Peluang Generasi Milenial dan Momentum Pertemuan IMF-Bank Dunia 2018

imf bank dunia

Oleh Muhammadun

“Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan.”

Demikian ditegaskan Marcus Tullius Cicero (106-43 SM), yang akrab dipanggil Cicero dalam bukunya “On Divination”. Ia adalah seorang penulis, orator, filsuf, dan negarawan Romawi Kuno. Pernyataan Cicero ini sangat reflektif dan strategis untuk memahami generasi anak jaman sekarang sekaligus tantangan teknologi yang dihadapinya. Mulai bangun tidur sampai menjelang tidur kembali, generasi anak jaman saat ini tak bisa dilepaskan dari teknologi berupa smartphone atau gadget. Dunia generasi milenial sekarang memang berubah, berbeda dengan generasi abad ke-20. Semua harus menerima dan menyikapinya dengan bijak dan cerdas, sehingga tidak kontraproduktif dengan keseharian dunia anak hari ini.

Mereka inilah yang sekarang menjadi generasi milenial, yang hidupnya melimpah ruah kemajuan teknologi tanpa batas. Jumlah generasi milenial ini sekarang mengalami guncangan kuantitas. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Surya Chandra Surapaty (2017), menjelaskan bahwa bonus demografi bisa menjadi bencana jika tidak dipersiapkan dengan baik. Bonus demografi merupakan kondisi ketika usia produktif (15-64 tahun) mendominasi, yakni 50-70 persen dibandingkan usia tidak produktif (14 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas). Indonesia mengalami bonus demografi pada 2012 hingga 2045. Puncaknya diprediksi bakal terjadi pada 2028-2031. Sayangnya, kompetensi masyarakat Indonesia masih rendah. Terlihat pada lama pendidikan rata-rata 7,8 tahun. Artinya mayoritas masyarakat Indonesia tidak lulus SMP.

Dalam konteks inilah, momentum  Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 (2018 IMF-WBG Annual Meetings) sangat tepat menjadi catatan kaum milenial dalam menyusun strategi membangun Indonesia masa depan. Pertemuan yang dihadiri 1500 tokoh dunia ini sangat besar manfaatnya bagi generasi milenial. Selain membangkitkan semangat global, ini juga momentum kaum milenial untuk tampil berkreasi dalam mengembangkan dunia usaha dalam melayani tamu itu. Ini jelas sangat besar manfaatnya.

Dalam konteks jangka panjang, momentum ini sanagt tepat menjawab bonus demografi di Indonesia. Bonus demografi Indonesia menyediakan kondisi ideal untuk meningkatkan produktivitas bangsa menuju kesejahteraan. Namun peluang emas ini tidak akan terjadi secara linier, apalagi datang begitu saja secara taken for granted. Artinya, butuh prasyarat untuk bisa mewujudkannya. Salah satu prasyarat tesebut adalah investasi di bidang pendidikan sumberdaya manusia. Logikanya, bagaimana mungkin produktivitas penduduk muda itu bisa ditingkatkan jika kebanyakan di antara mereka hanya memiliki ijazah SD atau SMP seperti umumnya.

Dunia pendidikan Indonesia kini sedang berhadapan dengan perkembangan baru demografi. Maka kebijakan pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan demografis agar dunia pendidikan sepenuhnya mampu berperan sebagai faktor solusi masalah demografis atau merespon tren demografi kontemporer. Hal yang serta-merta dapat disimak dari bonus demografi adalah penciutan secara agregat jumlah anak usia sekolah. Dengan jumlah anak usia sekolah makin menurun, maka kualitas pendidikan mutlak untuk ditingkatkan.

 

Menjadi Produsen

Peluang generasi milenial di masa depan adalah menjadi produsen. Pertama, memproduksi desain pariwisata yang bisa menjadi tujuan utama warga dunia. Wisata Indonesia sangat potensial, makanya kaum muda milenial harus mendapatkan ruang besar dengan berbagai akses keuangan dan ekonomi yang memadai. Kedua, memproduksi lembaga pendidikan yang diakui internasional. Sudah saatnya kualitas pendidikan Indonesia makin hebat, sehingga bangsa lain akan datang belajar di Indonesia. Di situ, ada potensi potensi ekonomi jangka panjang yang luar biasa.

Ketiga, memproduksi gerakan ekonomi berbasis budaya. Budaya bangsa ini sangat beragam, semuanya mempunyai potensi ekonomi. Disinilah, makanya harus ada gerakan besar yang dilakukan kaum muda. Pertemuan ini sangat tepat untuk memberikan dana dan peluang kaum muda milenial dalam ambil bagian menentukan masa depan bangsa. Bonus demografi Indonesia memang tantangan yang menarik. Untuk itu, langkah besar harus dilakukan bangsa ini.

*Muhammadun, Wirausaha muda di Yogyakarta.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *