Menyikapi Masalah di Balik Harlah PCNU Kota Yogyakarta

BENDERA NU

Masjid Pathok Negoro yang dibangun oleh Kraton Yogya ada banyak: 1) Masjid Gede Kauman, basis Muhammadiyah (MD); 2) Masjid Dongkelan, basis MD; 3) Masjid Babadan, basis MD; 4) Masjid Ploso Kuning, basis NU; 5) Masjid Mlangi, basis NU; 6) Masjid Wonokromo, basis NU.

Mengadakan acara Harlah NU di Masjid basis MD akan jadi masalah. Sebaliknya, mengadakan Milad MD di Masjid Mlangi dan Ploso Kuning juga akan jadi masalah.

Di MD ada kelompok intoleran. Di NU juga ada yang intoleran. NU mengajarkan tasamuh/toleransi. MD mengajarkan tajdid dan paradigma berkemajuan. Tetapi, nyatanya, di NU ada juga pengikut yang intoleran. Di MD pun ada pengikut yang berkemunduran. Oleh karena itu, pintu dialog dan silaturahmi antar MD dan NU harus ditingkatkan, agar ke depan tidak ada lagi ketegangan-ketegangan yang muncul dari ego sektarian.

Perlu juga diingat, bahwa kontestasi antara MD vs NU di Yogya dalam penguasaan Masjid-masjid Pathok Negoro kagungan Dalem Kraton Yogya sudah berlangsung lama, pasca merebaknya gerakan puritanisme di Yogya. Penolakan oknum warga MD Kauman terhadap acara Harlah NU merupakan ekspresi kontestasi yang memiliki akar historis yang panjang.

Belakangan ini, Kraton menginisiasi sterilisasi Masjid-masjid Pathok Negoro dari penguasaan NU maupun MD. Kraton ingin semua Masjid Pathok Negoro netral, namun keinginan itu terkendala oleh fanatisme warga NU dan MD yang ingin tetap menguasai simbol-simbol kultural dan spiritual yang strategis itu.

(Penulis: KH Irwan Masduqi, Pengasuh Pesantren Assalafiyah Mlangi Sleman)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *