arif maftuhin UIN

Orang yang Tanpa Nalar Tipografis Arab Paling Mudah Ditipu HTI

Salah satu yang menarik dari pembakaran bendera HTI itu adalah mencoloknya perbedaan model keagamaan orang Indonesia. Perbedaan itu salah satunya bekerja dari nalar simbolik kita.

Seperti kita tahu, pemahaman kita tentang sesuatu yang kita lihat sangat dipengaruhi oleh sesuatu yang kita ingat. Misal, kalau lihat mangga muda, kita langsung mengingat rasa asam, kecut, sampai pun mulut kita berair. Semua terjadi karena otak kita merekam informasi dan pengalaman soal mangga muda yang identik dengan asam.

Bagi orang yang suka baca koran, orang akan hafal apakah teks yang ia baca itu Republika, Kompas, atau Jawa Pos. Bahkan seandainya tidak ada logo Kompas dan hanya baca potongan koran bungkus tempe, kita tahu persis ini koran apa. Sebab, otak kita merekam informasi dan pengalaman jenis font apa yang digunakan. Sedangkan otak yang tidak pernah baca koran, tidak akan bisa membedakan tipografi ini. Tidak ada informasi di otaknya.

Bagi Santri, teks Arab itu seperti ‘teks ibu’ (native text). Kalangan Santri generasi simbah saya bahkan hanya tahu teks Arab. Arab Pegon menjadi teks sehari-hari, bukan hanya dalam urusan keagamaan. Kalau kirim surat, simbah saya selalu pakai Arab pegon. Teks pesan yang ditulis bapak saya di kertas wesel (yang mirip kartu pos), juga selalu pakai Arab pegon.

Baca Juga >  Atas Paham Apa Pun, Berpecah-Belah Bertentangan dengan Al Qur’an

Tingkat literasi teks Arab para Santri juga mencapai level tipografi. Kalau nulis makna kitab kuning, ya pakai Riq’i, misalnya. Lucu saja kalau memaknai pakai Tsulutsi atau Diwani. Masing masing font ada penggunaannya.

Maka, demikianlah cara kerja otak santri saat membaca sebuah teks Arab. Ia tahu mana la ilaha illa Allah yang untuk tahlilan, mana yang bendera Saudi, mana yang bendera HTI.

Nalar tipografinya bekerja persis seperti lihat teks koran Tempo atau Jawa Pos.

Saya lihat di media sosial, orang orang yang tanpa Nalar Tipografis Arab inilah yang paling mudah ditipu HTI. Kata teman saya Fuad Mustafid, jika Tuan tidak bisa bedakan teks tauhid dengan teks bendera HTI, Tuan tidak akan bisa membedakan sedang membela Tauhid atau membela HTI.

(Penulis: Arif Maftuhin, UIN Sunan Kalijaga)