahalli; Penulis dan Editor Penerbit Pustaka Pelajar.








