Boleh jadi sebutan Sunan Gunung Bromo itu berlebihan. Tapi bagi saya nggak masalah. Bertemu dan menyaksikan sendiri perjuangan mereka benar-benar membuat saya terenyuh. Di zaman kayak gini mereka memilih mengabaikan nasib dirinya demi orang lain. Mungkin inilah jihad zaman now yang sesungguhnya. Siapakah mereka?
Satu di antaranya adalah Ustadz Bahroni. Sudah sekitar 15 tahun ia berjuang di lereng Gunung Bromo dari arah Probolinggo. Mendirikan dan mengelola madrasah diniyah Nurut Tauhid bersama istrinya. Namun ada tiga keresahan yang akhir-akhir ini membuat hati alumni salah satu Pesantren di Pasuruan ini kerap gelisah. Ingin rasanya menyerah dan “turun gunung” mencari penghidupan yang lebih baik.
Pertama, rumahnya sempat dihantam angin kencang sehingga merusak atap rumah sekaligus madrasahnya. Jangan dibayangkan seperti bangunan madrasah pada umumnya. Luasnya hanya sekitar 15 x 6 meter persegi. Ia hanya menempati sepertiganya dan sisanya untuk ruang madrasah seadanya. Di tempat itu, setiap sore ada sekitar 50 anak yang belajar mengaji. Mengenal kalam ilahi dan titah sang Nabi.
Untunglah masyarakat peduli dan bergotong-royong membenahi rumahnya, meskipun tak sebagus sedia kala. Sehingga ia masih bertahan di desa yang jaraknya sekitar 37 kilometer dari Kota Probolinggo dengan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan melewati jalan-jalan terjal menanjak.
Kedua, tak lama dari kejadian itu, sepetak toko kecil yang menjadi lahan maisyah keluarganya terbakar. Hangus. Hancur lebur beserta barang dagangannya. Lagi-lagi masyarakat peduli dan bergotong-royong membenahi. Maka jadilah toko kecil di depan rumahnya.
“Tapi sudah berbulan-bulan kosong. Tutup terus karena nggak ada dagangannya. Nggak punya modal untuk ngisi. Padahal dulu ya lumayan lah untuk nambah-nambah penghasilan,” kata ayah tiga anak ini.
Ketiga, meski sudah 15 tahun berada di sana, sesekali ia masih tergoda untuk menyerah. Apalagi saat kanker alias kantong kering menyerang. Sementara beberapa saudara dan sahabat sesama alumni pesantren yang mengajar di area perkotaan dilihatnya tampak “berlebih”. Sementara ia merasa begini-begini saja.
Satu di antara teman itu adalah Ustadz Ros***. Ia menyerah setelah dua tahun berjuang di pelosok pegunungan Bromo. Dengan berat hati lulusan salah satu pesantren di Kediri ini angkat kaki dari daerah yang dihuni warga Suku Tengger itu. Padahal kehadirannya benar-benar dibutuhkan untuk mengenalkan kalam-kalam ilahi sekaligus “mengantar” sentuhan hidayah Sang Khaliq untuk warga suku Tengger.
Lagi-lagi urusan ekonomi menjadi cobaan yang berat. Sangat berat. Di satu sisi ia ingin melayani para mualaf atau calon mualaf beserta generasi mereka, namun di sisi lain kebutuhan sandang, pangan, papan tak bisa ditunda. Akhirnya ia pun “melambaikan tangan” dan bekerja di area perkotaan sembari mencari ladang perjuangan yang lebih “ringan”.
Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana ceritanya Ustadz Bahroni bisa sampai sana? Itu semua karena pesan Sang Guru dan keinginan tulus untuk berdakwah. Dakwah yang sesungguhnya seperti Walisongo dulu. Selepas lulus pesantren, beliau meminta Ustadz Bahroni untuk mengajar ngaji di sekitar Gunung Bromo. Bagaimana caranya? Ya diikhtiarkan sendiri semampunya. ”
Saya memang bukan siapa-siapa baginya. Tapi perjumpaan kami semoga ada manfaatnya. Semoga Allah selalu memberi kekuatan dan kemudahan bagi Ustadz Bahroni. Semoga ia tidak sampai mengucap selamat tinggal pada Gunung Bromo dan warga Suku Tengger.
Namun bantuan doa saja mungkin tak cukup. Bantuan modal akan segera kami serahkan agar toko kecilnya kembali bernyawa. Dananya kami ambilkan dari para donatur yang mengamanahkan kepada NU CARE – LAZISNU Jawa Timur. Cukupkah? Tentu makin banyak yang membantu makin baik. Buku, Al-Qur’an, perangkat madrasah, uang bulanan dan sejenisnya pasti sangat bermanfaat bagi perjuangan Ustadz Bahroni dan para koleganya.
Yuk, bergabung. Jangan izinkan Ustadz Bahroni menyerah !
Penulis: A Afif Amrullah, Ketua LAZISNU PWNU Jawa Timur.









