Tujuh Keistimewaan NKRI Menurut Rektor UIN Sunan Kalijaga

Tujuh Keistimewaan NKRI Menurut Rektor UIN Sunan Kalijaga

Posted on

YOGYAKARTA, BANGKITMEDIA

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D, menyebut NKRI sebagai bentuk negara terbaik yang diberikan Allah untuk umat Islam. Hal tersebut Ia sampaikan dalam pembukaan Lomba Tata Upacara Bendera SLTA tingkat nasional di Gedung Prof. Dr. H.M Amin Abdullah, UIN Sunan Kalijaga, Rabu (16/10/2019).

“Negara Indonesia merupakan negara terbaik yang pernah diberikan oleh Allah SWT kepada umat Islam,” ucap Yudian.

Umat Islam Indonesia, lanjut Yudian, mempunyai 7 prestasi yang tidak dimiliki negara lain. Pertama, ketika awal Indonesia dijajah, agama Islam merupakan pendatang baru. Tetapi ketika sudah merdeka di tahun 1945, Islam sudah menjadi agama terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. “Prestasi ini tidak pernah terjadi di dalam sejarah siapapun,” tegasnya

Prestasi kedua, pada umumnya negara-negara besar Islam hancur menjadi kecil-kecil karena perang I dan II. Contohnya kekhalifahan Turki Utsmani yang pecah dan akhirnya bubar. Negara-negara yang bukan negara Islam juga serupa. Amerika dan Kanada yang besar, tetapi bagian dari Inggris. Rusia yang besar, tetapi dahulunya pecahan dari Uni Soviet.

“Tetapi Indonesia besar (yang) merupakan persatuan dari negara-negara kecil yang terjajah,” lanjutnya.

Ketiga, sejarah mencatat bahwa konsep nasionalisme mencabik-cabik umat Islam di Timur Tengah. Akibat nasionalisme negara Arab terpecah menjadi negara kecil-kecil. Tetapi di Indonesia, nasionalisme mampu mempersatukan. Umat Islam bisa bersatu dengan siapapun, meskipun berbeda ras, suku, agama.

“Keempat, tidak pernah ada dalam sejarah, anak-anak bangsa yang dibiayai oleh penjajah secara masif (dengan tujuan) untuk menjadi antek-antek penjajah, diberi fasilitas, dikirim ke luar negeri. Tapi hanya dalam 25 tahun mereka sudah melawan tuan-tuan mereka (penjajah), dengan sumpah pemuda. Yang beberapa tahun kemudian, merdeka,” tegas profesor bidang Filsafat Hukum Islam ini.

Baca Juga >  Ini Pesan Ketua PBNU KH. Abdul Manan di Konferwil IV PWNU Banten

Prestasi kelima, lanjut Yudian, Indonesia memiliki raja yang ikhlas dan cinta persatuan. Ia menjelaskan, pada masa penjajahan wilayah nusantara masih dikuasai oleh raja-raja. Tetapi mereka dengan rela hati menyerahkan kekuasaannya kepada negara Indonesia, yang saat itu masih dalam tataran nama, belum berbentuk negara.

“Itu kalau Sultan Hamengkubuwono belum mau (menyerahkan kekuasaan), jadi raja seluruh Jawa. Tapi beliau memilih menyerahkan takhta,” tandasnya.

Keenam, Indonesia merupakan satu-satunya negara terjajah yang mampu merdeka di situasi sulit. Saat Perang Dunia II pecah, Indonesia menjadi rebutan Jepang dan Belanda. Jepang yang saat itu masih berkuasa bergabung di Blok Poros melawan Belanda yang berada di Blok Sekutu. Mereka saling berperang dengan teknologi tercanggih di wilayah Indonesia.

“(tetapi) kita bisa merdeka di tengah,” ujar alumni Ponpes Termas, Pacitan itu.

Terakhir, lanjut Yudian, Indonesia terjajah karena tidak punya teknologi militer, tapi kita merdeka juga justru karena tidak punya teknologi militer.

“Sekarang kita punya segala-galanya, maka tugas kita adalah bersyukur, yaitu mengoptimalkan kenikmatan Tuhan berupa Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkas Yudian yang pernah mengenyam pendidikan di Harvard Law School itu. (Iwan Hantoro/rn)

*Penulis adalah Mahasiswa KPI UIN Sunan Kalijaga yang sedang Magang Profesi di Majalah Bangkit dan Bangkitmedia.com