Ngaji Burdah 22, Hati-hatilah dengan Tipuan

Posted on

Oleh: Kiai Kuswaidi Syafi’i, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Sewon Bantul.

واخش الدسائس من جوع ومن شبع
فرب مخمصة شر من التخم

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Hati-hatilah engkau terhadap berbagai tipuan yang menyembul dari lapar dan kenyang. Betapa sering sangat lapar itu lebih buruk ketimbang kenyang yang terlalu.

Baik lapar maupun kenyang sama-sama dimungkinkan menimbulkan efek yang tidak produktif dalam proses spiritualitas seseorang. Bahkan bisa saja tidak hanya menghambat, tapi sepenuhnya malah menjerumuskan rohaninya.

Lapar yang mencekam bisa menjadikan orang gelisah dan tidak konsentrasi. Menjadikan orang tidak tentram dan tidak jernih pikirannya. Sehingga menghadap Allah Ta’ala dalam kondisi yang tidak mengenakkan itu, akan menjadikan orang tidak bisa fokus dan bahkan blingsatan.

Sedang kenyang yang melebihi kapasitas yang semestinya bisa menjadikan seseorang tidak energik dalam beribadah, bisa menjadikannya terserang oleh kantuk sehingga tidak bisa nyalang hatinya untuk tergetar dan merasakan kemahaan hadiratNya.

Baca Juga >  Yang Kuat Jangan Diberi Kemudahan, Yang Lemah Jangan Dipersulit

Dalam konteks pemahaman yang lebih luas, lapar itu bisa dipahami sebagai simbol dari kemiskinan yang menyebabkan seseorang senantiasa dalam keadaan sedih dan tidak tentram. Termasuk juga ketika menjalankan ibadah-ibadah sebagaimana semestinya. Atau malah bisa lebih parah lagi. Yakni meninggalkan ibadah itu sepenuhnya semata karena didera oleh kemiskinan.

Sedang kenyang bisa juga dipahami sebagai lambang kekayaan yang bisa menjadikan seseorang mabuk kepayang dengan segala harta benda yang dimilikinya sehingga dia malas-malasan atau bahkan malah tidak berhasrat sama sekali untuk melakukan perjalanan rohani dengan cara sungguh-sungguh dan penuh ketulusan dalam beribadah kepada hadiratNya.

Dan di antara dua tepi yang sama-sama berbahaya itu, lapar atau kemiskinan seringkali jauh lebih mengerikan akibatnya dibandingkan kenyang atau kekayaan.