Kita sering mendengar, dan bisa jadi sepakat, bahwa Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan orang yang hebat. Namun dia tidak berkembang sendiri, banyak orang yang berjasa, salah satunya sang kakek Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari.
Menjelang Haul ke-15 Gus Dur yang akan berlangsung pada 21 Desember 2024, ada baiknya kita kembali mengingat kisah-kisahnya. Berbicara tentang Gus Dur, banyak orang yang menyimpan cerita tentang Presiden ke-4 Repuplik Indonesia tersebut.
Beberapa tahun lalu, KH Ahmad Bahaudin Nur Salim atau Gus Baha pernah bercerita besarnya peran KH M. Hasyim Asy’ari ada kehebatan Gus Dur. Hal ini bisa dilacak melalui Kitab Asy-Syaikh Hasyim Asy’ari; Wadli’ Lubnat Istiqlali Indunisya (Syekh Hasyim Asy’ari; Penaruh Pondasi Kemerdekaan Indonesia) karya Muhammad Asad Syahab.
Dalam kitab tersebut diceritakan bahwa Kiai Hasyim tidak memaksa seseorang untuk masuk Islam. Pendiri Nahdlatul Ulama itu justru meminta seseorang tersebut untuk mempelajari segala hal tentang Islam. Saat dia sudah yakin, barulah masuk Islam. Konsep tersebut juga terlihat dari sosok Gus Dur, yang tidak memaksa orang dalam beragama.
Pada tahun 1930-an, Kiai Hasyim sering menerima tamu-tamu dari luar negeri, salah satunya yaitu orientalis dari Jerman. Kedatangannya untuk berdiskusi panjang dengan Kiai Hasyim. Lantaran keluasan wawasan dan kemodernan cara berpikir Kiai Hasyim, akhirnya orang Jerman ini masuk Islam tanpa paksaan.
Dalam diskusi, Kiai Hasyim sanggup berbicara lewat logika lawan bicara, lalu memasukkan pemikirannya secara pelan tanpa paksaan. Sehingga lawan bicaranya merasa nyaman. Di samping itu, menurut Gus Baha, berdasarkan kitab di atas juga disebutkan bahwa Kiai Hasyim punya pergaulan yang luas hingga mancanegara. Ini juga ditiru Gus Dur yang punya begitu banyak teman dan sahabat baik di Indonesia maupun di luar negeri.
“Saya ingin bahas Gus Dur dari sisi lain Kehebatan Gus Dur berkaitan erat dengan kakeknya KH M. Hasyim Asy’ari. Setiap kakek pasti mendo’akan keturunannya agar menjadi generasi yang baik (ذريةً طيبة),” katanya, dikutip dari NU Online.
Ketika Kiai Hasyim berada di Mekkah, lanjut Gus Baha, tokoh Pendiri Pesantren Tebuireng inilah yang mengumpulkan para delegasi dari berbagai negara untuk merumuskan konsep bela negara melawan kolonialisme. “Tebuireng adalah tempat perjuangan agama dan bangsa yang sudah mendunia sejak awal berdirinya, sebagaimana kisah Mbah Hasyim yang termaktub dalam kitab ini,” kata Gus Baha.
Secara khusus Gus Baha juga berpesan kepada santri Tebuireng dan Nahdliyin untuk mempelajari kitab karya Asad Syahab ini. Sangat aneh bila ada santri Tebuireng yang tidak paham kepribadian dan semangat juang dari KH Hasyim. Bahkan secara langsung Gus Baha mewaqafkan Kitab Wadli’ Lubnat Istiqlali Indunisya tentang Mbah Hasyim ini kepada santri Tebuireng.
Ia juga mendiskusi hal ini kepada Pengasuh Tebuireng KH Salahuddin Wahid agar kitab karya tokoh Lebanon ini dikaji di Tebuireng secara rutin. “Semoga kitab ini dikaji di sini,” tandasnya.
–
Penulis: Antariksa Bumiswara








