Bendera Merah Putih

Narasi Kemerdekaan dalam Sebaris Puisi

Posted on

Oleh: Salman Rusydie Anwar

Hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tak selalu disambut dengan denyar semangat kegembiraan. Ada narasi-narasi bernada murung di balik artikulasi yang disampaikan setiap orang ketika mengungkapkan makna
kemerdekaan. Salah satunya seperti yang disuarakan oleh beberapa penyair yang bergiat di komunitas Lisong (Lingkar Sastra Gombong) Kebumen.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Lisong sendiri merupakan sebuah komunitas sastra berbasis media sosial. Komunitas ini saling berbagi karya dalam aplikasi whatsapp group dan juga kerap mengadakan pentas sastra di Rumah Budaya Martha Tilaar. Pada bulan Agustus ini, Lisong secara khusus mengangkat tema seputar HUT RI ke-74 yang harus ditulis dalam bentuk karya berupa puisi.

Mencermati beberapa puisi tentang kemerdekaan yang ditulis oleh penyair-penyair Lisong, penulis merasakan, bahwa dalam arti yang sesungguhnya kemerdekaan masih menjadi bias-bias imaji. Ia (kemerdekaan) ada sebagai fakta, tapi sekaligus terlepas dari yang diimpikan banyak orang. Anom T dalam salah satu bait puisinya menyebut bahwa negara masih mengeja wujud merdeka.

Secara tidak langsung, Anom T menempatkan ‘kemerdekaan’ sebagai kenyataan yang tidak utuh. Kita merdeka tapi juga terbelenggu sehingga rumusan-rumusan tentang kemerdekaan dan berikut manfaatnya belum sepenuhnya
dirasakan banyak orang.

Kemerdekaan atau menjadi bangsa yang benar-benar merdeka memang tidak mudah. Basukine, seorang penyair yang kini tinggal di Jepang menyebut bahwa menjadi bangsa merdeka bukan (persoalan) gratis. Karenanya,
mewujudkan kemerdekaan memerlukan perjuangan yang akan selalu menagih cucuran keringat, darah dan air mata.

Bila demikian, lalu apa arti memperingati kemerdekaan kalau manfaat dari kemerdekaan itu sendiri pada akhirnya bukan untuk kepentingan bersama. Kenyataan ini seperti menguar dalam pertanyaan Yusron dalam bait puisinya,
mengapa merdeka bangsaku belum berbagi? Dalam pandangan Yusron, kemerdekaan seharusnya menjadi momentum di mana negara berkewajiban memberi akses kebaikan seluas-luasnya secara merata kepada warganya sebagai bukti bahwa ia benar-benar bangsa merdeka.

Ketiga penyair dalam sebagian bait puisinya yang penulis kutipkan di atas nampaknya secara aklamatif memandang kemerdekaan sebagai sesuatu yang problematis. Satu sisi kemerdekaan ada sebagai peristiwa yang perlu dirayakan.
Tapi di sisi lain, kemerdekaan masih merupakan realitas yang masih menyimpan kehampaan juga mimpi buruk masa depan.

Apa sebabnya? Dalam konteks ini, ucapan Nabi Saw sesaat setelah kembali dari peristiwa Perang Badar masih relevan direnungkan, “Kita baru kembali dari sebuah peperangan kecil menuju peperangan yang lebih besar.” Dalam sejarah Islam, Perang Badar adalah satu-satunya perang yang begitu heroik. Dalam peperangan itu, pasukan Muslim yang berjumlah 313 orang harus berhadapan dengan sekitar 1000 pasukan kafir Quraisy.

Baca Juga >  Puisi Joni Ariadinata: Rajah Mustofa

Dengan kalkulasi jumlah pasukan yang sangat tidak imbang seperti itu, para ahli militer pasti dengan mudah menebak bahwa pasukan kafir Quraisy itulah yang akan memenangkan pertempuran. Tetapi faktanya tidaklah demikian.

Terlepas bahwa dalam pertempuran itu ada bantuan Tuhan yang diturunkan secara langsung berkat doa Nabi Saw, namun sejarah melukiskan akan semangat keyakinan dan keberanian tentara Muslim di Perang Badar. Mungkin peristiwa inilah salah satunya yang menginspirasi Mao Zedong mengeluarkan pernyataannya, “Di medan perang yang sesungguhnya, ilmu dan strategi bertempur tak banyak berpengaruh. Sebaliknya, yang terpenting adalah keyakinan dan keberanian.”

Lalu perang apakah yang menurut Nabi Saw jauh lebih besar dari Perang Badar? Itulah jihádu al-nafsi, atau perang melawan hawa nafsu. Peperangan ini dikatakan jauh lebih besar karena kejadiannya berlangsung setiap saat. Urusannya bukan soal kalah menang, melainkan pertaruhan nama apakah kemudian kita tetap layak dikatakan sebagai manusia atau justru jatuh ke titik terendah melebihi binatang. Uláika kal an’ámi bal hum adhal.

Membaca narasi-narasi kemerdekaan yang bernada murung dari beberapa bait puisi penyair Lisong di atas, bangsa kita sejatinya memang merdeka dari penjajah Belanda. Tetapi dalam kemerdekaan itu, kita justru menemukan
penjajah-penjajah baru bagi negeri ini berupa pejabat-pejabat bermental korup, institusi-institusi tempat bernaungnya para garong kekayaan bangsa, ‘ulama’ abal-abal yang pintar tapi miskin akhlak. Dan juga sangat mungkin penjajah itu adalah diri kita sendiri yang kian gemar merawat sikap egoisme, konservatif dan
intoleran. Semua persoalan itu adalah problem hawa nafsu yang untuk memeranginya kita butuh seluruh tabungan nafas kita.

Bangsa kita memang merdeka dari penjajah Belanda. Tapi nafsu korupsi, nafsu egoisme, nafsu untuk selalu merasa benar sendiri dan intoleransi pada perbedaan adalah wajah-wajah penjajah baru yang akan terus menjadi kritik atas
esensi kemerdekaan yang kita rayakan sekarang ini. Bedil mesiu memang tak lagi menjajah kita, tapi kita sekarang yang menjajah hati (bangsa) kita sendiri. Demikian seru Karan Figo dalam puisinya.

Maka, sebagaimana kemerdekaan adalah hak segala bangsa, mengkritik esensi kemerdekaan, salah satunya lewat sastra, adalah juga hak segala anak bangsa.

Wallahu A’lam.

*Salman Rusydie Anwar, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’arie, Yogyakarta. Ikut (tapi tidak terlalu) aktif dalam beberapa komunitas sastra. Salah satunya komunitas Lisong Kebumen.