Bangkitmedia.com, BANTUL – KH Muslih Nahrowi, pengasuh Pesantren Al Istiqomah Tanuditan Trirenggo, menjelas,perkembangan sejarah NU di Bantul tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Pengajian Ahad Pahing di PCNU Bantul. Beliau mengisahkan bahwa pengajian ini menjadi media utama dakwah NU di Kabupaten Bantul sejak 1955.
“Kajian rutin tafsir Al Ibriz di pengajian Ahad Pahing itu dahulu yang memulai sejak KH Abdul Qodir Munawwir tahun 1955, lalu dilanjutkan KH Ali Maksum– pernah menjadi Rais Aam PBNU. Sepeninggal KH Ali Maksum, Pengajian Ahad Pahing diasuh oleh Kiai Mufid Mas’ud (pendiri PP Pandanaran Sleman Yogyakarta), lalu berlanjut KH Nawawi Abdul Azis (pendiri PP An-Nur Ngrukem), KH Humam Bajuri (pendiri PP Al Imdad), KH Mabarun (pendiri PP Al-Fataa Krajan Bantul), KH Chudori Abdul Azis (pengasuh PP An-Nur Ngrukem), lalu hingga sekarang diampu oleh Kiai Damanhuri dan Kiai Murtadlo,” terang Kiai Muslih.
Kiai Muslih Nahrowi menceritakan bahwa menurut kasepuhan, sejak dahulu perjalanan pengajian Ahad Pahing itu luar biasa. Sejak mulai pertama kali diasuh Kiai Abdul Qodir Munawwir dan Kiai Abdurahman–ayahanda Kiai Mabarun hingga periode sebelum 1970-an.
“Sebelum tahun 1970-an, pengajian Ahad Pahing itu luar biasa –kalau anak-anak sekarang menyebutnya viral. Kenapa viral? Karena seusai jebluk peristiwa PKI, orang-orang desa kalau mau selamat dan tidak dianggap sebagai PKI, ya.. datang di Ahad Pahing-an. Rentang 1965-1970, pengajian Ahad Pahing itu booming sekali. Pengunjungnya luar biasa, ribuan jamaahnya dan dari mana-mana,” terang Kiai Muslih Nahrowi.
Acara yang berlangsung sejak pagi hingga siang itu memang menyajikan tausiah dari beberapa kiai. Seusai KH Muslih Nahrowi, tausiah dilanjutkan oleh KH. Maimun Mabarun.
Meneladani Ulama, Menjaga Tradisi
Sebagai penutup, KH Maimun Mabarun, pengasuh Ponpes Gemahan Bantul, menyampaikan apresiasi kepada PCNU Bantul atas inisiatif menghidupkan kembali Pengajian Ahad Pahing di lokasi induknya.
Beliau menekankan pentingnya takzim dan ‘nderek’ kepada para ulama. Menurutnya, sikap santri sejati adalah mengikuti dawuh (nasehat) kiai, karena di situlah letak keberkahan dan arah hidup yang benar.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat identitas ke-NU-an, melestarikan tradisi, serta mengokohkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah di Kabupaten Bantul. Dengan semangat kebersamaan dan keteladanan dari para ulama, NU Bantul terus berupaya menjadi garda terdepan dalam menjaga ajaran dan budaya Islam yang rahmatan lil ‘alamin. (Markaban Anwar)








