Mimpi Rakyat Punya Pemimpin Adil

pemimpin

KH Damanhuri, Katib Syuriah PCNU Bantul

Manakala rakyat menginginkan pemimpin yang ideal maka hendaknya mulailah pula dengan menjadi rakyat yang ideal. Bukankah Allah swt berfirman:

Bacaan Lainnya

وَكَذَلِكَ نُوَليِّ بَعْضَ الظالِمِيْنَ بَعْضًا بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

_“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang zalim pemimpin atas sebagian lainnya disebabkan apa yang mereka perbuat.”_ (QS. Al-An’aam ayat 129).

Ketahuilah bahwa keberadaan pemimpin yang zhalim adalah hukuman dunia bagi rakyatnya yang juga melakukan kezaliman dengan berbagai maksiat. Maka dari itu Ka’b al-Akhbar mengatakan:

إِنَّ لِكُلِّ زَمَانٍ مَلِكًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى نَحْوِ قُلُوبِ أَهْلِهِ، فَإِذَا أَرَادَ صَلَاحَهُمْ بَعَثَ عَلَيْهِمْ مُصْلِحًا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَتَهُمْ بَعَثَ فِيهِمْ مُتْرَفِيهِمْ

“Sesungguhnya di setiap zaman ada pemimpin yang Allah tunjuk sesuai dengan keadaan hati masyarakatnya. Jika Allah hendak memperbaiki masyarakat ini maka Allah tunjuk pemimpin yang baik. Dan jika Allah hendak membinasakan mereka, Allah tunjuk pemimpin yang zalim.” [Syuabul Iman]

Dan semakna dengan atsar tersebut, dikatakan :
كما تكونون يولى عليكم عمالكم أعمالكم

_“Sebagaimana (perilaku) kalian, maka seperti itulah (perilaku) pemimpin yang akan mengatur kalian. (baik-buruknya) Pemimpin kalian itu sesuai dengan amal kalian.”_ [al-Maqasid al-Hasanah Fima sytahara alal alsinah]

Maka pada hakikatnya pemimpin itu adalah rakyat itu sendiri. Suatu ketika Al-Hasan al-Bashri (21 H – 110 H) mendengar seseorang yang mendoakan celaka kepada pemimpinnya yang dzalim yaitu Hajjaj bin Yusuf As-Tsaqafy (40 H –95 H) yang keji, suka menumpahkan darah. Maka Al-Hasan berkata kepadanya :

لا تفعل إنكم من أنفسكم أتيتم ، إنا نخاف إن عزل الحجاج أو مات أن يستولي عليكم القردة والخنازير

Jangan kau lakukan hal itu, karena kalian ada diberi (pemimpin) sesuai dengan keadaan diri kalian. Aku khawatir jika Hajjaj lengser atau mati maka yang memimpin kalian berikutnya adalah kera dan babi [al-Maqasid al-Hasanah]

Islam tidak memberi ruang untuk *kudeta dan makar* bahkan sekedar mendoakan kejelekan kepada seorang pemimpin. Imam al-Hasan bin Ali al-Barbahari mengatakan:

وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى وإذا سمعت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله

_“Jika Anda melihat ada orang yang mendoakan keburukan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu (aqidahnya menyimpang). Dan jika Anda melihat ada orang yang mendoakan kebaikan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia Ahlus Sunah, insya Allah.”_
[Syarh as-Sunnah]

Tiada jalan keluar melainkan bersabar atas perilaku buruk penguasa sebagaimana hadits utama di atas dan berdoa kebaikan. Fudhail bin Iyadh mengatakan :

لوكان لي دعوة مستجابة ماجعلتهاالا في السلطان

_“Andaikan saya memiliki satu doa yang pasti terkabulkan, tidak akan aku ucapkan kecuali untuk mendoakan kebaikan pemimpin.”_

إذا جعلتها في نفسي لم تعدني وإذا جعلتها في السلطان صلح فصلح بصلاحه العباد والبلاد فأمرنا أن ندعو لهم بالصلاح ولم نؤمر أن ندعو عليهم وإن جاروا وظلموا لأن جورهم وظلمهم على أنفسهم وصلاحهم لأنفسهم وللمسلمين

_“Jika doa itu hanya untuk diriku, tidak akan kembali kepadaku. Namun jika aku panjatkan untuk kebaikan pemimpin, kemudian dia jadi baik, maka masyarakat dan negara akan menjadi baik. Kita diperintahkan untuk mendoakan kebaikan untuk mereka, dan kita tidak diperintahkan untuk mendoakan keburukan bagi mereka, meskipun mereka zalim. Karena kezaliman mereka akan ditanggung mereka sendiri, sementara kebaikan mereka akan kembali untuk mereka dan kaum muslimin.”_
[Fiqhud Da’wah Fi Shahih Imam Bukhari ]

Wallahu A’lam. Semoga Bermanfaat. Amiinn Yaa Robbal ‘Alamin.
والله المستعان وعليه التكلان

Pesantren Nidaul Ummah Bantul, 27-06-2018

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *