Mudahkanlah Jalan Berislam Orang

Mudahkanlah Jalan Berislam Orang

Posted on

Oleh: Edi AH Iyubenu, Wakil Ketua LTN PWNU DIY

Tiga orang lelaki ahli ibadah yang merasa kualitas ibadahnya paling gagah dahsyat sekolong jagat raya mendatangi Rasul Saw dan bercerita.

Lelaki pertama berkata, “Saya bila malam tak tidur dan beribadah terus.”

Lelaki kedua berkata, “Saya berpuasa terus sepanjang hari.”

Lelaki ketiga berkata, “Saya tidak menikah agar ibadah saya tak terganggu.”

Jangan-jangan, di antara Anda yang belum juga menikah di usia yang sudah matang-pohon-banget dikarenakan bertaklid kepada sosok ketiga ini, ya? Sori, bercanda….

Rasul Saw tersenyum dan berkata, “Akulah ini rasul utusan Allah Swt. Adakah orang yang lebih agung iman dan ibadahnya dibandingku? Tetapi aku bangun malam dan juga tidur; aku puasa di siang hari dan juga tidak; dan aku pun menikah….”

Lalu, dalam riwayat lain dikatakan, Rasul Saw bersabda, “Yassiru wala tu’ashshiru wa basysyiru wala tunaffiru, mudahkanlah dan jangan mempersulit dan gembirakanlah dan jangan ditakutkan (dibuat lari)….

Nampaknya, sebagian kita kini cenderung membalik keadaan ini. Demi mengejar kekafahan Islam, lalu Islam dinarasikan dengan gambaran-gambaran yang sedemikian berat, rumit, pelik, saklek, kaku, ketat, dan pokoknya-mesti begitu rupa –yang tidak begitu rupa dinyatakan salahlah, melencenglah, sesatlah, kafirlah –finalnya: tak sesuai ajaran Allah Swt dan tuntunan Rasulnya Saw.

Dari mana bisa tahu benar begitu dan mengapa pula menjelma begitu beratnya?

Umpama pun keberatan-keberatan yang diterapkan dalam mengarungi jalan syariat Islam, lahiriah dan batiniahnya, dimaksudkan untuk menegakkan kedisiplinan yang tinggi dalam beriman dan bertakwa kepadaNya –yang tentulah ini muasalnya kebaikan—namun seyogianya jalan kemudahan-kemudahan senantiasa dibuka pula. “Dibuka” tentulah tidak kita maksudkan untuk menyepelekan, mengentengkan, mempermainkan, dengan nisbat “melecehkan”. Tidak.

Berislam tentulah tak boleh dengan cara menyepelekan dan bermain-main. Iman sebagai fondasi pertama kita pahami dan yakini bersama merupakan hal yang sangat serius. Musykil ditegakkan dengan nyepelekan. Sebab beriman haruslah taqriran fil qalbi, ikrar hunjam di dalam hati. Mustahil yang begini menisbatkan penyepelean dan permainan.

Yang dimaksud dengan “dibuka” tadi ialah jangan dibikin kaku, beku, saklek, keras, dan berwajah tunggal mutlak. Jangan begitu. Sebab keadaan setiap kita sangat tak sama dalam segala konteksnya. Ini artinya Islam secara alamiah memang menisbatkan keberbedaan, kemudian kemajemukan. Maka keberagaman adalah hal biasa saja, alamiah, sunnatuLlah. Coba cek al-Qur’an, ayat-ayat perihal ini amatlah berlimpah.

Umpama lalu ada orang yang menerapkan standar berislam yang keras pada dirinya dengan melakoni puasa Daud, ya silakan saja. Itu sahih. Tetapi, di detik yang sama, tak elok lah untuk mengatakan bahwa itulah derajat Islam yang kafah, sehingga yang tidak berpuasa Daud dirasa dan dipandang kurang kafah, apalagi divonis lemah iman dan takwanya.

Ada orang yang bisa istiqamah salat jamaah lima waktu di masjid, itu keren. Tetapi janganlah lantas kepada orang-orang lain yang tidak menjalankan hal itu, ditikam vonis bahwa mereka itulah orang-orang yang buruk iman dan takwanya, plus tidak ittiba’ kepada Rasul Saw.

Baca Juga >  Bersama Syekh Prof Ibrahim Mesir: Tugas Utama Guru Mengajarkan Metode Berpikir yang Benar (04-habis)

Seyogianya, kepada diri sendiri, kita memang bertegas-tegas, dengan rambu-rambu ‘ala qadrihi, dalam kadarnya. Yang dimaksud ala qadirihi tentulah bukan bermain-main seenaknya. Mampu mengamalkan selawata 100 kali sehari, itu keren. Bisa 1.000 kali sehari, itu keren lagi, dan seterusnya.

Tetapi, benang merahnya, di detik yang sama, janganlah kekerenan amaliah tersebut lantas memantik penabalan diri sebagai sang kafah, luhung, paling Islam. Dari mana kita tahu amal ibadah kita paling benar, atau diterimaNya, lalu membukakan ridhaNya? Mustahil kita tahu.

Ketidaktahuan ini seyogianya meruahkan semata ketawadhuan rohani diri kepadaNya, dengan mensyukuri karuniaNya hingga membuat kita bisa beribadah dengan tingkat gigih begitu rupa. Ini muaranya tentulah tiada lain semata bertawajuh kepadaNya, memohon kepadaNya agar terus ditetapkanNya dalam agamaNya.

Ke luar diri, seyogianya kita letakkan pemahaman bahwa belum atau tidak gigihnya seseorang lain dalam beribadah, misal ada, merupakan kehendakNya saat ini, yang mungkin saja suatu hari ia lebih saleh dibanding mempengnya diri beribadah kini, sesuai iradahNya. Maka, jangan pernah coba-coba menutup pintu iradah Allah Swt kepada siapa pun –juga diri. Itu bukan hanya sebuah kesombongan bila dipacakkan ke orang lain dan keputusasaan bila dipacakkan kepada diri, tetapi bahkan pembangkangan kepada KemahakuasaaNya. Dan tentulah ini pelanggaran tauhid yang amat serius.

Pemahaman ini akan menghantar kita untuk bertenang hati kepada kamejemukan umat Islam, dalam segala mazhab, aliran, dan amaliahnya. Kita akan mudah sekali untuk mendudukkan mazhab orang sebagai jalan yang diyakini dan diamalkannya, sebagaimana pula kita meletakkan jalan yang kita yakini dan amalkan. Ihwal yang mana yang sahih di mata Allah Swt, siapalah kita untuk sekali saja merasa berhak memutuskannya?

Mudahkanlah saja jalan-jalan berislam dalam kemajemukan tak terbatas untuk menujuNya Swt dan ittiba’ RasulNya Saw. Akan lebih baik bagi kita, sesuai firmanNya, untuk senantiasa mengedepankan fastabiqul khairat dalam kehidupan duniawi ini, hingga lintas SARA.

Sungguh malah dikhawatirkan tatkala kita mulai mendaku, apalagi telah diiringi tudingan, bahwa Islam yang kafah adalah begini, bukan begitu, sesuai anutan kita, tepat di detik yang sama kita telah diperdaya oleh hawa nafsu kita sendiri dan bujuk rayu setan. Hawa nafsu dan setan bila telah bersekutu di dalam diri sangat mampu untuk membingkai kebatilan dengan pesona kebenaran (al-Haq). Ia bisa teryakini sebagai kebenaran yang hakiki, sesuai al-Qur’an dan hadis RasulNya, tetapi pada dasarnya semata kebatilan.

Kita bisa menakar diri melalui dampak yang ditimbulkannya: “Apa pun itu, jika mendampakkan suul akhlak kepada liyan, niscaya itu bukanlah jalan rahmatan lil ‘alamin yang menjadi sifat hakiki Islam dan akhlak karimah Rasul Saw.”

Yogyakarta, 17 Oktober 2019