Oleh: Prof Muhammad AS Hikam, Menteri Riset Jaman Gus Dur (1999-2001).
DOA MANUSIA TAKABUR. Sifat TAKABUR (arogan, sombong) bukan hanya ditujukan terhadap sesama manusia, tetapi bisa juga ditujukan terhadap Tuhan. Pemilik sikap takabur menganggap dan mengklaim, dirinya sudah demikian hebat sehingga Tuhan pun dianggap semacam “suruhan” yang kalau perlu diancam-ancam.
Maka ketika dia dalam posisi berdoa pun, dia mengingkari fakta bahwa posisi dirinya di hadapan Tuhan adalah pihak yang ASOR. Bukan sebaliknya.
Maka itu walaupun disembunyikan dengan gaya yang sok sedih dan mengharu biru, “doa” si manusia takabbur juga bukan meminta dan memohon, tetapi MEMAKSA. Seakan akan kalau Tuhan tidak memenuhi doanya, maka DIA akan kehilangan pengikut dan penyembahNya!
Padahal, Tuhan TAK MEMERLUKAN persembahan, sesembahan, dan pengikut. Seandainya seisi langit dan jagad raya ini tidak patuh kepadaNya pun, DIA tetap berkuasa atas semuanya dan tak memerlukan dukungan mereka.
Karena pada hakekatnya, manusialah yang memerlukan pertolonganNya. Manusialah yang perlu bantuanNya. Manusialah yang perlu petunjuk dan hidayahNya. Itulah sebabnya ada doa dan MUNAJAT, sebagai ekspressi pengakuan lemahnya manusia di hadapan Tuhan.
Doa yang bernuansa “mengancam” dan “memaksa” Tuhan adalah kesombongan atawa ketakaburan. Ia muncul karena nafsu keserakahan dan menang2an. Perlu dipertanyakan, apakah manusia takabur tsb, walaupun mengaku beragama, apakah beriman dan paham tentang sifat2 Tuhan?
KETAKABURAN membuat manusia menjadi LUPA DARATAN!








